Ikatan Dokter Anak: Belajar Tatap Muka Berisiko Tinggi

ikatan dokter anak
Seorang siswi diperiksa suhu badannya sebelum masuk lokal di SMP Negeri 11 di Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang, Senin (12/10/2020). (ANTARA/Ogen)

Jakarta (gokepri.com) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganggap rencana transisi pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terjadi lonjakan kasus COVID-19, terutama pada anak dan remaja.

“Karena anak masih dalam masa pembentukan berbagai perilaku hidup yang baik agar menjadi kebiasaan rutin di kemudian hari, termasuk dalam menerapkan perilaku hidup bersih sehat,” ujar Ketua Umum IDAI Dr. Aman B. Pulungan melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (1/12/2020).

Menurut Aman, ketika protokol kesehatan dilanggar, baik sengaja atau pun tidak, maka risiko penularan infeksi COVID-19 secara otomatis akan melonjak.

HBRL

“Peningkatan jumlah kasus yang signifikan pasca pembukaan sekolah telah dilaporkan di banyak negara, sekalipun negara maju. Sebut saja Korea Selatan, Prancis, Amerika Serikat,” kata Aman.

Menurut IDAI, penundaan pembukaan sekolah untuk kegiatan pembelajaran tatap muka tentu saja memiliki andil yang cukup besar untuk menurunkan transmisi.

Seluruh warga sekolah termasuk guru dan staf disebut IDAI sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan COVID-19.

“Menimbang dan memperhatikan panduan dari WHO, publikasi ilmiah, publikasi di media massa, dan data COVID-19 di Indonesia pada saat ini, maka IDAI memandang bahwa pembelajaran melalui sistem jarak jauh (PJJ) adalah hal yang lebih aman,” jelas Aman.

Namun demikian, berbagai laporan terkait kesejahteraan anak dan keluarga selama pandemi berlangsung juga perlu mendapatkan perhatian.

Pos terkait