* Mas Indra, Si Anak Batik dari Pekalongan yang Menghidupkan Motif Batam
Apa oleh-oleh khas Batam? Pertanyaan sederhana itulah yang mengubah hidup Indra Sugiono. Dari seorang perantau biasa, ia kini menjadi sosok di balik lahirnya batik khas Batam yang tak hanya unik, tapi juga mendunia.
Oleh: Engesti Fedro, Batam
Siang itu, terik matahari menyengat Batam, diiringi aroma lilin yang menyeruak dari gang sempit di kawasan Belian, Batam, Kepulauan Riau. Asap tipis mengepul dari tungku sederhana, bukan untuk memasak, tapi untuk melelehkan malam, bahan utama membatik.
Di teras rumah, deretan kain sedang dilukis, sementara di pojokan ruangan ada lipatan kain batik yang sudah tersusun rapi. Di sisi kanan, tungku menyala perlahan. Ada canting di atasnya alat utama untuk menciduk malam. Di sisi kiri, cetakan-cetakan cap batik dengan motif khas Kepri tersusun di rak besi, siap digunakan. Semuanya serba rumahan.
Seorang pria berkaos abu-abu keluar dari rumahnya. sambutannya akrab. Ia menghampiri awak gokepri.com yang datang berkunjung ke tempat produksinya.
“Halo mas, seperti inilah tempat kami produksi batik. Selamat datang, masuk-masuk, duduk,” ujarnya mempersilakan awak media masuk.
Siang itu, Indra berkisah awal mulai membatik sampai menjadi asesor dan batiknya menarik wisatawan Australia.

- Jatuh-Bangun
Indra Sugiono, akrab disapa Mas Indra adalah pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, ini sudah 15 tahun terakhir mengembangkan batik di Batam. Dia memulainya sejak 2010 lalu.
Kisahnya di Batam bermula saat ia merantau dan bekerja sebagai cleaning service di salah satu perusahaan. Namun, setelah masa kontraknya habis dan tidak diperpanjang, Indra sempat berpindah profesi ke galangan kapal. Saat itu, ia bekerja sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup, belum terpikir untuk kembali membatik.
Sambil berkisah, Indra sibuk mencoretkan malam panas ke selembar kain putih. Gerak tangannya luwes. Matanya fokus. Barangkali tak banyak yang tahu, dari tangan laki-laki asal Pekalongan inilah, lahir batik khas Batam yang kini mulai mencuri perhatian.
“Dulu wisatawan sering tanya, ‘Apa sih oleh-oleh khas Batam?’ Kami bingung jawabnya,” ujar Mas Indra, mengenang awal mula ia terjun ke dunia batik di Batam.
“Apalagi dulu ada yang bilang batik itu dari Malaysia. Ya sudah, saya terpikir kenapa gak buat sendiri aja? Yang benar-benar dari sini, dari tanah Melayu,” jelas dia.
Sampai suatu hari, Indra bertemu dengan seorang pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam. Dari pertemuan itu, ia baru mengetahui bahwa Batam ternyata memiliki batiknya sendiri. Rasa penasaran sekaligus kecintaannya terhadap batik pun kembali tumbuh. Ia mulai tergerak untuk mengasah kembali keterampilan membatik yang sempat ia tinggalkan.
Indra pun memutuskan berhenti dari pekerjaannya di galangan kapal dan mulai fokus membatik. Dengan modal hasil kerja kerasnya selama menjadi cleaning service dan pekerja galangan kapal, ia memesan semua alat dan bahan membatik termasuk kain dan lilin langsung dari Pulau Jawa. Ia harus bersabar menunggu berhari-hari hingga seluruh bahan tiba di Batam.

“Kalau bahan cair itu kan harus lewat laut, kargo nah itu bisa berhari-har. Akibatnya produksi jadi melambat,” kata dia.
Perjalanan itu tak mudah. Indra mengaku terseok-seok selama empat tahun pertama. Di Batam, batik masih terdengar asing. Apalagi motif yang hendak diangkat bukan sembarangan banyak berbasis budaya Melayu yang sarat filosofi dan pakem adat.
“Susahnya karena kita harus hati-hati. Beberapa motif tradisional tidak bisa sembarangan diubah atau dipakai,” ujarnya.
“Sempat bingung juga, karena motif khas Melayu banyak yang punya filosofi sakral. Kita nggak bisa sembarang pakai. Jadi saya cari motif yang berkembang aja yang bisa diterima semua kalangan,” tambahnya.
Indra juga memanfaatkan teras rumahnya sebagai tempat produksi batik. Meskipun hanya di teras rumah, dari sanalah lahir motif batik khas Batam. Ia menamai karyanya Indra Batik Batam.
Dari situ, lahirlah motif-motif unik seperti gonggong, rajung bersusun, awan lara, hingga bunga semayang. Semua terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Kepulauan Riau. Kini, ada lebih dari 10 motif batik khas Batam yang telah dihakikan dan boleh digunakan secara terbuka oleh pengrajin Batam, berkat inisiatif dirinya di dukung oleh Disperindag Batam dan Dekranasda.
“Sudah ada 10 yang dipatenkan. Itu semua bisa digunakan oleh pembatik lainnya yang ada di Batam,” kata dia.
Batik tulis dengan motif laut dan budaya Melayu hasil karyanya kini telah menembus pasar hotel-hotel resor, bahkan menarik minat wisatawan asal Australia.
“Workshopnya ya, di rumah aja. Semua di produksi di rumah. Kalau pesanan lagi banyak masyarakat dekat sini kita berdayakam,” kata dia.

- Batik Eksklusif, Bukan Sekadar Kain
Satu hal yang dijaga ketat oleh Indra adalah keaslian dan eksklusifitas. Batiknya tidak diproduksi di Jawa atau daerah lain, demi menjaga agar motif-motif khas Batam tidak tersebar bebas lalu dibajak oleh industri besar.
“Kita pengennya motif ini tetap eksklusif. Kalau dicetak massal di luar, nanti pembatik kecil di Batam malah nggak dapat apa-apa,” tegasnya.
Indra menegaskan, setiap lembar batik tulis yang ia buat adalah limited edition. Maka jangan heran jika batik tulis buatannya dibanderol mulai dari Rp1 juta hingga Rp2,5 juta per lembar. Tapi di balik harga itu, ada jaminan eksklusifitas yang tidak main-main.
“Satu motif, satu kain. Kalau pembeli kami mendapati motif yang sama dipakai di acara yang sama, kami ganti batiknya dua kali lipat,” ucapnya serius. “Kami jual bukan hanya kain, tapi juga motif. Itu yang bikin orang percaya.”
Produksinya pun terbatas dan dikerjakan langsung oleh tangan-tangan terlatih. Saat pesanan membludak, Indra menggandeng warga sekitar untuk membantu proses pembuatan. Dalam sebulan, ia dan timnya bisa menyelesaikan hingga 450 potong batik terutama untuk seragam resort dan instansi pemerintahan.
“Bisa 450 potong itu paling banyak yang kami kerjakan. Keuntungan bisa Rp40-50 juta,” ujarnya.
- Batik Batam Mulai Go Global
Kini, Batik Batam merek batik yang ia kelola mulai mencuri perhatian pasar luar negeri. Wisatawan Australia yang berkunjung ke workshopnya tak hanya tertarik belajar membatik, tapi juga membeli hasil karyanya.
“Kalau wisatawan Malaysia dan Singapura lebih suka belajar. Tapi kalau yang dari Australia, langsung beli. Katanya bagus dan beda,” ujar Indra.
Meski belum sepenuhnya menembus pasar ekspor formal, ia sudah beberapa kali ikut pameran luar negeri dan business matching. Kendala utamanya, menurut Indra, bukan kualitas produk, tapi belum adanya buyer yang benar-benar paham nilai batik tulis.
“Kadang mereka pikir ini sablon, padahal ini batik tulis. Makanya edukasi penting. Kita rutin posting di Instagram, tunjukin prosesnya, kasih tahu bedanya batik cap, tulis, dan print,” katanya.
Sampai saat ini, Indra terus berjuang agar batiknya tak hanya dinikmati masyarakat Melayu. Tapi, juga secara global. Pihaknya pun berharap, agar pemerintah membuka jalan bagi pembatik agar diberikan wadah promosi. “Jadi tak hanya di sosial media kami saja. Tapi perlu juga ada dorongan dari pemerintah untuk membatu mempromosikannya,” jelas dia.

- Asesor Batik dan Guru di Balik Layar
Indra bukan hanya pengrajin. Ia juga seorang asesor batik bersertifikat nasional sejak 2018. Ia kerap keliling Indonesia, bahkan lintas negara, untuk menguji kompetensi pembatik dari teknik mewarnai hingga membuat motif.
“Baru-baru ini saya nguji 100 pembatik pemula di Pekalongan. Mereka belajar, kita uji kompetensinya. Yang lolos dapat sertifikat resmi,” katanya. Dengan begitu, dia berharap profesi pembatik bisa diakui secara formal, dan regenerasi pengrajin bisa terus hidup.
Di Batam sendiri, ia pernah menjadi asesor Dekranasda dan pelatih batik di Disperindag sebelum akhirnya fokus ke usaha sendiri. Kini ada lebih dari 30 UMKM batik di Batam yang telah mandiri sebagian besar merupakan binaan yang pernah dia dampingi.
“Alhamdulilah, teman-teman itu sudah bisa jalan sendiri,” kata dia.
Ke depan, Indra ingin lebih banyak berkolaborasi dengan desainer lokal dan nasional. Ia membayangkan karya-karya batiknya bisa tampil dalam bentuk ready to wear yang bisa dijual lebih luas, tanpa mengorbankan eksklusifitas motif.
“Beberapa desainer sudah kami ajak kerja bareng. Nanti kita bantu bahannya, mereka yang desain bajunya. Jadi ada simbiosis. Tapi ya, tetap harus terjangkau juga harganya,” ujarnya.
Ketika ditanya mengapa terus bertahan di jalur batik selama 15 tahun, Indra menjawab dengan mantap.
“Saya percaya ini bukan cuma bisnis. Ini identitas. Budaya. Kalau kita enggak yang jaga, siapa lagi?”
Keluarga juga turun tangan. Anak perempuannya, yang sedang menempuh pendidikan desain, ikut mengatur administrasi dan promosi usaha batik mereka. Bahkan jadi model produk di media sosial.
Maka dari itu, Indra tidak pernah lelah mengedukasi masyarakat, terutama anak muda, soal batik. Ia membuka rumahnya sebagai ruang belajar batik gratis bagi siswa sekolah. “Kalau mau buat batik, kainnya tinggal bayar. Belajarnya gratis,” katanya.

- Perlunya UMKM Meningkatkan Daya Saing
Pengamat ekonomi dari Universitas Internasional Batam (UIB), Suyono Saputra menyebut, perlunya meningkatkan daya saing bagi para pelaku UMKM di Kepri.
Menurutnya, produk-produk lokal Kepri masih kalah bersaing dibandingkan dengan produk dari Malaysia atau Thailand, baik dari sisi kualitas, pengemasan, maupun daya tarik pasar ekspor.
“Memperbaiki kualitas produk UMKM dan itu tidak mudah karena harus mengubah UMKM dari skala rumah tangga menjadi skala industri,” kata dia.
Suyono menekankan, diperlukan dukungan nyata dari pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapan UMKM, mulai dari edukasi, pelatihan pemasaran digital, hingga penguatan infrastruktur penunjang transaksi digital.
Ia menambahkan, seiring dengan semakin masifnya kunjungan wisatawan asing ke Batam, sektor pariwisata sekaligus memperluas pasar UMKM harus ikut tumbuh. Bukan jalan di tempat.
“Ini momentum bagi Batam. Tapi kita harus kerja sama, antara pelaku usaha, pemerintah, dan otoritas keuangan. Jangan sampai jembatan sudah dibangun, tapi kita belum siap menyeberanginya,” pungkasnya.
- BI Kepri Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor
Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau mendorong UMKM memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi.
Kepala BI Kepri, Rony Widijarto, menyatakan pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II 2025 mencapai 7,14%, tertinggi se-Sumatera. Angka ini merupakan peluang emas bagi UMKM untuk memperluas jaringan pasar hingga ke tingkat global.
“Pertumbuhan ini sinyal kuat bagi UMKM agar segera mengakselerasi ekspor,” ujar Rony.
Rony menambahkan, meski UMKM adalah tulang punggung ekonomi dan penyerap tenaga kerja besar, nilai tambah dari sektor ini masih harus ditingkatkan agar seimbang dengan industri besar.
“Kuncinya harus konsisten. Pertama penguatan kapasitas UMKM dan korporatisasi, sekarang kita sedang upayakan lebih luas tidak hanya domestik tapi juga luar negeri,” jelas dia
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri, Riki Rionaldi menambahkan, Pemprov Kepri bersama BI dan kepala daerah terus berkolaborasi. Tahun ini, Pemprov Kepri mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik senilai Rp13,3 miliar untuk melatih 3.600 pelaku usaha.
Selain itu, Pemprov juga meluncurkan Koperasi Merah Putih di desa dan kelurahan sebagai motor penggerak ekonomi baru. Dari 419 desa/kelurahan, sudah ada 47 koperasi berbadan hukum yang menjadi percontohan nasional.
Pengembangan UMKM juga diarahkan pada hilirisasi hasil laut bernilai tinggi, seperti pengolahan teripang dan gonggong untuk industri kosmetik dan kesehatan. Upaya ini didukung oleh riset dari SMK perikanan setempat untuk memastikan usaha berbasis sumber daya lokal berkembang berkelanjutan dan kompetitif.
“Ini saat yang tepat bagi UMKM Kepri untuk bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi baru,” tutup Riky.

- Kepulauan Riau Siap Ekpor
Kepulauan Riau bersiap menjadi pintu gerbang utama produk halal Indonesia. Pemerintah memperkuat ekosistem terpadu demi mendongkrak kepercayaan konsumen global.
Provinsi ini menorehkan pencapaian signifikan dengan ekspor sebesar 191 juta dolar AS tahun ini, menempatkannya sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekspor menonjol setelah Riau. Potensi besar ini kian didorong oleh pemerintah yang kini fokus menjadikan Kepri sebagai pusat ekspor produk halal nasional. Langkah ini didukung oleh posisinya yang strategis serta infrastruktur yang memadai.
“Posisi strategis dan infrastruktur yang memadai harus dimanfaatkan dengan kolaborasi dari semua pihak,” ujar Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah, Putu, dalam acara “Optimalisasi Produk Halal: Membangun Branding Halal dan Kepercayaan Konsumen” di Batam, Jumat, 22 Agustus 2025.
Pengembangan ekspor halal menjadi salah satu program prioritas Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
KNEKS memetakan lima negara mayoritas Muslim sebagai pasar potensial baru. Malaysia, Turki, Uni Emirat Arab, Thailand, dan Arab Saudi menunjukkan ketertarikan besar terhadap produk halal Indonesia. Negara-negara ini menjadi target ekspor alternatif di tengah pasar tradisional yang sudah mapan seperti Amerika Serikat.
Ada empat strategi utama yang digulirkan pemerintah untuk mempercepat ekspor halal, yakni pembukaan akses pasar, peningkatan kapasitas produksi, optimalisasi pembiayaan, dan koordinasi internasional.

KNEKS juga menggandeng dunia usaha dan lembaga keuangan syariah guna mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menembus pasar ekspor.
“Bagi pelaku UMKM, kita bantu lewat lima pilar: kualitas produk, kemitraan, inovasi, pemasaran digital, dan keberlanjutan produksi,” tambah Putu.
Kisah Indra hanyalah satu dari sekian banyak potensi besar UMKM di Kepulauan Riau. Dengan dukungan konkret dari pemerintah, akses pasar yang luas, dan komitmen terhadap kualitas, bukan tidak mungkin Batam akan menjadi gerbang baru ekspor produk kreatif Indonesia ke dunia.
Namun kesiapan UMKM untuk terbang lebih tinggi jadi pekerjaan rumah. Peningkatan kualitas produk, pengemasan yang menarik, serta pemahaman akan selera pasar ekspor adalah kunci agar UMKM lokal benar-benar dapat meraup manfaat optimal dari ekosistem digital ini.
Jika UMKM Kepri – Batam mampu meningkatkan daya saingnya, wilayah ini akan memiliki ciri khasnya bukan hanya pariwisata dan perdagangan lokal, tetapi juga untuk inklusi keuangan yang lebih dalam dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah perbatasan yang strategis ini. ***








