Potensi Menjanjikan Pulau Belakang Padang

Belakang Padang Batam
Pulau Belakang Padang Batam.

Hasan, nelayan di Kelurahan Tanjung Sari, memulai hari ketika gelap belum surut. Ia berangkat menjelang subuh menuju perairan sekitar Pulau Kasu, Teluk Sunti, hingga Pulau Sambu. Hasil tangkapannya beragam—ikan, sotong, udang, hingga siput gonggong yang menjadi kuliner khas Belakang Padang.

“Kalau cuaca bagus hasilnya lumayan,” kata pria 51 tahun itu. “Tapi kalau angin besar, kadang pulang bawa sedikit saja.” Pada musim ikan melimpah, tangkapan diolah menjadi ikan asin dan gonggong kering yang dijual ke restoran atau dibawa ke Batam. Aktivitas ini menjadi usaha rumahan yang dikelola ibu-ibu ketika bapak-bapaknya melaut. Nilai tambah seperti inilah yang memberi ruang baru pada ekonomi setempat.

Apa yang digambarkan Hasan mencerminkan denyut ekonomi Kecamatan Belakang Padang. Kecamatan yang dijuluki Pulau Penawar Rindu ini menjadi beranda Indonesia di jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Meski kecil, wilayah ini memainkan peran penting bagi ekonomi maritim Batam.

Belakang Padang menawarkan gambaran yang jarang muncul dalam peta ekonomi Batam. Wilayah ini bukan sekadar kampung nelayan, tetapi simpul maritim dengan potensi wisata, perikanan, dan usaha kecil yang terus bertumbuh dari kearifan lokal. Infrastruktur yang lebih baik, aktivitas ekonomi yang makin beragam, dan identitas budaya yang kuat menjadikan kecamatan ini salah satu kawasan pesisir yang patut diperhatikan di Kepulauan Riau.

Potensi itu terlihat jelas saat memasuki Belakang Padang. Pelabuhannya kini lebih nyaman, transportasinya terkelola rapi, dan kegiatan ekonomi lebih hidup. Di tengah perubahan itu, kehidupan masyarakat tetap berakar pada laut.

Sektor perikanan sudah lama menjadi tulang punggung Belakang Padang. Data dari SKIPM Batam menunjukkan bahwa ekspor hasil perikanan dari Pelabuhan Laut Belakang Padang mencapai lebih dari 2.000 ton pada 2019 atau sekitar 15 ton per malam, dengan nilai Rp141,83 miliar. Volume itu menurun pada 2020 akibat pandemi, tetapi aktivitas perikanan tetap menjadi fondasi ekonomi lokal. Bahkan dalam waktu-waktu tertentu seperti hari raya dan akhir tahun, permintaan ikan dari Singapura melalui Belakang Padang sangat tinggi. Ikan Dingkis dan kerapu yang sering diburu warga Singapura.

Memandang Singapura juga bisa dari Belakang Padang. Selain berwisata pantai, pelancong bisa menikmati Singapura yang tampak begitu dekat-jaraknya 20 kilometer. Pada malam hari, gemerlap lampu-lampu Negeri Singa itu seperti kota modern di atas lautan, kontras dengan Belakang Padang yang tenang.

Dengan letaknya yang strategis dan kehidupan lokal yang autentik, Pulau Belakang Padang menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati perbatasan Indonesia-Singapura secara langsung dari sisi yang berbeda. Tantangannya mengoptimalkan potensi ekonomi dan wisata.

Mengenal Pulau Penawar Rindu

Belakang Padang
Peserta beradu kecepatan saat mengikuti lomba sampan layar di Dataran Elang laut Pulau Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (17/8/2022). Perlombaan sampan layar tersebut dalam rangka memeriahkan peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan RI. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna

Belakang Padang merupakan satu dari 12 kecamatan di Kota Batam, dibentuk melalui pemekaran pada 2005. Secara geografis, Belakang Padang berada di salah satu jalur pelayaran internasional tersibuk di dunia, perlintasan Selat Malaka dan Selat Singapura. Kecamatan ini terdiri dari enam kelurahan.

Enam kelurahan itu yakni Kasu, Pemping, Pulau Terong, Sekanak Raya, Tanjung Sari, dan Pecong. Pulau-pulau terluarnya—Nipa, Pelamping, dan Batu Berhenti—menjadi titik beranda Indonesia yang paling dekat dengan Singapura, sekitar 12 mil.

Daratannya seluas 68 kilometer persegi didominasi bentang datar dan bukit landai. Kasu menjadi kelurahan terluas, sementara Tanjung Sari menjadi pusat aktivitas ekonomi dan yang paling padat penduduk dengan 26 persen populasi. Populasi Belakang Padang lebih dari 21 ribu jiwa pada 2024.

Belakang Padang memiliki sejarah panjang sebagai gerbang aktivitas perdagangan lintas-batas. Pada 1957, kawasan ini menjadi kelurahan dalam Kecamatan Tanjung Pinang ketika penduduknya sekitar 30 kepala keluarga. Ketergantungan pada Singapura berlangsung cukup lama karena akses dari daratan Riau terbatas. Warga Melayu dan Tionghoa hidup berdampingan, menjual hasil laut dan kebun ke negara tetangga. Interaksi penduduk Melayu dan Tionghoa membentuk karakter sosial yang majemuk hingga saat ini.

Perubahan besar datang setelah pemerintah di era Presiden Soeharto mengembangkan Pulau Sambu sebagai pusat logistik minyak dan Pulau Batam sebagai kawasan perdagangan bebas. Penduduk bertambah cepat, dan aktivitas ekonomi semakin beragam.

Data BPS 2025 menunjukkan ekonomi Belakang Padang lebih ditopang sektor maritim, transportasi air, perdagangan kecil-menengah, dan wisata. Pertanian darat sangat terbatas. Pada 2024 tidak ada produksi biofarmaka, tanaman hias, atau sayuran musiman. Aktivitas yang pernah berjalan pada 2023, seperti panen tomat 1.080 kuintal dan ketimun 540 kuintal, tidak berlanjut pada 2024. Ketergantungan pangan dari Batam dan daerah lain masih kuat.

Selain perikanan, Belakang Padang menjadi destinasi wisata favorit warga Batam. Ia menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari Batam. Jaraknya hanya 15–20 menit dari Pelabuhan Sekupang dengan tiket Rp20.000, tetapi atmosfernya jauh lebih santai dan otentik. Becak motor menunggu wisatawan yang ingin berkeliling kampung lalu menikmati Teh Tarik legendaris di Kopi Ameng. Panorama pulau-pulau kecil, pasir putih, dan siluet gedung-gedung Singapura di kejauhan menambah daya tarik destinasi yang terus berkembang ini.

Wisata budaya menjadi daya tarik lain. Permainan gasing di gelanggang Datuk Setia Amanah sering menarik perhatian wisatawan mancanegara. Event seperti pacu sampan atau Sea Eagle Race juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas lokal. Selain itu, klenteng tua di Tanjung Sari—yang banyak dikunjungi wisatawan Singapura dan Korea—menjadi bukti sejarah akulturasi yang panjang.

Tak salah jika pulau ini diberi nama Pulau Penawar Rindu, yang menurut penuturan turun temurun dari masyarakat, konon katanya, nama ‘Penawar Rindu’ muncul dari kalangan para pendekar pantun yang sering datang dan pergi ke Belakang Padang. Para pendekar pantun membuat ungkapan ‘Penawar Rindu’‎ ditujukan kepada orang yang pernah mengunjungi Belakang Padang dan kemudian kembali lagi ke sana untuk mengobati rindunya.

Geliat Usaha Kecil dan Wisata

Belakang Padang Batam
Pertokoan di Belakang Padang. GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

Selain perikanan, Belakang Padang mulai menunjukkan geliat baru di sektor wisata dan UMKM. Camat Belakang Padang, Hanafi, menyebut berkat dukungan Bank Indonesia dan pemerintah daerah, membuat usaha kcil di wilayah itu tumbuh pesat. Produk rumput laut, keripik ikan, dan kudapan khas setempat makin dikenal lewat promosi digital. Sistem pembayaran nontunai seperti QRIS juga membantu transaksi dan memperluas akses pasar.

“Termasuk sertifikasi halal. Saya mendorong pelaku UMKM lain segera mengurusnya,” kata Hanafi.

Dari sisi pariwisata, kata dia, potensi alam dan budaya Belakang Padang cukup menjanjikan, namun akses dan fasilitas masih perlu pembenahan. Letaknya yang berhadapan langsung dengan Singapura menjadi peluang besar menarik pelancong. “Makanya event seperti perahu layar dan balap sampan digelar di sini, biar mereka datang,” ujar Hanafi.

QRIS Antarnegara
QRIS terpajang di sebuah warung di Belakang Padang, Batam, yang menjadi salah satu destinasi autentik bagi wisatawan. Sistem pembayaran ini mempermudah transaksi bagi pedagang lokal dan turis asing. GOKEPRI/Engesti Fedro

Ia berharap program pelatihan pemasaran digital, sertifikasi halal, serta pengembangan produk lokal bisa memperkuat fondasi ekonomi Belakang Padang. “Potensi perikanan, wisata, dan UMKM harus terus dikembangkan secara berkelanjutan.”

Dalam pandangan Hanafi, Belakang Padang bukan hanya pulau perbatasan, tapi ruang hidup dengan potensi ekonomi dan budaya yang kuat. Dengan kolaborasi, ia yakin masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraan dan membawa daerah ini menjadi pusat ekonomi baru di Kepulauan Riau.

Belakang Padang Batam
GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

Dosen ekonomi Universitas Internasional Batam, Suyono Saputra, menilai Belakang Padang selama ini ditopang usaha mikro dan nelayan. “Kehidupan masyarakatnya berbasis kearifan lokal kelautan. Mereka hidup dari laut—menangkap, mengolah, lalu menjual hasilnya,” ujarnya.

Sebagian besar tangkapan dimakan sendiri, sisanya dijual di pulau maupun ke Batam. Namun ekspor hasil laut masih terbatas karena armada kecil dan orientasi pasar yang masih domestik.

Kendala utama, kata Suyono, adalah minimnya akses teknologi dan modernisasi. Air bersih, listrik, sanitasi, dan internet masih perlu diperkuat. “Ini prioritas agar masyarakat Belakang Padang tidak tertinggal.”

Pendidikan menjadi soal lain. Banyak anak muda hanya menamatkan SMP atau SMA, lalu merantau. Padahal peluang usaha pengolahan hasil laut, keripik ikan, dan budidaya rumput laut cukup besar.

Wilayah perbatasan, kata Suyono, memang tak harus meniru modernisasi negara tetangga, namun harus memastikan warganya tak tertinggal dari sisi pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Fokus utama tetap pada penguatan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Menurutnya, pendampingan dan pelatihan menjadi kunci agar usaha mikro berbahan laut bisa naik kelas. Peluang pasar terbuka, bukan hanya lokal tetapi juga nasional bahkan internasional.

Belakang Padang memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai pusat ekonomi maritim dan wisata budaya. Potensi perikanan, kedekatan dengan Singapura, dan pertumbuhan UMKM menjadi kombinasi yang jarang dimiliki kecamatan lain. Pemerintah daerah menargetkan penguatan kolaborasi dan inovasi untuk memastikan wilayah ini tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas.

Jika pembangunan berlanjut secara konsisten, Belakang Padang dapat bergerak dari sekadar pintu gerbang perbatasan menjadi simpul ekonomi biru yang terhubung dengan Batam, Kepri, dan pasar regional. ***

Baca Juga: Membuka Gerbang Ekonomi ke Asia Tenggara Lewat QRIS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait