Tes PCR Antre, Ambulans Sulit Dihubungi

PCR di gawat darurat Batam

Sepekan penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat belum ampuh menahan laju penyebaran kasus Covid-19 di Kota Batam. Di tengah kasus Covid-19 yang masih tinggi, kini keluarga pasien dihadapkan pada ribetnya tes PCR dan kesulitan  mendapatkan layanan ambulans.

Kesulitan itu diungkapkan Dewi Putri (35), warga Bengkong, saat sang suami dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Ia terpaksa keliling di puskesmas dan rumah sakit untuk mendapatkan layanan ruang rawat di instalasi gawat darurat.

Upayanya kandas. Di Puskesmas Bengkong, petugas mewajibkan sang suami tes PCR dulu dan tes darah. Padahal suaminya yang usianya 50 tahun tersebut telah menjalani isolasi mandiri karena positif Covid-19, disertai demam tinggi berhari-hari dan batuk-batuk. Saturasi oksigennya mencapai 93 diukur dengan oxymeter.

Dewi berharap suaminya mendapat penanganan medis dan diobati setelah sembilan hari terinfeksi corona. “Ribet banget ya Tuhan,” keluhnya, Minggu (18/7/2021).

Dewi sempat menghubungi layanan 112, Satgas Covid-19, untuk mencari ambulans. Tapi tak kunjung mendapat tindakan.

Yang bikin Dewi kecewa, ia dan suaminya harus mengantre jika ingin tes PCR dari pemerintah. Hasil tesnya diperkirakan baru keluar sepekan kemudian dan suaminya baru bisa mendapat tindakan medis.

Sementara jika memakai PCR pribadi dan tes lab, hasilnya bisa 24 jam keluar. Jika hasilnya sudah di tangan, baru ke puskesmas lagi dan mendapat obat.

“Suami sudah enggak kuat jalan,” kata Dewi.

Dewi tidak membawa suaminya ke IGD rumah sakit, karena harus mengantre. Ia khawatir suaminya malah tidak mendapat penanganan dan makin parah. Ia sempat mendatangi klinik bidan yang ia kenal untuk mendapat saran medis.

Dua hari setelahnya, Dewi memilih membawa suaminya berobat ke klinik dokter di kawasan Bengkong. Ia mendapat rekomendasi dari kenalannya yang berobat ke sana ketika terinfeksi corona.

Dokter menyatakan suaminya harus memakai tabung oksigen selama 24 jam karena memiliki penyakit bawaan dan imun tubuhnya sulit melawan corona. Dengan serangkaian tindakan medis, obat dan vitamin, Dewi mengeluarkan uang Rp2,8 juta.

“Sekarang demamnya sudah turun, tapi sekarang harus memikirkan stok oksigen,” ujar Dewi.

Tidak hanya dewi, beberapa pasien Covid-19 di Batam juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan ranjang tersisa di instalasi gawat darurat. Ruang rawat di sejumlah rumah sakit penuh, tak ada tempat tidur (bed) untuk pasien Covid-19 yang tersedia.

Data Kementerian Kesehatan hingga Minggu kemarin, bed IGD di 14 rumah sakit di Batam penuh. Ke-14 rumah sakit itu meliputi RS Budi Kemuliaan, RSUD Embung Fatimah, RS Elisabeth Lubukbaja, RS Ibu dan Anak Mutiara Aini, RS Umum Charis Medika, RS Ibu dan Anak Griya Medika Batam, RS Bhayangkara Batam Polda Kepri, RS Bunda Halimah, RSBP Batam, RS Elisabeth Sagulung, RS Graha Hermine, RS Awal Bros, RS Harapan Bunda, dan RS Soedarsono Darmosoewito.

Sejumlah pasien di beberapa rumah sakit tersebut terpaksa antre. Hingga pukul 13.14 WIB, misalnya, tercatat antrean 1 pasien di RS Graha Hermine. Kemudian di RS Awal Bros terdapat antrean 6 pasien dari 19 tempat tidur yang tersedia di IGD khusus Covid, RS Harapan Bunda 1 pasien, dan RS Soedarsono 1 pasien.

Sementara jumlah kasus aktif Covid-19 di Batam terus menanjak. Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam mencatat penambahan kasus harian tertinggi terjadi pada Sabtu (17/9/2021) dengan 495 kasus baru.

Penambahan ini menjadikan total positif Covid-19 di Batam tembus 18.787 kasus. Sebanyak 15.261 di antaranya sembuh, 437 orang meninggal, dan 3.089 pasien masih menjalani perawatan.

Sekupang menjadi kecamatan dengan jumlah kasus aktif Covid-19 tertinggi di Batam, dengan 687 kasus aktif. Kasus aktif terbanyak berikutnya terdapat di Kecamatan Batam Kota dengan 587 orang dirawat, Sagulung 348 orang dirawat, Bengkong 337 orang dirawat, Batuaji 261 orang dirawat, Lubukbaja 252 orang dirawat, Seibeduk 241 orang dirawat, dan Nongsa 205 orang dirawat.

Sementara di Batu Ampar 118 orang dirawat, Belakangpadang 35 orang dirawat. Sedangkan di Kecamatan Bulang 11 orang dirawat dan Galang 7 orang dirawat.

Sebagian kasus positif Covid-19 ini menjalani isolasi mandiri, jumlahnya mencapai 2.220 orang. Sedangkan 241 orang menjalani perawatan di Asrama Haji, 110 orang di RSKI Galang, 106 orang di RSUD Embung Fatimah, 85 orang di RSBP Batam, 74 orang di RS Elisabeth Batam Kota, 65 orang di RS Awal bros, dan rumah sakit lainnya.

“Data ini merupakan hasil pemeriksaan swab oleh Tim Analis Laboratorium BTKL PP dan RSKI Covid-19 Galang berdasarkan hasil temuan kasus baru dan tracing,” kata Ketua Bidang Kesehatan Gugus Tugas Covid-19 Batam, Didi Kusmarjadi, dalam keterangan tertulisnya.

Imbas Naiknya Testing

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan bahwa kenaikan angka kasus dalam beberapa hari terakhir merupakan salah satu dampak dari usaha pemerintah menaikkan angka testing harian. “Jika dibandingkan dengan sebelumnya, positivity rate menurun dan ini sejalan dengan jumlah testing yang dilakukan. Jumlah orang yang dilakukan tes sudah sampai 182.000 orang. Di sisi lain tentunya dilihat kasus sembuh sebanyak 19.000. Ini juga naik dibandingkan sehari sebelumnya,” ujarnya, Jumat (16/7).

dr. Nadia menjelaskan, jika dilihat jumlah kasus yang ditemukan, hampir 3 sampai 4 kali lipat dibandingkan puncak kasus yang ditemukan pada Desember 2020 dan Januari 2021 lalu. Artinya, saat ini jumlah testing memang ditingkatkan dan pada Desember 2020 dan Januari 2021 memang masih terbatas penggunaan seperti rapid antigen untuk diagnosis atau mendeteksi orang yang sakit.

“Saat ini dengan kombinasi pemeriksaan menggunakan PCR dan rapid antigen, kita bertujuan agar dapat segera menemukan orang sakit supaya kemudian bisa dipisahkan dari orang yang sehat. Sehingga tidak ada penularan lagi pada orang di sekitarnya,” ujarnya.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Dr. Hermawan Saputra, menilai wajar terjadi peningkatan angka positif seiring dengan dilakukannya peningkatan testing dan kapasitas testing memang harus terus ditingkatkan.

“Jadi sekarang kasus aktif kita (nasional) berdasarkan data ada 480 ribu lebih dan kasus suspectnya lebih dari 200 ribu. Jadi kurang lebih ada 680 ribu yang jumlahnya probable to case sebenarnya. Oleh karena itu memang target kita untuk testing ini harus terus ditingkatkan dan bahkan sebenarnya idealnya 900 ribu-1 juta testing per hari. Namun demikian memang setuju upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini sudah luar biasa. Ada perkembangan dan progress dari hari ke hari,” ujar dr. Hermawan.

Peningkatan angka testing ini akan menyebabkan temuan banyak kasus positif Covid-19, tetapi hal itu penting dan harus dilakukan. “Jangan khawatir jika didapatkan angka kenaikan yang tiap hari memecahkan rekor. Kenaikan kasus akibat dari angka testing tinggi ini sebenarnya bagus untuk mitigasi risiko agar kita bisa memiliki perencanaan yang lebih baik untuk mempercepat penanganan dan menghindari kematian yang lebih besar. Itu yang paling penting,” katanya.

Dr. Hermawan juga berpendapat, selama ini pola pemeriksaan testing rendah karena sifatnya yang masif-pasif. Testing dilakukan kepada orang yang sudah di rumah sakit, atau orang sudah ada di faskes lain seperti klinik, puskesmas, atau balai pengobatan. Padahal yang diperlukan sebenarnya dalam perspektif epidemiologi itu yang disebut active case finding.

“Yaitu upaya dengan cepat di hulu harus terus meningkatkan pada populasi-populasi yang memang beresiko sekali karena adanya angka-angka yang
sudah terjadi indikasi massive transmission atau local transmission di lapangan,” katanya.

Belajar dari Pengalaman

Pemerintah tengah berupaya semaksimal mungkin menangani kenaikan kasus yang begitu tinggi beberapa pekan terakhir, serta mencegah agar tidak terjadi kenaikan yang semakin tinggi di kemudian hari.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyebutkan, penting untuk belajar dari pengalaman penanganan kasus pada
lonjakan kasus pertama serta situasi pada saat itu, untuk dapat mengidentifikasi apa yang bisa dipersiapkan dan diperbaiki agar lonjakan kasus kedua ini dapat segera berakhir.

Pada lonjakan kasus pertama, butuh 13 minggu untuk dapat mencapai puncak kasus sebelum akhirnya kasus perlahan menunjukkan penurunan. Sebelum
mengalami kenaikan, kebijakan yang diterapkan adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Ketat DKI Jakarta selama 4 minggu, namun lalu
dilonggarkan menjadi PSBB Transisi selama 13 minggu. Selama periode itu, kasus meningkat cukup tajam karena bertepatan dengan libur panjang natal dan tahun baru 2021.

Intervensi kebijakan yang lebih ketat lagi, yaitu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali diambil setelah kenaikan kasus sudah berlangsung selama 10 minggu. Dampak dari intervensi kebijakan ini terlihat selang 3 minggu, dimana akhirnya kasus dapat turun dan penurunannya bertahan hingga 15 minggu.

“Pada periode lonjakan kasus pertama, terdapat kurang lebih 45 ribu tempat tidur di ruang isolasi dan ICU RS rujukan Covid, serta 2.700 tempat tidur di RS Darurat Covid Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Jumlah laboratorium Covid-19 yang beroperasi saat itu berjumlah 223 laboratorium dengan capaian pemeriksaan kurang lebih 70% dari standar WHO,” katanya.

Jika dilihat keadaan saat ini, Prof. Wiku menjelaskan, dengan lonjakan kasus yang mulai memasuki minggu ke- 9 serta intervensi kebijakan pengetatan yang lebih awal, yaitu dari minggu ke-8, berkaca dari pengalaman lonjakan pertama, maka penurunan paling cepat baru dapat terlihat dalam 3 minggu ke depan.

Kapasitas RS dan laboratorium juga meningkat, dengan total saat ini kurang lebih 120.000 tempat tidur isolasi dan ICU serta 7.930 tempat tidur di RS Darurat Covid Wisma Atlet, dan untuk laboratorium saat ini terdapat 742 laboratorium Covid-19 dengan capaian pemeriksaan lebih dari 300% dari standar WHO.

“Tentunya berbagai evaluasi dan peningkatan upaya penanganan terus dilakukan agar penurunan kasus dapat terlihat sesegera mungkin,” ujar Prof. Wiku.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah pusat terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memantau kapasitas tempat tidur di rumah sakit wilayah
masing-masing. Apabila konversi sudah melebihi 40% tempat tidur, maka perlu segera dibuka dan difungsikan RS Darurat atau RS Lapangan khusus Covid-19.

Rumah Sakit Darurat

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, Pemko Batam mempersiapkan pembentukan rumah sakit darurat atau rumah sakit lapangan. Hal itu sebagai kebutuhan Batam dalam menangani pasien Covid-19.

“Kita tak ingin ada masalah di kemudian hari,” ujarnya saat memimpin rapat di Kantor Wali Kota Batam, Jumat (16/7).

Dalam rapat tersebut muncul beberapa opsi untuk membentuk rumah sakit darurat, salah satunya lokasi. Untuk lokasi, beberapa opsi yakni Asrama Haji atau Rumah Susun. Namun, lokasi itu masih sebatas usulan.

Selain lokasi, kebutuhan pembiayaan, peralatan, sumber daya manusia (SDM), dan regulasi juga harus disiapkan. Amsakar juga menginstruksikan langsung RSDU Embung Fatimah Batam untuk merinci kebutuhannya.

“Estimasi butuh Rp10 miliar, karena kita butuh alat juga untuk mengoperasikan rumah sakit darurat,” katanya.

Amsakar mengatakan, pembentukan rumah sakit darurat tersebut sebagai langkah mengantisipasi jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit penuh. Ia mengatakan, hingga saat ini rumah sakit di Batam sudah terisi hingga 75 persen.

“Data ini harus diupdate terus dan sudah saya instruksikan ke Dinas Kesehatan Batam,” katanya.

Jika jumlah pasien terus bertambah, dan grafiknya terus meninggi, maka harus dilakukan langkah cepat. Bahkan, kata dia, Wali Kota juga sudah menginstruksikan gerak cepat agar masyarakat Batam bisa tenang.

“Tahapan (pembentukan rumah sakit darurat), harus dimulai. Pak wali berpesan jangan bertele-tele,” pesan Amsakar. (candra gunawan)

Pos terkait