JAKARTA (gokepri) – Vape disebut lebih efektif membantu perokok berhenti. Riset terbaru membandingkan dengan terapi nikotin konvensional.
Di sebuah laporan ilmiah yang terbit di jurnal Annals of Internal Medicine, sekelompok peneliti dari National Drug and Alcohol Research Centre (NDARC), UNSW Sydney, membuka kembali perdebatan lama: apakah rokok elektrik bisa membantu perokok lepas dari kecanduan.
Associate Professor Ryan Courtney, peneliti utama sekaligus Ketua Kelompok Riset Tembakau NDARC, menyebut tembakau alternatif berupa rokok elektrik terbukti memberi peluang lebih besar. “Rokok elektronik bukan solusi instan, tapi riset menunjukkan hasil menjanjikan,” kata Ryan dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (19/8).
Riset NDARC itu diberi judul Vaporized Nicotine Products for Smoking Cessation Among People Experiencing Social Disadvantage: A Randomized Clinical Trial. Melibatkan seribu responden, penelitian ini membandingkan efektivitas rokok elektrik dengan terapi pengganti nikotin (Nicotine Replacement Therapy/NRT). Hasilnya, kelompok pengguna rokok elektrik mencatat tingkat berhenti merokok 28,4 persen, sedangkan kelompok NRT hanya 9,6 persen.
Ryan menambahkan, tingkat keberhasilan itu terlihat lebih nyata pada kelompok masyarakat yang kurang beruntung secara sosial. Temuan ini dikuatkan oleh Profesor Nicholas Zwar, Ketua Kelompok Penasihat Ahli Pedoman Berhenti Merokok di Royal Australian College of General Practitioners. Menurut dia, studi ini menambah bukti kuat efektivitas rokok elektrik, terutama bagi mereka yang sudah lebih dulu mencoba terapi nikotin. “Studi ini signifikan karena menggunakan perangkat pod nikotin, jenis yang paling banyak diresepkan di Australia dengan efek samping rendah,” ujarnya.
Di Indonesia, hasil penelitian itu memantik respons dari Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo). Ketua Akvindo Paido Siahaan menyebut temuan NDARC sejalan dengan riset-riset sebelumnya, termasuk Randomized Controlled Trial yang terbit di New England Journal of Medicine pada 2019. Saat itu, tingkat keberhasilan berhenti merokok dengan produk tembakau alternatif mencapai 18 persen, hampir dua kali lipat dibanding terapi nikotin yang hanya 9,9 persen setelah satu tahun.
“Efektivitas produk tembakau alternatif bukan asumsi, melainkan terbukti lewat penelitian ketat,” kata Paido.
Dengan prevalensi merokok yang masih tinggi—lebih dari 28 persen populasi dewasa menurut Riskesdas 2023—Paido menilai Indonesia perlu langkah pragmatis dalam kebijakan pengendalian tembakau. Strategi harm reduction atau pengurangan risiko, katanya, sebaiknya diintegrasikan dalam program nasional, bukan hanya mengandalkan larangan dan edukasi.
Menurut dia, jika diatur dengan standar keamanan dan kualitas ketat, produk tembakau alternatif dapat melengkapi program berhenti merokok yang sudah ada. “Banyak negara seperti Inggris, Selandia Baru, dan Jepang telah membuktikan adopsi produk tembakau alternatif bisa menurunkan konsumsi rokok konvensional,” ujar Paido. ANTARA
Baca Juga: Polda Kepri Waspadai Peredaran Vape Etomidate
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








