BATAM (gokepri) – Rumah sakit internasional senilai lebih dari Rp1 triliun mulai dibangun di Batam. Proyek kolaborasi Mayapada Healthcare dengan Apollo Hospitals India itu berdiri di atas lahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan Kesehatan Internasional di Sekupang. Mayapada Apollo Batam International Hospital (MABIH), demikian nama resminya, ditargetkan selesai pada 2027 dan mulai menerima pasien pada awal 2028.
Pembangunan ini tidak hanya soal menambah fasilitas kesehatan baru. Ia bagian dari strategi lebih besar pemerintah untuk menghentikan arus keluar pasien Indonesia ke luar negeri. Setiap tahun, menurut data Kementerian Koordinator Perekonomian, hampir Rp200 triliun dihabiskan masyarakat Indonesia untuk berobat ke Singapura, Malaysia, hingga Jepang. Angka itu setara lebih dari sepersepuluh anggaran kesehatan nasional.
Presiden Komisaris Mayapada Healthcare, Jonathan Tahir, menyebut proyek ini sebagai jawaban atas tantangan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat layanan kesehatan domestik. Argumen Jonathan sederhana: jika kualitas dan biaya layanan bisa bersaing dengan Singapura dan Malaysia, pasien Indonesia tidak lagi perlu keluar negeri. “Batam cocok sebagai pusat layanan kesehatan modern karena posisinya strategis,” kata dia.
Alasan itu bukan tanpa dasar. Setiap tahun, data Kementerian Kesehatan Singapura mencatat lebih dari 600 ribu pasien asing masuk ke negaranya, sebagian besar dari Indonesia. Riset Deloitte tahun 2019 bahkan menempatkan Indonesia sebagai penyumbang terbesar pasien asing di Singapura, terutama untuk layanan kardiologi, onkologi, dan bedah. Kedekatan geografis Batam dengan Singapura menjadikannya lokasi ideal untuk “membalik arus”: alih-alih orang Indonesia ke Singapura, orang Singapura bisa datang ke Batam.
Bagi pemerintah, kehadiran MABIH tak sekadar soal layanan kesehatan. Staf Ahli Kemenko Perekonomian, Rizal Edwin Manansang, menyebut rumah sakit ini bagian dari transformasi KEK pasca Undang-Undang Cipta Kerja. Sektor kesehatan kini menjadi prioritas baru, di samping pariwisata, pendidikan, dan digital.
Dengan status KEK, MABIH berhak memperoleh sejumlah insentif, mulai dari kemudahan perizinan, keringanan pajak, hingga fasilitas impor peralatan medis. Menurut Edwin, fasilitas semacam ini diharapkan memberi efek ganda: penciptaan lapangan kerja, pengembangan ekosistem pariwisata medis, hingga peningkatan daya saing Batam sebagai pusat ekonomi baru.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bahkan menyebut MABIH sebagai titik awal Batam menjadi hub wisata kesehatan Asia Tenggara. Ia menilai tren masyarakat Batam berobat ke luar negeri bisa berhenti, bahkan berbalik menjadi arus pasien mancanegara yang datang.
Janji besar MABIH ada pada dua hal: kualitas layanan internasional dan biaya lebih murah. Mayapada Healthcare menargetkan biaya pengobatan di MABIH bisa lebih rendah dibanding Jakarta, serta lebih kompetitif ketimbang Singapura dan Malaysia. “Kami bisa menekan biaya kesehatan melalui insentif KEK,” ujar Jonathan.
Namun, daya tarik utama rumah sakit tetap pada tenaga medis dan fasilitas. Mayapada menggandeng Apollo Hospitals, salah satu jaringan rumah sakit terbesar di India yang berpengalaman dalam teknologi tele-medicine. Dengan sistem tele-radiologi, misalnya, hasil MRI atau CT-scan pasien di Batam dapat dikirim langsung ke India untuk ditinjau dokter spesialis dalam hitungan jam. Sistem tele-ICU memungkinkan pemantauan pasien kritis dari jarak jauh oleh tim Apollo.
Kerja sama ini diharapkan menjawab persoalan klasik rumah sakit dalam negeri: keterbatasan dokter subspesialis. Sebab, salah satu alasan pasien Indonesia berobat ke luar negeri adalah keyakinan bahwa layanan di sana lebih cepat, diagnosis lebih akurat, dan pilihan spesialis lebih banyak.
Meski prospeknya menjanjikan, proyek MABIH tidak tanpa tantangan. Pertama, soal keberlanjutan tenaga medis. Ketergantungan pada sistem tele-medicine bisa membantu, tapi tetap diperlukan dokter subspesialis yang hadir di lokasi. Rekrutmen dokter asing sering kali terbentur regulasi izin praktik dan perbedaan standar kompetensi.
Kedua, soal ekosistem. Wisata medis tidak hanya soal rumah sakit, tetapi juga kenyamanan transportasi, hotel, hingga birokrasi administrasi. Pengalaman pasien di luar negeri yang lebih “ringkas” masih jadi pembanding utama. Batam harus membuktikan bahwa bisa memberikan pengalaman serupa—atau lebih baik.
Ketiga, soal biaya. Meski ada insentif KEK, biaya pengobatan tetap dipengaruhi harga obat, alat kesehatan, serta tarif dokter. Sementara itu, Singapura dan Malaysia memiliki reputasi panjang dalam pelayanan medis yang membuat pasien bersedia membayar lebih mahal.
Pemerintah menaruh harapan besar pada KEK Kesehatan Batam. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2024 menetapkan KEK ini seluas 47 hektare, dengan orientasi pariwisata dan kesehatan. MABIH adalah proyek perdana yang akan menguji seberapa efektif konsep KEK Kesehatan diterapkan.
MABIH adalah taruhan besar. Nilai investasinya lebih dari Rp1 triliun, targetnya bukan sekadar pasien domestik, melainkan juga pasar regional. Tapi membalik arus ratusan ribu pasien Indonesia yang terbiasa berobat ke Singapura dan Malaysia bukan perkara mudah. Proyek ini akan menjadi ujian apakah kombinasi modal besar, teknologi internasional, serta dukungan regulasi bisa cukup untuk mengubah peta layanan kesehatan di Indonesia.
Baca Juga: RS Internasional Mayapada-Apollo Batam Groundbreaking, Target Selesai Akhir 2027
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








