RI Incar Investasi Rp477 Triliun dari Ekspor Listrik ke Singapura

Ekspor Singapura
Singapura. Foto: Bloomberg

Batam (gokepri) – Rencana ekspor listrik energi bersih ke Singapura sebesar 2 gigawatt (GW) dapat memberikan keuntungan investasi di Indonesia hingga USD30 miliar atau sekitar Rp477 triliun.

“Kalau kita lihat 2 GW itu bisa berarti sampai 11 GW peak solar, 21 GWh battery. Misal 1MW sekitar sejuta, lalu 1 KWh anggaplah USD100—USD150, bisa dihitung saja. It’s huge, itu di atas USD20 miliar—USD30 miliar,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Rachmat Kaimuddin di sela BNI Investor Daily Summit 2023, Rabu (25/10).

Meski demikian, Rachmat mengatakan, rencana eskpor tersebut hingga kini masih terus dibicarakan bersama dengan PT PLN (Persero). Pasalnya, proyek itu nanti bakal melibatkan perusahaan setrum negara.

HBRL

Baca Juga: Ekspor Listrik ke Singapura Bertahap Mulai 2025

Selain itu, lanjutnya, beberapa investor yang telah berniat untuk turut serta menggarap proyek tersebut pun kini sudah mulai berdatangan, seperti Trina Solar PV.

“Begitu semua udah di-lock, saat ini sambil jalan beberapa investor sudah mulai ikut. Maksudnya bagian dari supply chain sudah pada bikin. Trina Solar sudah groundbreaking, mereka udah siap-siap sih semua, harapan kita sih kalau bisa lebih dari MoU [memorandum of understanding/nota kesepahaman], kemudian LOI [letter of intent/surat komitmen], nanti lebih detail lagi akan kita laksanakan.” kata dia.

Sebelumnya, Singapura mengumumkan telah memberikan persetujuan resmi untuk melakukan impor listrik bersih sebesar 2 GW dari Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan sekaligus Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Tan See Leng, di sela acara Indonesian Sustainable Forum (ISF) pada awal September.

“Saya dengan bangga mengumumkan bahwa Otoritas Pasar Energi Singapura atau EMA telah memberikan persetujuan bersyarat untuk impor 2 GW listrik rendah karbon dari Indonesia ke Singapura,” ujar Tan.

Kesepakatan tersebut juga ditandai dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Memenuhi TKDN 60 Persen

Rachmat pun menegaskan bahwa pengembang baterai dan panel surya Singapura harus membuat pabriknya di Indonesia.

Seluruh alat produksi yang bakal menghasilkan listrik rendah karbon tersebut mayoritas harus berasal dari Indonesia atau paling tidak tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produksinya harus 60% dilaksanakan di pabrik yang berada di Indonesia.

“Baterai kalau bisa juga dibangun di Indonesia. Jadi made in Indonesia, elektronnya ke Singapura, tetapi industri indonesia terbangun,” kata Rachmat.

Dia mengklaim jika otoritas negeri Singa itu pun telah menyetujui sola persyaratan tersebut. Dengan begitu, Singapura bakal memperoleh listrik bersih, berikut dengan Indonesia yang juga bakal memiliki industrinya sendiri. “Misalnya nanti dia tidak harus beli dari China saja, bisa dari Indonesia.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: Bloomberg

Pos terkait