BATAM (gokepri.com) – Badan Pengusahaan (BP) Batam membuka opsi mendatangkan air baku dari Kabupaten Lingga untuk memenuhi kebutuhan air Batam yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perumahan dan investasi.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan, kebutuhan air baku Batam dipastikan terus bertambah. Sementara itu, ketersediaan air saat ini masih sangat bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan.
“Pertumbuhan perumahan, penduduk maupun ekonomi dan investasi semuanya mengindikasikan kebutuhan air bersih selalu meningkat dari waktu ke waktu,” kata Amsakar, Rabu.
Menurut dia, Batam memiliki delapan waduk yang selama ini menjadi sumber air baku. Namun, satu waduk sudah tidak beroperasi sehingga hanya tujuh waduk yang masih dapat dimanfaatkan.
Ketergantungan terhadap curah hujan membuat BP Batam perlu menyiapkan sumber air alternatif untuk menjamin pasokan dalam jangka panjang.
Amsakar bilang, setidaknya ada tiga opsi yang sedang dipertimbangkan. Pertama, mencari sumber air baku baru, termasuk dari Lingga dan Bintan.
Berdasarkan kajian yang pernah dilakukan perusahaan sebelumnya, Lingga dinilai memiliki sumber air yang lebih melimpah dengan debit tinggi. Namun, biaya investasi untuk mendatangkan air dari daerah tersebut cukup besar.
Sementara Bintan memiliki sumber air yang lebih terbatas, tetapi biaya investasinya relatif lebih murah.
“Kalau kita memilih dua opsi itu, jika memang ada investor yang sanggup atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga. Karena ketersediaan jangka panjangnya relatif lebih menjamin,” ujarnya.
Opsi kedua adalah membangun waduk atau bendungan baru di wilayah Batam. Namun, langkah tersebut membutuhkan waktu cukup panjang sebelum dapat dimanfaatkan.
Amsakar memperkirakan, waduk baru paling cepat dapat beroperasi dalam waktu sekitar tujuh tahun. Bahkan, waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama jika kapasitas dan luas waduk yang dibangun semakin besar.
Karena itu, menurut dia, mencari sumber air baru menjadi pilihan yang lebih masuk akal untuk menjawab kebutuhan air Batam dalam jangka panjang.
BP Batam juga telah membahas opsi tersebut bersama Pemerintah Kabupaten Lingga. Amsakar mengatakan pihaknya telah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga untuk membahas kemungkinan kerja sama.
Pembahasan terutama diarahkan pada skema pembiayaan serta calon mitra yang dapat terlibat dalam proyek penyediaan air baku tersebut.
“Kita minta roadmap-nya betul-betul dituntaskan dengan kajian akademik yang sesuai dengan kondisi existing,” katanya.
Selain itu, BP Batam juga telah mengkaji kemungkinan mengangkut air dari Lingga melalui jaringan pipa. Namun, berdasarkan kajian awal, pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan investasi yang cukup besar.
“Pengangkutan air pakai pipa sudah ada kajian, angka investasinya cukup besar,” kata Amsakar.
Menurut dia, seluruh opsi tersebut perlu dipersiapkan sejak dini agar Batam tidak hanya mengandalkan tujuh waduk yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca. *
Penulis: Engesti






