QRIS antarnegara telah mempercepat digitalisasi transaksi keuangan dan meningkatkan pendapatan pedagang kecil di Batam. Transaksi digital ini menjadikan daerah perbatasan ini lebih menarik bagi wisatawan mancanegara dan mempermudah pertukaran ekonomi lintas negara tetangga. Namun, potensi penuhnya hanya akan tercapai jika UMKM lokal mampu meningkatkan daya saing produk mereka.
ENGESTI FEDRO, Batam
Di Pulau Belakang Padang, yang berhadapan langsung dengan Selat Singapura, transaksi digital semakin lazim. Pedagang kecil hingga kedai kopi kini menerima pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS.
Pengunjungnya tak hanya masyarakat lokal yang saban hari berinteraksi. Pulau ini juga menjadi magnet bagi turis mancanegara yang rela menempuh perjalanan jauh. Mereka datang bukan untuk liburan mewah, melainkan untuk sebuah pengalaman otentik, kerap kali hanya demi sepiring roti canai hangat atau secangkir teh tarik yang diracik dengan sempurna, khas Belakang Padang.
Salah satunya Michael Lim, wisatawan asal Singapura, yang menikmati kemudahan bertransaksi di pulau itu. “Mau beli teh tarik, gorengan, sampai kain semua bisa pakai barcode. Tak perlu tukar uang,” ujar Michael Lim, wisatawan asal Singapura, sambil menikmati kopi Milo khas Pulau Belakang Padang, Batam, Minggu 22 Juni 2025.
Michael adalah warga negara Singapura. Putrinya menikah dengan lelaki asli Pulau Karas, membuat ia dan istrinya sering mengunjungi Belakang Padang untuk bersantai sembari menjenguk putri mereka.
“Belakang Padang sudah maju. Semua transaksi mudah, tak perlu tukar-tukar uang,” katanya, tersenyum puas sambil mengangkat ponselnya dan memperlihatkan aplikasi e-wallet yang baru saja menyala, tanda sukses bertransaksi. Ia mengaku senang menghabiskan waktu di pulau ini, merasakan kenyamanan tempatnya.
Sementara itu, pedagang kecil seperti Mak Lis, penjual nasi dagang dan bubur, tampak lebih sibuk dari biasanya. Lokasi kedai Mak Lis berdekatan dengan kedai kopi Ameng. Mak Lis menyewa lapak di lokasi tersebut.
Menurut Mak Lis, penjualannya meningkat sejak menggunakan QRIS, sebuah kode dua dimensi berbentuk persegi yang tersusun dari titik-titik hitam dan putih. Sebagian besar pembelinya, baik warga lokal maupun turis dari Singapura dan Johor, kini membayar hanya dengan satu sentuhan layar.
“Kalau pagi begini ramai betul. Orang kantor, tukang pompong, sampai tamu dari luar pulau suka sarapan di sini. Dulu saya harus sedia uang receh, sekarang cukup pakai QR. Repot kadang pagi-pagi itu belum ada uang pecah,” kata Mak Lis sambil tersenyum.
QRIS, kode pembayaran digital yang terpajang di depan stelingnya sudah dua tahun ini, menjadi alat baru yang memudahkan transaksi. “Tapi kami siapkan uang cash (tunai) juga. Sebab, ada beberapa orang yang bayar pakai cash. Tapi, kalau pegawai-pegawai atau pelancong biasanya langsung pakai scan,” imbuhnya.
Di kedai Pak Tam, riuh suara pedagang memanggil pembeli. Uniknya, di lapak mereka bertuliskan “Terima Pembayaran via QRIS.” Hal serupa juga terlihat di warung kopi, kios kerajinan, hingga toko oleh-oleh khas Melayu. “Dulu tamu dari Malaysia mesti tukar duit dulu. Sekarang tinggal scan saja. Mudah. Aman,” katanya sambil menyusun dagangannya.
Ia menambahkan, omzetnya meningkat sejak QRIS bisa digunakan oleh wisatawan dari luar negeri, terutama dari Singapura dan Johor yang kerap berbelanja di akhir pekan. “Dolar Singapura atau Ringgit kami terima tapi uang kembaliannya susah. Lebih praktis ya tinggal scan,” jelasnya.
Pengalaman bertransaksi lintas negara dengan QRIS tak hanya dirasakan di Belakang Padang. Velia, warga Bengkong, Batam, sempat khawatir saat berkunjung ke Malaka, Malaysia, dari Pelabuhan Internasional Batam Center. Awalnya, ia cemas karena tidak sempat menukar Rupiah ke Ringgit.
Namun, kekhawatiran itu langsung sirna saat Velia menyadari banyak toko dan restoran di Melaka yang bisa menerima pembayaran menggunakan QRIS. “Menariknya, saya tetap membayar dengan rupiah dan langsung dikonversi otomatis ke Ringgit, Malaysia,” jelasnya, menggambarkan kemudahan bertransaksi di negara tetangga.
Pemandangan turis bertransaksi dengan QRIS bisa dilihat di kawasan belanja Nagoya. Elinur Anwar, warga Singapura, mengaku lebih sering menggunakan QRIS untuk membayar sarapan pagi dan segelas kopi Arabica panas di salah satu coffee shop. “Lebih praktis dan mudah, tak perlu keluar uang cash dari dompet,” kata dia, Sabtu pagi 21 Juni.
Kehadiran QRIS Antarnegara tak hanya mengubah wajah perdagangan di Batam, tapi juga pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menyebut implementasi QRIS di kawasan perbatasan seperti Belakang Padang adalah bagian dari upaya menjadikan Batam sebagai destinasi pariwisata berbasis digital.
“Belakang Padang ini sangat dekat dengan Singapura. Banyak wisatawan mancanegara yang datang ke sana karena ingin suasana tenang dan autentik. QRIS mempermudah mereka bertransaksi, tanpa perlu tukar uang dulu. Ini sangat mendukung geliat ekonomi lokal,” jelasnya.
Ia menambahkan, digitalisasi pembayaran juga menciptakan kepercayaan bagi wisatawan. “Semua jadi lebih aman, transparan, dan praktis. Ini penting untuk pertumbuhan sektor pariwisata jangka panjang,” katanya.
Fenomena QRIS ini memberikan efek pengganda meningkatkan pendapatan UMKM, mempercepat perputaran uang, dan memperkuat sektor pariwisata serta perdagangan lokal. Lebih jauh, sistem ini juga mendorong digitalisasi keuangan di daerah perbatasan, mengurangi ketergantungan pada uang tunai, dan meningkatkan inklusi keuangan masyarakat bahkan di pulau-pulau. Dengan memindai QRIS, konsumen tak perlu repot dengan uang kembalian, dan pedagang lebih mudah mengelola transaksi tanpa banyak uang tunai.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepri mencatat total penambahan merchant QRIS di Kepri pada Januari hingga April 2025 adalah sebesar 48.812 merchant, dengan total merchant sampai dengan April 2025 mencapai 628.056 merchant atau tumbuh terakselerasi sebesar 19,50% yoy. Sebaran didominasi oleh Kota Batam (81,98%) dan merchant UMI (40,33%).
Perlunya UMKM Meningkatkan Daya Saing
Kemudahan transaksi digital melalui QRIS antarnegara dinilai menjadi peluang bagi pelaku UMKM di Batam untuk menembus pasar ekspor di Asia Tenggara. Namun di sisi lain, kesiapan pelaku usaha lokal masih menjadi tantangan utama yang perlu segera dibenahi agar potensi ekonomi ini dapat digarap secara optimal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Internasional Batam (UIB), Suyono Saputra, menilai kehadiran QRIS Cross-Border atau Lintas Negara membuka pintu besar bagi pertukaran ekonomi lintas negara, khususnya di Batam yang memiliki posisi geografis strategis dekat dengan Singapura dan Malaysia.
“Peluang QRIS mempercepat pertukaran ekonomi antarnegara di Batam cukup besar, apalagi kini sudah terhubung dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, Jepang, dan Korea Selatan. Transaksi lintas negara jadi lebih mudah, cepat, dan aman,” ujar pria yang baru terpilih menjadi Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) cabang Batam itu.
Meskipun demikian, ia menggarisbawahi bahwa peluang besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh UMKM lokal. Menurutnya, produk-produk lokal Kepri masih kalah bersaing dibandingkan dengan produk dari Malaysia atau Thailand, baik dari sisi kualitas, pengemasan, maupun daya tarik pasar ekspor.
“QRIS ini ibarat jembatan dagang, tapi kalau produk kita belum siap menyeberang, maka manfaatnya tidak maksimal. Kualitas produk orientasi ekspor harus diperbaiki dan dipahami dulu perilaku konsumen luar negeri,” tambahnya.

Suyono menekankan diperlukan dukungan nyata dari pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapan UMKM, mulai dari edukasi terkait penggunaan QRIS lintas negara, pelatihan pemasaran digital, hingga penguatan infrastruktur penunjang transaksi digital. “Memperbaiki kualitas produk UMKM dan itu tidak mudah karena harus mengubah UMKM dari skala rumah tangga menjadi skala industri,” kata dia.
Ia menambahkan, seiring dengan semakin masifnya kunjungan wisatawan asing ke Batam, QRIS dapat berperan sebagai alat transaksi universal yang mendukung sektor pariwisata sekaligus memperluas pasar UMKM.
“Ini momentum bagi Batam. Tapi kita harus kerja sama, antara pelaku usaha, pemerintah, dan otoritas keuangan. Jangan sampai jembatan sudah dibangun, tapi kita belum siap menyeberanginya,” pungkasnya.
Bank Indonesia sebelumnya mencatat bahwa adopsi QRIS antarnegara di Batam mengalami pertumbuhan pesat, terutama di sektor pariwisata, perdagangan ritel, dan jasa makanan. Namun dari sisi penetrasi pasar ekspor oleh UMKM lokal, kontribusinya masih tergolong rendah.
Dengan sinergi dan akselerasi penguatan kapasitas, QRIS lintas negara tak hanya menjadi alat transaksi digital, melainkan jembatan baru yang menghubungkan ekonomi lokal Batam dengan denyut ekonomi Asia Tenggara.
Adapun kerja sama BI dengan Bank Sentral di beberapa negara sudah dimulai pada 2023. Dengan QRIS antarnegara, transaksi antarnegara tidak perlu lagi mengkonversi atau menukarkan mata uang lagi saat berbelanja di negara yang dikunjungi, hanya cukup dengan memindai kode QR.
Jadi, pembayaran atas transaksi yang dilakukan wisatawan asing di Indonesia dapat dilakukan dengan memindai QRIS merchant Indonesia dengan menggunakan aplikasi pembayaran negaranya.
Untuk menikmati kemudahan dari QRIS antarnegara, yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah dengan mengunduh aplikasi perbankan atau jasa keuangan.
Pengguna QRIS Terus Bertumbuh
Diluncurkan sejak Agustus 2019 oleh Bank Indonesia, QRIS menjadi standar tunggal untuk pembayaran berbasis QR yang menghubungkan berbagai aplikasi keuangan dalam satu sistem. Dalam kurun waktu singkat, pengguna QRIS telah menembus hingga 100 persen secara tahunan (yoy). Data Bank Indonesia Kepri, dari Januari hingga April 2025, tercatat 9.010 pengguna baru QRIS di Kepri, dengan total pengguna sebanyak 539.337 pengguna.
Sementara volume transaksi pada April 2025 sebesar 5,05 Juta transaksi. Pada Januari hingga April 2025, total volume transaksi mencapai 18.069.086 atau tumbuh sebesar 104,85% (yoy). Sedangkan penambahan nominal transaksi pada bulan April 2025 tercatat sebesar Rp688 miliar. Pada April 2025, total nominal transaksi mencapai Rp2,60 triliun atau tumbuh sebesar 345,01% (yoy).
Deputi Kepala KPw BI Kepri, Adidoyo Prakoso, menyatakan implementasi QRIS antarnegara adalah tonggak penting integrasi ekonomi ASEAN. “QRIS bukan sekadar alat pembayaran. Ini adalah medium untuk membuka pasar, mempercepat inklusi keuangan, dan memperkuat ekonomi lokal,” katanya.

Perkembangan penggunaan QRIS di Batam, termasuk di Pulau Belakang Padang, adalah cerminan dari adaptasi cepat terhadap ekonomi digital. Pengalaman bertransaksi digital seperti Michael Lim, Mak Lis, hingga Velia menunjukkan betapa praktisnya sistem pembayaran lintas batas ini bagi wisatawan maupun pelaku UMKM. Ini bukan sekadar alat transaksi; ini adalah jembatan yang menghubungkan Batam, dan Kepulauan Riau secara lebih luas, dengan denyut nadi ekonomi Asia Tenggara.
Namun kesiapan UMKM untuk menyeberang masih jadi pekerjaan rumah. Peningkatan kualitas produk, pengemasan yang menarik, serta pemahaman akan selera pasar ekspor adalah kunci agar UMKM lokal benar-benar dapat meraup manfaat optimal dari ekosistem digital ini.
Pemerintah daerah dan otoritas terkait memiliki peran krusial dalam menyediakan pelatihan, infrastruktur pendukung, dan kebijakan yang pro-UMKM. Jika UMKM Batam mampu meningkatkan daya saingnya, QRIS akan menjadi katalisator bukan hanya untuk pariwisata dan perdagangan lokal, tetapi juga untuk inklusi keuangan yang lebih dalam dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah perbatasan yang strategis ini. Ini adalah momentum bagi Batam untuk mengukuhkan posisinya sebagai destinasi pariwisata dan pusat perdagangan di Asia Tenggara. ***
Baca Juga:
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









