Batam (Gokepri.com) – Konsep bisnis kuliner dengan layanan antar diprediksi menjadi ceruk bisnis potensial di masa pandemi. Modalnya boleh mini tapi tetap harus punya manajemen yang baik.
Bisnis kuliner termasuk salah satu sektor yang terkena hantaman pandemi. Restoran kehilangan pengunjung karena pemberlakuan jaga jarak atau social distancing. Pada awal pandemi tahun lalu paling parah.
Namun, beberapa entrepreneur memutar strategi dan mengubah model bisnisnya dari restoran menjadi ghost restaurant atau ghost kitchen. Pebisnis baru pun melirik gaya bisnis ini.
Ghost kitchen dalah bisnis kuliner yang memproduksi makanan tapi tidak memiliki restoran untuk pelanggan makan di tempat. Bisnis ini mengandalkan layanan delivery atau layanan antar.
Dorothy Creamer, Senior Research Analyst, Hospitality & Travel Digital Transformation dari Internationa Data Corporation (IDC), mengatakan bahwa ghost kitchen memiliki keuntungan karena tidak memerlukan modal sebesar restoran yang membutuhkan staff lebih banyak dan tempat atau bangunan yang luas.
“Namun, baik itu restoran atau ghost kitchen tetap membutuhkan sebuah manajemen yang baik,” ujar dia seperti dikutip dari Business Wire.
Bukan hanya makanan siap saji, beberapa ghost kitchen seakan merambah bisnis belanja bahan makanan dengan menawarkan meal kit yang bisa dimasak sendiri di rumah.
Model bisnis ini dirasa yang paling masuk akal di saat pandemi di tahun 2020, dan diprediksi tetap berlanjut di tahun 2021.
Berkembangnya aplikasi transportasi online yang merambah jasa pengiriman makanan, membuat perkembangan ghost kitchen semakin pesat. Para konsumen pun mengharapkan para chef berinovasi pada menu mereka untuk beradaptasi pada tren ini.
Sementara data Google Trend menunjukkan pencarian terkait ide bisnis rumahan meningkat sebanyak lebih dari 300% , sementara pencarian terkait ide bisnis makanan meningkat hingga 250% sepanjang 12 bulan terakhir.
Survei Snapcart tentang tren masakan rumahan menyebut sebanyak 63% responden berencana untuk memulai bisnis makanan mereka sendiri.
Bisnis kuliner tengah menjadi sektor usaha yang kian diminati dan menjanjikan. Tapi, dalam mengembangkan bisnis kuliner, keunggulan rasa dan keunikan produk perlu diiringi dengan kemampuan menarik hati pelanggan, khususnya di tengah ramainya persaingan pelaku usaha di sosial media.
Makanan Sehat
Hasil survey di Amerika Serikat menyatakan 64% persen masyarakat berkeinginan untuk makan lebih sehat. Lagi-lagi, pandemi adalah pemicunya.
Menurut spoonshot.com, situs yang memperdiksi tren kuliner memanfaatkan artificial intelegence dan ilmu pangan, hal ini membuat kebiasaan konsumen bergeser.
Diprediksi produk dengan versi ‘lebih sehat’ akan naik daun. Misalnya, minuman dengan versi rendah gula atau rendah kalori, namun dengan rasa manis yang tak berubah. Atau, susu yang memadukan susu sapi dengan susu nabati. Sosis less meat dicari untuk mengurangi konsumsi daging. Sosis ini diolah dengan menambahkan sayuran ke dalamnya.
Sebenarnya, produk sejenis ini sudah ada sebelum masa Covid-19, namun karena perhatian masyarakat tidak tertuju pada masalah kesehatan, produk-produk ini kurang dilirik. Perubahan mindset ini tentunya membuat industri makanan dan minuman fast moving consumer goods (FMCG) harus terus berstrategi dan berinovasi mengikuti perkembangan pasar.
(Can)
|Baca Juga: Usaha Kuliner Tiga Generasi, Kadai Tek Kasi Hadir di Dermaga Sukajadi








