Tiga Misteri dan Ribuan Kerangka Manusia Ditemukan di Lubang Jepang Bukittinggi

Faisal yang merupakan pemandu wisata dari HPI Cabang Sumbar menjelaskan terkait seluk beluk Lubang Jepang.

Bukittinggi (gokepri.com) – Bukittinggi merupakan kota wisata di Sumatera Barat (Sumbar). Alamnya nan elok menjadikan kota yang memiliki suhu sejuk ini salah satu tujuan destinasi wisata di Ranah Minang.

Beragam objek wisata yang ada di daerah dataran tinggi ini, mulai dari Jam Gadang nan terkenal itu, Ngarai Sianok, Kebun Binatang, Benteng For de Kock hingga Lubang Japang (Lubang Jepang).

Lubang Jepang ini berada di atas Ngarai Sianok tepatnya di Jalan Panorama, Bukit Cangang Kayu Ramang, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi.

Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 yang dipimpin Jenderal Watanabe untuk kepentingan pertahanan.

Untuk mencapai dasar Lubang Jepang, maka wisatawan harus menuruni 132 anak tangga hingga mencapai beberapa lorong di bawahnya.

Rombongan wisatawan saat berkunjung ke Lubang Jepang.

Seperti apa kisah pembangunan terowongan Lubang Jepang? Faisal seorang tour guide (pemandu wisata) dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Sumbar mengisahkan tentang riwayat pembuatan Lubang Jepang.

“Lubang Jepang dibangun di Bukittinggi sebagai bunker atau tempat pertahanan yang dibuat pada awal tahun 1942 sewaktu Perang Asia Timur Raya,” ujar Faisal ketika menemani rombongan wisatawan lokal asal Riau, Kepri dan Padangpanjang, belum lama ini.

Lubang Jepang memiliki panjang 5,5 kilometer. Namun, yang dibuka sebagai objek wisata hanya 1,470 kilometer.

Di dalam Lubang Jepang terdapat 26 ruangan yang terdiri dari 6 ruang amunisi, 2 ruang makan oleh Romusha (pekerja paksa jaman pendudukan Jepang), 1 ruang sidang dan selebihnya atau 12 barak militer atau tempat tidurnya tentara Jepang.

Dalam Lubang Jepang juga dilengkapi 2 pintu pelarian yang terhubung langsung ke jurang Ngarai Sianok.

Kemudian, di dalamnya juga terdapat penjara dan dapur yang difungsikan sebagai tempat penyiksaan.

Penjara yang ada di dalam Lubang Jepang.

“Dapur itu hanya kedok saja bagi tentara Jepang. Sebenarnya Dapur itu adalah tempat penyiksaan dan di sana juga terdapat tempat pembuangan mayat dan satu buah pintu pengintaian,” terang Faisal.

Ketika Faisal menceritakan tentang kondisi dapur yang merupakan tempat penyiksaan dulunya, sesaat fikiran akan melayang bagaimana rakyat Indonesia disiksa dengan sangat keji di ruangan yang gelap dan pengap itu oleh tentara Jepang.

Apalagi, usai disiksa dan mereka sudah tak bernyawa, maka tubuhnya di buang ke dalam lorong yang kecil yang langsung terhubung ke dalam jurang Ngarai Sianok yang disebut Lubang Pembuangan Mayat.

Karena lubang itu sangat kecil dan takutnya mayat tersangkut di tengah lubang, maka tentara Jepang sengaja memotong tubuh manusia itu dan diikatkan menggunakan tali.

Begitu tali dilempar ke dalam jurang, maka akan ada tentara Jepang yang lain untuk menarik tali yang sudah diikat potongan tubuh manusia itu.

Untuk mengetahui posisi Lubang Pembuangan Mayat ini cukup sulit. Karena, posisinya sengaja disembunyikan di bagian bawah dapur sebagai tempat penyiksaan.

Pemandu menunjukkan posisi Lubang Pembuangan Mayat ini dengan cara memasukkan kamera handphone ke dalam dalam lubang kecil tersembunyi di bagian dapur.

Dari hasil foto itulah, baru terlihat dengan jelas ada lubang menganga yang tersembunyi di bawah dapur.

Sementara, untuk lubang pengintaian, sengaja dibangun di atas dapur seukuran badan manusia.

Pintu pengintaian yang berada di Lubang Jepang.

Untuk mencapai puncak lubang pengintaian, maka diantara dinding lubang dibuat sekat-sekat yang difungsikan sebagai tempat pijakan kaki hingga sampai ke atas puncaknya.

Selain itu, dalam Lubang Jepang juga ada pintu penyergapan, pintu utama dan pintu penghubung.

Maksud dari pintu penghubung adalah, Lubang Jepang yang panjangnya 5,5 kilometer bisa menghubungi ke Benteng For de Kock, Istana Tri Arga, Bukit Cangang dan belakang Patung Istana Bung Hatta.

Lubang Jepang yang ada di Bukittinggi merupakan terpanjang di Asia.

Dari beberapa negara yang pernah dijajah oleh Jepang, mereka selalu membangun bungker. Karena, bunker sifatnya adalah sebagai tempat pertahanan.

Dijelaskan, yang membangun Lubang Jepang di Bukittinggi bukanlah orang Jepang melainkan rakyat Indonesia yang diperkerjapaksakan (Romusha). Mereka kebanyakan didatangkan dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

“Pribumi tidak dipekerjakan di daerah Sumatera, tujuannya untuk menutupi rahasia. Sebab, mereka yang dijadikan Romusha di Bukittinggi tidak akan bisa membongkar rahasia seperti penyiksaan yang mereka alami kepada masyarakat pribumi karena terkendala bahasa,” tuturnya.

Inilah Lubang Pembuangan Mayat di bagian dapur Lubang Jepang.

Begitu juga sebaliknya, masyarakat Sumatera juga dibawa dan dijadikan Romusha pembuatan Lubang Jepang di Biak, Papua dan juga pembuatan Lubang Jepang di Bandung. Mereka juga kesulitan untuk membongkar apa yang mereka alami kepada masyarakat di sana.

Faisal menyebut, ada 3 misteri yang hingga kini masih belum terbongkar terkait penggalian Lubang Jepang di Bukittinggi.

Pertama, kemana tanah hasil galian dibuang. Kedua, berapa ribu orang yang meninggal dalam penggalian Lubang Jepang dan ketiga bagaimana nasib Jenderal Watanabe yang memerintahkan pembuatan Lubang Jepang ini.

Hanya saja, pada 1946 ketika Lubang Jepang pertama kali ditemukan oleh masyarakat pribumi ditemukan ribuan kerangka manusia.

Lubang Jepang dijadikan objek wisata pertama kali pada 1986 dan direnovasi pada 2004 dan 2006 yang merupakan renovasi besar-besaran dilakukan oleh pemerintah.

Selama dua tahun renovasi, Lubang Jepang ditutup dan tidak dibuka untuk umum sebagai objek wisata.

Saat renovasi, pemerintah mempertinggi dinding Lubang Jepang, dipasang paving block, memasang lampu dan juga CCTv. Renovasi itu dilakukan semasa Walikota Bukittinggi dijabat Djufri.

Bagi Anda yang penasaran dan ingin merasakan petualangan ke Lubang Jepang Bukittinggi, silakan berkunjung ke sana!

Penulis: Ilfitra

BAGIKAN