BATAM (gokepri.com) – Limbah minyak hitam yang mencemari perairan Tanjunguncang meresahkan masyarakat. Siapa pelakunya? DPRD Batam panggil sejumlah pihak untuk mencari pihak yang harus bertanggungjawab.
Limbah minyak hitam ini menjadi permasalah tahunan yang tak pernah tuntas. Apalagi memasuki angin utara. Entah siapa pelakunya, pemerintah daerah sejauh ini berusaha merespon permasalahan dengan kemampuan dan wewenang yang dimiliki. Namum, hasilnya nihil.
Terbaru, limbah minyak hitam yang mencemari perairan Tanjunguncang disebut-sebut sudah merusak ekosistem di pulau-pulau sekitar. Nelayan pun kesulitan untuk mencari ikan.
Nelayan menduga limbah minyak hitam itu berasal dari perusahaan galangan yang ada disekitar perairan Tanjunguncang.
Pihak DPRD Kota Batam juga sudah memanggil perusahaan yang diduga sebagai sumber pertama pembuangan limbah minyak hitam itu.
Tak hanya pihak perusahaan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas (KSOP), Badan Keamanan Laut (Bakamla) serta masyarakat terdampak juga dihadirkan.
“Kami sudah panggil perusahaan Paxocean yang diduga membuang limbah minyak atau oli itu. Untuk memberikan keterangan,” kata Anggota DPRD Batam Arlon Veristo saat ditemui di DPRD Batam Jumat 2 Desember 2022.
Arlon menilai, permasalahan tahun ini tak pernah tuntas. Setiap musim angin utara di Kepri limbah lumpur oli kembali mencemari pesisir Batam. Namun untuk kasus yang di Tanjunguncang merupakan yang pertama.
“Setiap tahun seperti ini. Tapi untuk yang di Tanjunguncang ini yang pertama ini ada indikasi perusahaan yang membuang limbahnya,” kata dia.
Dia menduga pihak perusahaan galangan Paxocean yang membuang limbah minyak itu karena berdasarkan hasil sidak limbah minyak hitam itu paling banyak ditemukan di perusahaan itu.
“Itu hanya dugaan kami tak menuduh juga. Tapi yang terpenting bagaimana masalah tahunan ini tak terjadi lagi,” kata dia.
Kuasa Hukum perusahaan Paxocean Nico Sitanggang menyebut, pihak perusahaannya menjadi korban limbah minyak hitam tersebut.
Ia mengaku perusahaan tak melakukan pembuang limbah tanpa adanya prosedur yang jelas.
“Kami juga terkena imbasnya, kami tahu kabar itu (limbah minyak) langsung kami laporkan ke Instasi terkait justru kami yang paling vokal,” kata dia.
Ia menjelaskan, limbah itu merupakan kiriman dari perusahaan lain. Pihak perusahaan pun terus melakukan upaya cleaning (pembersihan) agar efek minyak hitam tak menyebar ke tempat lain.
“Setiap tahun kalau dikirim sampah ada tapi kalau minyak baru kali ini,” kata dia.
Baca Juga: Gegara Limbah Minyak Hitam, Ikan Dingkis Ogah Masuk Keramba
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis : Engesti








