BATAM (gokepri) – Kenaikan tarif listrik di Batam disebut karena naiknya harga gas. Gubernur Ansar Ahmad mendorong pasokan dari sumur gas Natuna untuk memenuhi kebutuhan listrik Batam.
Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad angkat bicara soal kenaikan tarif listrik PT Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam yang dikeluhkan masyarakat. Menurut Ansar, kenaikan tersebut bukan semata keputusan bisnis, melainkan dipicu melonjaknya biaya bahan bakar utama pembangkit, yaitu gas.
“Kenaikan listrik itu mungkin sesuatu yang tidak bisa dihindari. Itu karena harga gas naik,” ujar Ansar di Batam, Kamis, 10 Juli 2025.
Ansar menjelaskan, selama ini sistem kelistrikan Batam sangat bergantung pada pasokan gas dari Grissik, Sumatera Selatan. Namun, lantaran terjadi penurunan produksi gas pipa, kebutuhan energi kini sebagian besar dialihkan ke Liquefied Natural Gas (LNG) yang dikirim lewat jalur laut dari Lampung.
“Konversi ke gas alam cair ini menyebabkan biaya operasional jadi lebih tinggi. Sekarang proporsinya 70 persen LNG, sisanya gas pipa,” terangnya. Ia menambahkan, harga LNG jauh lebih mahal. Gas pipa sebelumnya dihargai sekitar 7 dolar AS per MMBTU, namun kini LNG bisa menembus 13 hingga 15 dolar AS per MMBTU.
Untuk mengatasi ketergantungan dan menekan biaya energi, Ansar menyebut Pemprov Kepri terus mendorong realisasi proyek gas metering di Pulau Pemping agar bisa tersambung ke Belakang Padang dan memperkuat suplai ke Batam. Ia juga berharap adanya kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) bagi pasokan gas dari ladang Natuna yang selama ini diekspor ke Singapura. “Kita ingin gas Natuna bisa dialihkan sebagian untuk kebutuhan domestik, khususnya Batam,” ucapnya.
Dengan masuknya sejumlah data center dalam dua tahun ke depan, Gubernur memperkirakan kebutuhan listrik di Batam bisa melonjak drastis. “Kami perkirakan kebutuhan listrik tahun 2027 akan naik 2 sampai 4 gigawatt,” tegasnya. “Kehadiran data center harus didukung daya saing harga listrik, kita tidak boleh kalah dari Johor.”
Diberitakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyesuaikan tarif tenaga listrik PT PLN Batam mulai 1 Juli 2025. Kenaikan ini berlaku untuk pelanggan rumah tangga mampu, pemerintah, serta layanan khusus skema kerja sama operasi (KSO).
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu, menjelaskan penyesuaian ini hanya menyasar pelanggan rumah tangga dengan daya 3.500 VA ke atas. Kenaikan tarifnya sebesar 1,43%.
“Penyesuaian ini berlaku bagi pelanggan rumah tangga mampu dengan daya 3.500 VA ke atas dan pelanggan pemerintah,” kata Jisman dalam siaran pers Kementerian ESDM, Jumat 28 Juni 2025.
Ia menegaskan, tidak ada perubahan tarif bagi pelanggan rumah tangga daya 450 VA dan 900 VA, pelanggan sosial hingga 2.200 VA, serta pelanggan industri dan bisnis. Tarif bagi mereka tetap mengacu pada tarif PLN (Persero).
Jisman menyebut pemerintah berhati-hati dalam menerapkan penyesuaian tarif demi menjaga daya saing dan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan tarif didasari perubahan parameter ekonomi makro, seperti nilai tukar rupiah, inflasi, serta harga gas dan batu bara. Parameter tersebut secara kumulatif menunjukkan seharusnya tarif listrik triwulan III 2025 mengalami kenaikan.
Penyesuaian tarif ini juga bertujuan menjaga keberlangsungan penyediaan listrik jangka panjang oleh PLN Batam. Perusahaan ini tidak menerima subsidi atau kompensasi dari pemerintah, berbeda dengan PLN (Persero). “Selisih antara biaya pokok penyediaan listrik dan tarif menjadi tanggungan PLN Batam,” kata Jisman.
Dengan penyesuaian ini, margin keuntungan PLN Batam diproyeksikan naik dari negatif menjadi 2,73 persen. Sementara itu, PLN (Persero) memperoleh margin 7 persen.
“Kami berharap penyesuaian ini dapat meningkatkan keandalan pasokan dan kualitas layanan kepada masyarakat di Batam, serta terus mendorong efisiensi,” ujar Jisman.
Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, menegaskan bahwa penyesuaian ini tidak diberlakukan secara menyeluruh. “Hanya 7,49% dari total pelanggan PLN Batam yang terdampak, yaitu golongan rumah tangga mampu dan golongan pemerintah dengan penyesuaian tarif sebesar 1,43% dari tarif sebelumnya,” jelasnya.
Kwin Fo berharap, masyarakat semakin memahami urgensi kebijakan penyesuaian tarif. “Kegiatan hari ini bukan sekadar pertemuan formal, tetapi manifestasi semangat kebersamaan untuk saling memahami dan memperkuat kolaborasi antarpihak,” pungkas Kwin Fo. “Kami percaya, sistem kelistrikan yang tangguh hanya dapat terwujud melalui kerja sama yang erat dan berkesinambungan,” imbuhnya.
Baca Juga: Pembangkit Baru Solusinya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








