BATAM (gokepri) – Produk kue Melayu hingga tas daur ulang dari Batam kini menembus pasar Johor Bahru, Malaysia. Pemerintah Kota Batam mencatat sedikitnya 20 UMKM telah mengekspor produknya ke negeri jiran.
Capaian ini disampaikan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Salim, di sela pembukaan bazar UMKM dalam rangka Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) 2026, Jumat (10/4).
Salim menyebut ekspor tersebut menjadi indikator meningkatnya daya saing pelaku usaha lokal. Produk yang menembus pasar Malaysia beragam, mulai dari koleh-koleh, keripik kampung, hingga produk olahan seperti soes cokelat dan kerajinan tas.
Baca Juga: Ekspor Batam ke AS Naik 30 Persen, India Melonjak 410 Persen
“Yang sudah ekspor ke Johor Bahru ada 20 UMKM,” ujarnya.
Batam selama ini memiliki posisi geografis yang strategis. Kota ini berada di jalur perdagangan internasional dan berdekatan dengan Singapura serta Malaysia. Kedekatan ini membuka peluang pasar lintas batas, terutama bagi produk makanan dan kerajinan.
Upaya memperluas pasar ini berjalan beriringan dengan kegiatan promosi di dalam negeri. Pemerintah Kota Batam menggelar bazar UMKM yang diikuti 150 pelaku usaha mikro.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari TP-PKK, Dharma Wanita, hingga perwakilan dari 12 kecamatan. Setiap stan dinilai berdasarkan tingkat penjualan dan jumlah kunjungan.
Selain pameran, pemerintah juga menyediakan layanan perizinan usaha mikro di lokasi kegiatan. Skema ini diarahkan untuk mempercepat legalitas pelaku usaha.
Sejumlah pelaku usaha mulai mengembangkan produk dengan pendekatan berbeda. Iluh, salah satu pelaku UMKM, memanfaatkan bahan daur ulang untuk menghasilkan tas rajutan.
Produk tersebut memanfaatkan tutup kaleng sebagai bahan baku. Ia menyebut inovasi ini sekaligus menjawab kebutuhan pasar terhadap produk ramah lingkungan.
“Kami kembangkan dari rajutan biasa menjadi berbasis bahan daur ulang,” katanya.
Iluh juga mengikuti program akselerasi ekspor dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Produk yang dihasilkan menjangkau wisatawan asing, terutama dari Singapura dan Malaysia.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menempatkan UMKM sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Pemerintah, kata dia, tidak hanya mengandalkan kegiatan promosi, tetapi juga intervensi pada aspek usaha.
Pendampingan mencakup manajemen usaha, akses permodalan, pemasaran, hingga peningkatan kualitas produk. Fasilitas seperti Pusat Layanan Usaha Terpadu disiapkan untuk membantu pelaku usaha, termasuk dalam perbaikan desain kemasan.
“Harus ada peningkatan dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah menyoroti pentingnya legalitas usaha. Nomor Induk Berusaha, sertifikat PIRT, hingga sertifikasi halal menjadi bagian dari proses yang harus dipenuhi pelaku usaha. ANTARA
Baca Juga: Batam Dorong UMKM Lokal Tembus Pasar Ekspor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









