Jakarta (Gokepri.com) – Pemerintah merevisi target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2020 jauh lebih dalam dari target awal. Diperkirakan terjadi kontraksi yang lebih dalam karena dampak pandemi, dibayangi resesi sepanjang tahun ini.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diproyeksi berada di kisaran 1,7% hingga 0,6% pada skala tahunan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada konferensi pers virtual, target itu turun dari ekspektasi sebelumnya dari kisaran kontraksi 1,1% menjadi pertumbuhan 0,2%.
“Perkiraan tersebut memperhitungkan prospek PDB kuartal ketiga yang baru dari kontraksi 2,9% menjadi 1%, dari kisaran sebelumnya 2,1% menjadi pertumbuhan moderat dan potensi pertumbuhan negatif pada Oktober-Desember,” ujar Menkeu, Selasa (22/9/2020).
PDB Indonesia menyusut untuk pertama kalinya sejak 1999 pada bulan April-Juni, sebesar 5,32%. “Meski kami melihat perbaikan di kuartal ketiga dan kami bisa melihat ekonomi pulih , itu masih sangat dini, rapuh dan harus dijaga,” kata Sri Mulyani, menggambarkan pemulihan di beberapa sektor berdasarkan data Agustus.
Menteri Keuangan berharap semi-lockdown atau PSBB yang saat ini diberlakukan kembali di Jakarta tidak akan terlalu mengganggu perekonomian dan berjanji pemerintah akan habis-habisan untuk mempercepat pengeluaran untuk mendukung perekonomian.
Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan perkiraan baru tersebut lebih dekat dengan prospek tahun 2020, yaitu kontraksi tahunan 2,2%, berdasarkan pemulihan yang moderat dan penurunan transaksi karena meningkatnya kasus COVID.
Kasus virus korona di Indonesia naik 4.176 pada hari Senin, rekor baru peningkatan harian yang membuat penghitungan total negara menjadi 248.852, dengan 9.677 kematian.
Pemerintah telah menghabiskan 56% dari anggaran 2020 pada Januari-Agustus, naik 10,6% dari tahun lalu, sementara penerimaan negara turun 13,1%, dengan pembayaran pajak perusahaan di bawah tekanan, data resmi menunjukkan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan pada Agustus defisit fiskal adalah 3,05% dari PDB. Prospek defisit tahun berjalan mungkin lebih besar dari perkiraan sebelumnya 6,34% dan pemerintah akan memantau implikasinya terhadap penerbitan utang. (Can)
Editor: Candra
Sumber: Reuters
Baca Juga:









