Singapura Bangun PLTS Terapung Terbesar, Konstruksi Dimulai 2025

singapura bangun plts
PLTS terapung di Singapura. Foto: The Straits Times

SINGAPURA (gokepri) – Singapura akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung mulai 2025. Menjadi PLTS yang terbesar, ditargetkan beroperasi pada 2027 hingga 2028.

PLTS ini dibangun di Waduk Kranji. Kepastian pembangunan menyusul hasil studi lingkungan yang menyatakan bahwa pemasangan panel surya tidak akan berdampak besar terhadap keanekaragaman hayati di sana.

Baca:

Proyek yang akan menjadi PLTS terbesar di negara itu – akan menjadi pendorong utama bagi upaya Singapura untuk memanfaatkan lebih banyak energi terbarukan. PLTS ini diperkirakan mampu menghasilkan 141 MW-peak (MWp) energi bersih, atau 112,5 MWp ketika diubah menjadi AC, yang merupakan tegangan yang digunakan oleh jaringan listrik dan sebagian besar peralatan listrik di Singapura.

Ini akan berkontribusi sekitar 7 persen dari target Singapura sebesar 2 gigawatt-peak (GWp) kapasitas surya pada tahun 2030, menurut laporan penilaian lingkungan. Target 2 GWp ini dapat menghasilkan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik tahunan sekitar 350.000 rumah tangga.

Menurut Energy Market Authority (EMA), kapasitas surya Singapura berada sekitar 1,2 GWp pada kuartal pertama 2024.

Ide PLTS pertama kali dicetuskan pada tahun 2018 oleh Economic Development Board (EDB), yang saat itu meluncurkan permintaan informasi untuk mengeksplorasi kemungkinan sistem panel surya apung 100 MWp untuk penggunaan sektor swasta.

EDB kala itu mengatakan bahwa seiring perusahaan beralih ke energi terbarukan untuk mengurangi jejak karbon mereka, ketersediaan energi terbarukan di Singapura dipandang sebagai pertimbangan yang menguntungkan bagi investasi dan ekspansi bisnis.

Pada 2019, perusahaan teknologi informasi Malkoha, anak perusahaan Meta – yang juga pemilik platform media sosial Facebook – dipilih oleh EDB untuk mempelajari kelayakan teknis proyek tersebut, dan potensi dampak lingkungannya.

Hasil studi lingkungan tersebut dipublikasikan secara online pada 7 Juni, dan menyimpulkan bahwa dampak pembangunan dan pengoperasian PLTS terhadap keanekaragaman hayati di waduk tersebut dapat dikelola secara memadai dengan tindakan mitigasi.

Pembangunan PLTS apung Kranji akan dimulai pada tahun 2025, dan diperkirakan beroperasi mulai sekitar tahun 2027 hingga 2028.

Waduk Kranji terletak dekat dengan berbagai kawasan sensitif ekologis, seperti Rawa Kranji, Suaka Rawa Buloh, dan Mangrove dan Lumpur Mandai.

Menurut penilaian dampak lingkungan yang dilakukan oleh konsultan lingkungan ERM untuk Malkoha dari 2020 hingga 2023, sejumlah spesies burung yang menjadi perhatian konservasi diketahui mencari makan di waduk tersebut, atau di sekitar tepi waduk.

Spesies ini, yang terdiri dari burung air migran dan residen, sebagian besar memakan ikan di waduk, dan sering mencari makan di daerah tengah barat garis pantai – dekat dengan rawa Kranji – dan bagian selatan waduk, demikian laporan tersebut. Beberapa burung air migran juga memakan tanaman air waduk.

Banyak dari burung ini terancam punah secara nasional, seperti tern kecil, bangau ungu, dan tern bersayap putih.

Untuk mengurangi potensi dampak proyek terhadap spesies ini, hanya 21,5 persen dari luas permukaan waduk yang akan ditutupi panel surya, dan batas 50 meter harus dibuat antara panel dan garis pantai barat, menurut rekomendasi laporan tersebut.

Selain itu, setiap kelompok panel surya telah dikonfigurasi ulang sehingga area yang sering dikunjungi oleh burung pemburu dapat dihindari, demikian laporan tersebut.

Hal itu juga dapat membantu mengurangi potensi dampak terhadap kualitas air, yang secara tidak langsung dapat timbul akibat kurangnya penetrasi cahaya, dan perubahan pada hambatan angin dan pertukaran panas, kata laporan tersebut.

Klaster fotovoltaik surya yang besar juga dipecah menjadi klaster yang lebih kecil, untuk menciptakan koridor selebar 30 meter hingga 40 meter bagi kapal operasional pembangkit untuk melintas, dan untuk memastikan akses bagi perahu Pasukan Pertahanan Sipil Singapura saat darurat.

Muhammad Nasry, Direktur Eksekutif Singapore Youth Voices for Biodiversity, mengatakan bahwa sebagian besar burung pada umumnya terlihat menyelam di sepanjang garis pantai, dan batas 50 meter akan memberi mereka ruang gerak yang cukup untuk melakukannya.

Menurut laporan tersebut, batas awal yang diusulkan adalah 25 meter, tetapi kemudian ditingkatkan menjadi 50 meter setelah berkonsultasi dengan kelompok pecinta alam.

Meskipun celah selebar 30 meter hingga 40 meter antara kumpulan panel surya dinilai tidak cukup untuk burung pemburu seperti elang laut perut putih dan tern kecil yang mencari makan dengan cara menyelam ke dalam waduk, spesies lain seperti bangau diyakini bisa beradaptasi.

Menurut Muhammad Nasry, mereka dapat memanfaatkan panel surya sebagai platform untuk mencari makan di perairan waduk, seperti yang terjadi di Waduk Tengeh.

Senada dengan Nasry, Ho Xiang Tian, salah satu pendiri kelompok lingkungan LepakInSG, berpendapat bahwa dalam jangka panjang, lebih banyak bangau dan egret justru akan tertarik pada keberadaan panel surya, sehingga berpotensi meningkatkan populasi jenis burung secara keseluruhan.

Menanggapi kekhawatiran perubahan kualitas air atau ekosistem waduk yang dapat memengaruhi sumber makanan burung, Ho menjelaskan bahwa hanya bagian utara waduk yang akan ditutupi panel surya.

Elang laut perut putih masih bisa mencari ikan di Suaka Rawa Buloh, sementara tern kecil yang juga biasa mencari makan dengan cara menyelam bisa mendapat keuntungan dari lalu lintas perahu di waduk. Ombak yang dihasilkan perahu dapat menarik lebih banyak ikan ke permukaan.

Perlu diketahui bahwa energi surya merupakan opsi energi terbarukan paling menjanjikan bagi Singapura. Hal ini dikarenakan keterbatasan negara tersebut dalam mengakses sumber energi terbarukan lain seperti tenaga air atau angin.

Sebelumnya, laporan yang ditugaskan oleh EMA menyatakan bahwa sektor pembangkit listrik Singapura bisa mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

Singapura, yang memiliki keterbatasan lahan, tengah berupaya meningkatkan kapasitas energi surya di waduk-waduknya. Proyek PLTS apung pertama telah beroperasi di Waduk Tengeh sejak Juli 2021, dengan kapasitas 60 MWp.

Selain instalasi mendatang di Waduk Kranji, dua PLTS apung skala besar lainnya tengah dalam pengerjaan. Yakni, PLTS 100 MWp di Waduk Seletar Bawah dan PLTS 44 MWp di Waduk Pandan. THE STRAITS TIMES

Cek Berita dan Artikel yang lain diĀ Google News

BAGIKAN