BATAM (gokepri) — Politeknik Negeri Batam menjadi pusat pelatihan bagi teknisi pesawat dari maskapai penerbangan Vietnam, Vietjet Airline. Pelatihan ini akan berlangsung hingga Maret 2025.
Accountable Manager Polibatam Aero Training Center, Priyono Eko Santoyo, menjelaskan 16 teknisi berpengalaman Vietjet menjalani pelatihan untuk memperoleh lisensi dasar pemeliharaan pesawat.
Polibatam Aero Training Center, melalui lembaga Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO), memiliki tiga jenis sertifikat: Airframe (A1), Piston Engine (A3), dan Gas Turbine Engine (A4). Sertifikasi bidang avionik akan menyusul.
Meskipun 16 teknisi ini sudah berpengalaman, mereka belum memiliki sertifikat dasar atau lisensi. Mereka memilih Polibatam karena fasilitas yang ada. Mereka juga sempat survei di Malaysia dan Singapura, Batam dianggap lebih nyaman dengan cuaca yang baik.
“Mereka memilih AMTO Polibatam untuk verifikasi atau melisensi teknisi Vietjet agar lebih kompeten dalam pemeliharaan, perbaikan, dan pengoperasian (MRO) pesawat,” ujar Eko, Kamis 9 Januari 2025.
Baca Juga:
Gencarkan Vokasi, Schneider Electric Bermitra dengan 15 Politeknik Negeri
Dalam waktu dekat, Polibatam Aero juga akan diverifikasi oleh otoritas penerbangan Kementerian Perhubungan Vietnam agar sertifikat yang diterbitkan diakui di negara tersebut.
Program pelatihan di Indonesia biasanya berlangsung 3.000 jam atau empat semester hingga sertifikasi. Namun, pelatihan teknisi Vietjet ini akan lebih singkat karena peserta sudah berpengalaman. “Kami semacam memverifikasi,” kata Eko.

Kepala Program Studi D3 Teknik Perawatan Pesawat Udara Polibatam, Lalu Giat Juangsa Putra, menambahkan, untuk mendukung pelatihan, Polibatam meningkatkan fasilitas pembelajaran dengan menghadirkan pesawat Boeing 737-400.
“Sebelumnya kami hanya punya pesawat kecil. Dengan 737-400, mereka bisa berlatih di pesawat yang sama dengan yang biasa mereka tumpangi. Mereka sangat tertarik dengan praktik langsung di pesawat sungguhan,” ujar Lalu.
Pesawat ini juga digunakan untuk praktikum mahasiswa Polibatam. “Kami membeli pesawat ini untuk membuka kapabilitas avionik. Banyak item di avionik yang dipersyaratkan untuk praktik langsung di pesawat. Sebenarnya bisa diganti trainer, tapi biayanya terlalu besar, maka kami mendatangkan pesawat ini,” jelas Lalu. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








