Tunjukkan Toleransi, Warga Muslim Jadi Penanggungjawab Thudong

thudong tunjukkan toleransi
Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Kesultanan Cirebon, Prabudiaz. Foto: Gokepri.com/Engesti

BATAM (gokepri.com) – Sebagai wujud toleransi warga muslim menjadi penanggung jawab para biksu atau bhante yang sedang melakukan tradisi agama Buddha yaitu thudong.

Para bhante melakukan thudong atau perjalanan panjang dari Thailand, Malaysia, Singapura hingga Indonesia. Untuk kegiatan di Indonesia inilah, warga muslim ikut terlibat.

Adalah Prabudiaz, Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Kesultanan Cirebon, warga muslim Indonesia yang terlibat langsung dalam kegiatan para biksu thudong sejak awal.

HBRL

Prabu bertanggungjawab atas puluhan biksu antar negara yang sedang melaksanakan thudong lintas negara.

Tugas Prabu cukup berat mulai dari pengurusan perizinan, donatur sampai keselamatan para biksu selama di perjalanan. Bahkan aksi yang dilakukan Prabu sempat mendapat kecaman dari umat Islam sendiri.

“Ya dibilang radikal atau semacamnya,” tutur dia, Senin 8 mei 2023.

Namun yang ia lakukan bukan hanya sekadar penanggungjawab biasa. Prabu juga sedang menyebarkan semangat toleransi antar umat beragama di Tanah Air Indonesia.

“Saya ingin menyebarkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang plural dan negara yang toleransinya tinggi,” kata dia.

Ia mengaku, awalnya tidak mengetahui apa itu thudong tradisi yang dilakukan oleh umat Buddha, sampai pada akhirnya ia bertemu dengan bhante atau bhiksu asal Indonesia bernama Wawan. Di pertemuan itu lahirlah ide bagaimana agar thudong itu bisa sampai di Indonesia.

“Saya berangkat ke Thailand dan melihat daftar. Tahun 1957 thudong itu sudah sampai ke Suriah, Lebanon, Mesir. Semua negara-negara Islam sudah tapi kenapa Indonesia belum, jadi dari situ saya semangat. Saya belajar dan saya mau thudong harus sampai ke Indonesia,” jelas dia.

Ia awalnya, sempat menyerah lantaran persoalan biaya. Namun thudong akhirnya bisa berjalan dengan bantuan dari berbagai pihak.

“Saya berdoa terus sama Allah SWT karena saya tahu apa yang saya lakukan benar. Karena niat baik saya. Tapi kalau Allah tidak ridho silakan tutup semua agar kegiatan ini tidak berjalan. Alhamdulillah awalnya saya dengan modal sendiri akhirnya dapat sponsor dari berbagai pihak,” kata dia.

Dengan adanya jalan itu semangatnya semakin menggelora, apalagi rekannya Biksu Wawan membawa bendera Indonesia dalam tradisi thudong itu.

Prabu mengatakan, tugas yang ia emban merupakan yang pertama dan terakhir. tujuannya cuma satu yakni menyebarkan semangat toleransi.

“Karena tugasnya cukup berat mulai dari cari sponsor sampai hal keselamatan para bhante,” kata dia

Menurutnya, tradisi thudong bukan hanya jalan jauh buang-buang waktu dan biaya. Namun ada nilai perjuangan dan semagat toleransi antar umat di dalamnya.

Bahkan kata dia, dengan adanya biksu yang melaksanakan thudong sampai ke Indonesia, kegiatan itu mendapat perhatian tersendiri terhadap ulama atau pun pemerintah setempat.

“Di situ saya menangis. Bahwa Indonesia sebegitu toleransinya dengan umat beragama lain. Dari yang awalnya menolak jadi saling merangkul. Bahkan tanggal 9 Juni nanti kai undang oleh Habib Lutfi untuk tinggal di pondok pesantren beliau,” ujarnya.

Untuk diketahui, Thudong atau Dutangga merupakan praktik pertapaan ketat, kehidupan pengembaraan, pertapaan, terpencil, dan meditatif yang dijalankan oleh para biksu.

Dalam perjalanan ini para biksu melakukan praktik pengembaraan dan pertapaan, juga bersifat meditatif. Sambil berjalan para bhikkhu juga praktik meditasi kesadaran berjalan.

Baca Juga: Perjalanan Panjang di 4 Negara Demi Sebarkan Semangat Toleransi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

Pos terkait