BATAM (GoKepri.com) – PT Air Batam Hilir selaku penyelenggara SPAM Batam berencana membangun instalasi Water Treatment Plant (WTP) baru di Waduk Mukakuning. Upaya ini sebagai solusi meningkatkan distribusi air untuk wilayah Timur Pulau Batam.
Humas PT Air Batam Hilir Ginda Alamsyah menerangkan perseroan menyiapkan dua solusi untuk meningkatkan pelayanan air bersih termasuk di kawasan Tanjunguncang.
Untuk jangka panjang, PT Air Batam Hilir membangun instalasi WTP berkapasitas 350 liter per detik di Waduk Mukakuning. Proyek ini sekarang dalam proses lelang dan diperkirakan selesai dalam dua tahun.
“(WTP) Rencana jangka panjang untuk meningkatkan pelayanan dan kebutuhan air di wilayah Timur (Batam),” ungkap Ginda saat ditemui di kantornya, Selasa 1 November 2022.
Selain membangun WTP, Air Batam Hilir juga menyiapkan rencana jangka pendek yakni menyiapkan tangki sementara. “Tangki sesuai kebutuhan warga setiap hari sampai pembangunan WTP selesai,” sambung Ginda.
Tanggapan Ginda ini sekaligus untuk menjelaskan kepada warga Perumahan Putera Jaya, Tanjunguncang, yang belum dijangkau distribusi air bersih. Warga mempertanyakan soal distribusi air tersebut di kantor SPAM Batam, Batam Center, Selasa 1 November 2022.
Ginda mengungkapkan distribusi air belum menjangkau kawasan itu karena pertumbuhan penduduk di sana terbilang tinggi sementara WTP baru akan dibangun. “WTP dari dulu hanya ada enam, tidak seimbang dengan pertumbuhan penduduk yang ada sekarang. Permasalahan ini segera selesai,” kata dia.
Perencanaan distribusi air ke kawasan Tanjunguncang sudah sampai ke telinga Kepala BP Batam Muhammad Rudi.
Ia mengaku sudah menerima laporan tersebut secara langsung dari SPAM Batam yang kini dikelola dua entitas yakni PT Air Batam Hulu dan PT Air Batam Hilir.
Dari pemanggilan tersebut ada beberapa hal jadi alasan perseroan. Rudi mencontohkan, penyambungan pipa baru dan pipa air yang sudah tua harus dipindahkan. Kemudian, jumlah besar pipa saat ini tidak sepadan dengan jumlah masyarakat. Selanjutnya, bahwa penambahan penyambungan baru terlalu besar dan banyak, sehingga air sudah tidak mampu lagi.
“Itulah yang harus diperbaiki sekaligus. Sekali perbaiki perlu Rp1 triliun, itu pun tidak cukup,” beber Wali Kota Batam itu.
Ia memaparkan pada masa transisi yang terlalu lama, banyak barang yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Sehingga, solusinya harus diganti dan memerlukan anggaran yang besar.
“Pasca terima transisi yang terlalu lama barang-barang ini, sudah apkir semua. Dan harus diganti. Jadi butuh biaya. Solusinya siapa saja bisa kalau dia sanggup,” jelas Rudi.
Pengelolaan Air di Batam
Sebagai gambaran, PT PP Tbk (PTPP) dan PT Moya Indonesia selaku pemenang hak konsesi pengelolaan air bersih di Kota Batam membentuk dua perusahaan patungan, yakni PT Air Batam Hulu dan PT Air Batam Hilir.
“Maksud dan Tujuan dibentuknya PT Air Batam Hulu dan PT Air Batam Hilir ialah berusaha dalam penampungan, penjernihan, dan penyaluran air minum serta sebagai tindak lanjut atas penetapan pemenang lelang kerja sama penyelenggaraan operasi dan pemeliharaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Hulu dan Hilir Batam oleh Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam),” jelas Sekretaris Perusahaan PTPP Bakhtiar Efendi dalam keterbukaan informasi dikutip pada Rabu 27 Juli 2022.
Adapun, untuk modal dasar usaha patungan PT Air Batam Hulu sebesar Rp80 miliar dan modal yang telah ditempatkan dan disetor Rp20 miliar. Di mana, PTPP memiliki porsi kepemilikan saham 40 persen atau Rp8 miliar dan PT Moya Indonesia sebanyak 60 persen atau Rp12 miliar.
Sementara, untuk modal dasar usaha patungan PT Air Batam Hilir sebesar Rp80 miliar dan modal yang telah ditempatkan dan disetor Rp 20 miliar. PTPP di sini memiliki porsi kepemilikan 40 persen atau setara Rp8 miliar dan PT Moya Indonesia sebanyak 60 persen dari modal ditempatkan dan disetor atau setara dengan Rp12 miliar.
Untuk diketahui, Moya Indonesia berada di bawah Moya Holdings Asia Ltd yang 73 persen sahamnya dikuasai oleh Tamaris Infrastructure, 13 persen oleh Gateway, dan 14 persen oleh publik. Anthoni Salim masuk di Moya Holdings melalui Tamaris Infrastructure. Adapun, Moya Holdings Asia merupakan perusahaan terbuka yang tercatat di bursa efek Singapura.
Baca Juga: Call Center SPAM Batam Diubah Jadi (0778) 5700 000
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Engesti









