BATAM (gokepri) — Rumah Sakit BP Batam membuka layanan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa bedah terbuka, pertama di Kepulauan Riau. Layanan ini menjangkau pasien anak hingga dewasa dan mulai berjalan pada 2026.
Pada tahap awal, enam pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menjalani tindakan intervensi di RSBP Batam. Tim dokter tamu mendampingi tim medis internal rumah sakit dalam program proctorship, setelah seluruh pasien lolos skrining medis sesuai standar keselamatan.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSBP Batam, dr. Muhammad Yanto, menjelaskan layanan ini berbeda dari praktik yang selama ini tersedia di Kepri. Penanganan kelainan jantung bawaan pada anak sebelumnya sudah ada di rumah sakit swasta, tetapi terbatas pada lingkup tertentu.
Baca Juga: Sasar Deteksi Dini, RSBP Batam Percepat Skrining Jantung Bawaan Anak
“Di RSBP Batam, intervensi penyakit jantung bawaan ditangani dokter spesialis jantung konsultan yang mampu menangani pasien anak hingga dewasa tanpa bedah terbuka. Ini yang pertama di Kepulauan Riau,” kata Yanto.
Kehadiran layanan di daerah menjadi penting karena beban penanganan penyakit jantung bawaan di pusat rujukan nasional sangat tinggi. Salah satu dokter tamu, Radityo Prakoso, Sp.JP(K), FIHA, menyebut antrean pasien di Jakarta masih panjang.
“Di Jakarta, sekitar 6.000 bayi masih menunggu penanganan penyakit jantung bawaan. Dengan kapasitas yang terbatas, tidak semua pasien tertangani tepat waktu. Sebagian bahkan meninggal sebelum mendapat jadwal tindakan,” ujarnya.
Menurut Radityo, fasilitas cathlab di daerah seperti RSBP Batam bisa menjadi alternatif agar pasien tidak sepenuhnya bergantung pada rumah sakit rujukan nasional. Akses yang lebih dekat berpotensi memangkas waktu tunggu dan risiko keterlambatan penanganan.
Ketua Kelompok Staf Medis Kardiologi RSBP Batam, Afdalun Hakim, SpJP, menambahkan angka kejadian penyakit jantung bawaan di Indonesia mencapai 8 hingga 10 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Sementara itu, jumlah dokter dan fasilitas yang mampu menangani kasus ini masih terbatas.
“Kondisi ini membuat sebagian penanganan terbantu oleh lembaga dan yayasan sosial, termasuk Yayasan Jantung. Karena itu, penguatan layanan penyakit jantung bawaan di rumah sakit daerah menjadi kebutuhan mendesak,” ujarnya.
Program ini juga menekankan alih pengetahuan kepada dokter dan tenaga kesehatan internal RSBP Batam. Pendampingan dari dokter tamu diharapkan memperkuat kesiapan rumah sakit agar layanan serupa dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Dukungan pimpinan BP Batam, khususnya Deputi Bidang Pelayanan Umum, turut menopang kesiapan layanan ini sejak tahap perencanaan hingga eksekusi. Dukungan tersebut menegaskan komitmen RSBP Batam dalam menjaga orientasi pelayanan sosial, meskipun berada dalam kerangka badan usaha.
Seluruh rangkaian kegiatan mencerminkan nilai PRIMA yang diusung RSBP Batam: profesional dalam pelayanan medis, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, inovatif dalam pengembangan layanan, mahir melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta akurat dalam seleksi dan penanganan pasien.
Dengan langkah awal ini, RSBP Batam menargetkan peran sebagai rujukan regional penanganan penyakit jantung bawaan anak dan dewasa. Harapannya, akses layanan semakin luas dan risiko keterlambatan penanganan di Kepulauan Riau dapat ditekan.
Baca Juga: Lima Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Jantung
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







