TRANSISI ENERGI: PGN Kombinasikan Strategi Integrasi dan Agregasi

transisi energi
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PT PGN Tbk Rosa Permata Sari saat Energy & Economic Outlook Gasfest 2024. Foto: Humas PT PGN Tbk

Jakarta (gokepri) – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN sebagai Subholding Gas PT Pertamina (Persero), mengombinasikan strategi integrasi dan agregasi dalam optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik saat masa transisi energi.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Rosa Permata Sari dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, mengatakan peran availability dan accessibility energi mampu dimainkan PGN sebagai pemain utama di ekosistem gas Indonesia.

Baca Juga:

Menurut dia, dengan memiliki jaringan infrastruktur gas bumi dan kemampuan pemanfaatan gas beyond pipeline, PGN ingin memastikan seluruh titik wilayah bisa semakin terpenuhi kebutuhan gasnya.

“Kami melihat energi trilema sejalan dengan prinsip 4A+1S dalam jangka panjang dan PGN melakukannya dengan kata kunci yaitu integrasi dan agregasi. Integrasi atas infrastruktur PGN yang eksiting saat ini akan didekatkan dengan sumber-sumber yang ada di Pertamina yang juga menjadi customer,” jelas Rosa saat Energy & Economic Outlook Gasfest 2024.

Sejak 2021, PGN melihat kondisi bahwa fragmented pipeline network tidak lagi bisa mendukung kemandirian energi. “Yang dibutuhkan adalah integrasi,” tambah Rosa.

Dengan memanfaatkan kapasitas infrastruktur eksisting, menurut dia, maka peluang meningkatkan utilisasi gas bumi adalah 14 persen.

Sedangkan, kalau digabungkan dengan dengan sumur-sumur baru, ditambah refinery dan petrochemical, maka PGN bisa meningkatkan utilisasi sebesar 48 persen.

Oleh karena itu, lanjut Rosa, pergerakan skema dari fragmented menjadi integrated atas infrastruktur menjadi penting demi kepentingan nasional dan tidak hanya sekadar kepentingan bisnis PGN.

“Pemanfaatan gas bumi domestik akan semakin meningkat melalui sinergi penyelarasan rencana strategis pemanfaatan gas bumi nasional dengan kerja sama PGN bersama seluruh stakeholder, regulator, dan calon pelanggan gas bumi di sisi hilir yang tentunya akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Bagaimana infrastruktur yang sudah terhubung nanti dengan calon ataupun eksisting pelanggan, kita dapat jaga performanya. Ini juga bisa mendorong pertumbuhan customer baru. Diharapkan pada 2030 ke atas terjadi keseimbangan antara supply dan demand,” jelas Rosa.

Berdasarkan proyeksi SKK Migas, produksi gas akan terus meningkat dengan terdapat proyek besar di Geng North, yang merupakan penemuan gas raksasa di wilayah Aceh dan Andaman.

Namun, infrastruktur terintegrasi menjadi tantangan tersendiri dan peran PGN menjadi krusial sebagai pengelola infrastruktur gas terbesar di Indonesia.

“Dengan pertumbuhannya atas utilisasi gas bumi, maka peran gas bumi di dalam ekosistem energi akan semakin baik lagi khususnya menjadi energi transisi menuju EBT,” sebut Rosa.

Bersama Pertamina sebagai holding, PGN juga telah menyiapkan rencana umum penyediaan gas.

“Kami sudah melakukan pemetaan atas kondisi neraca gas balance, supply and demand yang ada. Kemudian bagaimana peluang pemanfatannya untuk infrastruktur eksisting akan berkembang, sehingga memenuhi kebutuhan demand di kota-kota, kawasan-kawan industri, transportasi melalui CNG, dan transportasi laut, dengan memahami kondisi neraca gas,” ungkap Rosa.

Kemudian, terkait infrastruktur pipa gas, menurut dia, PGN memerlukan dua jaringan yaitu Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap 2 dan Dumai-Sei Mangkei.

Jika infrastruktur itu sudah terhubung, maka PGN memiliki fleksibilitas atas beberapa sumber yang diproyeksikan akan memenuhi kebutuhan gas.

“Contoh, kalau PGN bisa mendapatkan sumber gas baru dari Mubadala. Artinya, PGN bisa membawa gas dari Aceh menuju sebagian Sumatra bagian tengah. Dari Sumatra tengah, gas bisa dibawa ke Jawa bagian barat. Kemudian, jika selanjutnya Cisem 2 selesai, maka kita akan punya fleksibilitas supply dari Jawa bagian timur untuk dibawa ke Jawa bagian barat,” terang Rosa.

Untuk Indonesia timur, PGN melihat diperlukan logistic scheming yang lebih baik, yang salah satunya dengan shipping untuk bisa bergerak mendukung transisi energi yang lebih berlanjut.

“Ini tidak mengesampingkan bahwa kita juga punya partner strategic seperti PT PLN, customer refinery yang kami identifikasi ke dalam rencana penyediaan gas. Kami percaya dengan integrasi dan agregasi, hasilnya akan optimal. Kalau integrasi dengan memanfaatkan infrastruktur eksisting, maka kami bisa melakukan agregasi pada komoditas tersebut, maka harapannya landing price di customer menjadi lebih kompetitif,” sebut Rosa.

Saat ini, gas bumi sudah kompetitif dibandingkan fuel cost. Apabila sudah terintegrasi dan semakin kompetitif, tambah Rosa, maka PGN dapat semakin meningkatkan andilnya dalam mendorong kemandirian energi di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

 

BAGIKAN