Ekonomi Kepri Tumbuh Positif, Saatnya Perkuat Ekonomi Biru

RUU Daerah Kepulauan
Gugusan pulau di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri. (foto: istimewa)

BATAM (gokepri) – Ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) tumbuh 3,01 persen pada 2025, melampaui rata-rata nasional sebesar 2,86 persen. Pertumbuhan ini ditopang sektor industri pengolahan dan kredit korporasi yang melonjak, sementara Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan ekonomi biru untuk pemerataan manfaat di wilayah kepulauan.

Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, mengatakan kinerja tersebut menegaskan ekonomi Kepri masih berada di jalur positif, dengan inflasi terkendali dalam sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen. “Di tengah pertumbuhan yang tinggi, inflasi Kepri tetap aman di bawah 3,5 persen,” ujarnya dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Kepri 2025 di Batam, Selasa (4/11).

Menurut Rony, capaian ini menempatkan Kepri sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Sumatera. Posisi Kepri sebagai daerah industri dan perbatasan menjadikannya motor ekspor sekaligus pusat kegiatan ekonomi wilayah barat Indonesia.

HBRL

Hingga September 2025, kredit perbankan Kepri naik 20,6 persen—jauh di atas rata-rata nasional 7,52 persen. Kenaikan tertinggi terjadi pada kredit korporasi yang tumbuh 26,37 persen, sementara rasio kredit bermasalah tetap sehat di angka 2,8 persen.

“Kredit yang tumbuh tinggi sejalan dengan aktivitas industri pengolahan di Batam yang berorientasi ekspor,” kata Rony.

Ekonomi biru kepri
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, memaparkan kinerja ekonomi Kepri tahun 2025 dalam acara Diseminasi Laporan Perekonomian di Batam, Selasa (4/11/2025). BI menyoroti pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 3,01 persen dan mendorong penguatan ekonomi biru di wilayah kepulauan. GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

Meski begitu, BI menilai perlu penguatan perputaran ekonomi lokal agar manfaat ekspor juga dirasakan masyarakat. Saat ini, struktur ekonomi Kepri masih didominasi industri dan ekspor, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 3,9 persen dengan porsi 1,5 persen terhadap PDRB.

“Kita ingin pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dari angka, tapi juga dari peningkatan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Ekonomi Biru Arah Baru Kepri

BI mendorong penguatan sektor maritim dan perikanan di luar Batam, terutama di Natuna dan kabupaten lainnya, agar pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di kota industri.

Rony juga menyoroti lambatnya akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang hanya tumbuh sekitar 1 persen secara nasional. “UMKM berperan penting menjaga daya beli dan lapangan kerja. Kita harus pastikan mereka tetap tumbuh,” tegasnya.

Tahun ini, Bank Indonesia mengangkat tema Blue Economy atau ekonomi biru sebagai arah baru pembangunan berkelanjutan Kepri. Rony menilai, dengan garis pantai yang panjang dan posisi di jalur perdagangan internasional, Kepri memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis kelautan.

“Potensi laut kita luar biasa besar. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkannya secara berkelanjutan agar memberi manfaat bagi masyarakat pesisir dan tetap menjaga lingkungan,” ujarnya.

Ekonomi biru mencakup sektor perikanan, energi laut, industri maritim, pariwisata bahari, dan jasa kelautan. BI berkomitmen memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk mendorong investasi produktif, digitalisasi ekonomi, dan pembiayaan hijau (green financing).

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja belum cukup. Manfaatnya harus dirasakan semua lapisan masyarakat,” tutup Rony.

Baca Juga: Percepat Ekonomi Biru, Wakil Kepala BP Batam Bidik Pertumbuhan Sektor Maritim

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait