Ratusan Ribu Turis Terdampar di Timur Tengah Akibat Banyak Penerbangan Dibatalkan

(internet)

JAKARTA (gokepri.com) – Konflik di Kawasan Timur Tengah telah membuat ratusan ribu turis dilaporkan terdampar di kawasan itu setelah banyak penerbangan dibatalkan akibat perang yang meluas.

Gangguan perjalanan udara ini memicu kekacauan di berbagai bandara utama kawasan Teluk. Sejumlah negara Barat kini memperluas upaya evakuasi untuk membawa pulang warga negara mereka dari wilayah yang terdampak konflik.

Komisi Eropa menyatakan sedikitnya enam penerbangan repatriasi yang didukung Uni Eropa telah diberangkatkan sejak Rabu (4/3/2026). Penerbangan tersebut memulangkan warga Eropa ke sejumlah negara, antara lain Bulgaria, Italia, Austria, dan Slovakia.

HBRL

Komisi menyebut penerbangan evakuasi tambahan masih direncanakan dalam beberapa hari mendatang. Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mengumumkan akan meningkatkan jumlah penerbangan evakuasi dari kawasan Timur Tengah. Para pejabat menyebutkan lebih dari 17.500 warga Amerika telah kembali ke Amerika Serikat sejak 28 Februari.

Penerbangan evakuasi tersebut berangkat dari sejumlah pusat transportasi regional, termasuk Dubai dan Jeddah. Negara-negara Eropa lain seperti Prancis, Jerman, dan Republik Ceko juga mengatur penerbangan khusus untuk mengevakuasi warga mereka dari kawasan tersebut.

Pemerintah Inggris menyebut penerbangan charter evakuasi pertama dari Muscat, ibu kota Oman, sempat tertunda karena masalah teknis. Namun pesawat tersebut diperkirakan segera berangkat. Menteri luar negeri Inggris mengungkapkan lebih dari 300 ribu warga negara Inggris tinggal atau sedang transit di negara-negara Teluk.

“Lebih dari 11 ribu penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari bandara-bandara utama di 10 negara telah dibatalkan sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari,” demikian laporan Saudigazette mengutip data dari Flightradar24, Sabtu (7/3/2026).

Data penerbangan bahkan memperlihatkan jalur udara yang biasanya padat kini hampir kosong. Sejumlah bandara dan maskapai di kawasan Teluk menghentikan operasi normal mereka. Hingga 4 Maret, setidaknya 10 negara telah menutup wilayah udaranya secara penuh atau sebagian.

Salah satu yang terdampak paling besar adalah Bandara Internasional Dubai di Uni Emirat Arab, salah satu pusat penerbangan tersibuk di dunia yang menghubungkan 291 destinasi. Sejak 28 Februari, sekitar 87 persen penerbangan terjadwal dari bandara tersebut dibatalkan.

Pada Februari saja, bandara ini menangani sekitar 4,9 juta kursi penerbangan menurut data Official Aviation Guide. Pembatalan juga terjadi secara besar-besaran di bandara lain di kawasan Teluk, termasuk sekitar 91 persen penerbangan dari Sharjah serta 93 persen penerbangan dari Doha di Qatar.

Meski demikian, beberapa bandara mulai kembali beroperasi secara terbatas pada Rabu (4/3/2026), termasuk di Abu Dhabi serta Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.

Namun, ketidakpastian masih menyelimuti kawasan tersebut seiring konflik yang terus meluas. Banyak pelancong dan pekerja asing masih menunggu kepastian penerbangan untuk dapat meninggalkan wilayah Timur Tengah. *

(sumber: republika.co.id)

 

Pos terkait