BATAM (gokepri.com) – Tumpahan minyak hitam di perairan Tanjunguncang, Batam, Kepri berimbas langsung bagi nelayan sekitar. Efek limbah minyak hitam itu merusak eosistem, ikan dingkis pun ogah masuk keramba.
Hal itu karena keramba nelayan banyak yang rusak, selain itu keberadaan limbah itu membuat ikan juga tidak mau mendekat.
“Ini sudah masuk bulan Desember, bagaimana nelayan mau cari ikan. Ikan Dingkis pun susah masuk keramba,” kata Warga Pulau Buluh Moh Safet, saat ditemui Jumat 2 Desember 2022.
Menurutnya, sebagai besar masyarakat di perairan Tanjunguncang bekerja sebagai nelayan. Oleh karena itu dampak limbah minyak itu sangat berdampak terhadap mereka.
“Masyarakat yang dirugikan kalau seperti ini,” kata dia.
Ia menduga perusahaan galangan kapal di sekitar perairan itu yang membuang limbah minyak tersebut. Sebab, secara geografis dan perpecahan arus tak mungkin limbah minyak hitam bisa masuk.
“Pihak perusahaan mengaku bukan mereka. Jadi dari siapa? Tak mungkin nelayan. Kalau itu kiriman pasti yang berdampak itu Nongsa dan Batuampar. Tak mungkin di Tanjunguncang,” kata dia.
Ia berharap, pemerintah dan Instasi terkait membuka mata agar permasalahan ini tak terulang setiap tahunnya.
“Setiap angin utara selalu seperti ini. Pengawasan dari KSOP, Polairud sangat lemah,” kata dia.
Baca Juga: Soal Limbah Minyak Hitam, Perusahaan Galangan Akan Dipanggil
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis : Engesti








