Pertumbuhan Ekonomi Kepri dan Ketertinggalan Akses Udara

RUU Daerah Kepulauan
Gugusan pulau di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri. (foto: istimewa)

BATAM (gokepri) – Di Kepulauan Riau, pertumbuhan ekonomi tumbuh positif, tapi akses udara ke pulau-pulau terluar masih tertinggal. Natuna dan Anambas, misalnya, hingga kini hanya dilayani maskapai perintis dengan kapasitas pesawat kecil.

Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menyebut kondisi ini tidak seimbang dengan perkembangan daerah. “Kami berharap penambahan rute penerbangan ini dapat segera diwujudkan,” katanya dalam pertemuan dengan Komite II DPD RI di Tanjungpinang, Sabtu, 27 September. Nyanyang menyampaikan usulan penambahan rute penerbangan dengan pesawat besar ke DPD.

Menurut Nyanyang, kebutuhan masyarakat tidak lagi cukup dilayani pesawat perintis seperti Susi Air dan Fast Air. Penerbangan dengan kapasitas lebih besar diperlukan agar standar kenyamanan dan keamanan terpenuhi.

HBRL

Kepri kini termasuk salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. Pada triwulan kedua 2025, pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 7,14 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang berada di 4,90 persen. Kepri bahkan menempati posisi pertama di Sumatera dan ketiga nasional setelah Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Kualitas hidup masyarakat juga meningkat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri pada 2024 mencapai 79,89 poin, naik 0,81 poin dibanding 2023. Capaian ini menempatkan Kepri di urutan teratas se-Sumatera, hanya kalah dari DKI Jakarta dan Yogyakarta di tingkat nasional.

Namun, capaian ekonomi dan pembangunan itu belum sejalan dengan infrastruktur udara. Natuna dan Anambas, dua daerah yang strategis di perbatasan, masih menghadapi kendala konektivitas. Padahal, posisinya berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan dan menjadi pintu depan Indonesia.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemprov Kepri mendorong dukungan dari pemerintah pusat dan parlemen. Nyanyang menyebut pihaknya sudah menyiapkan koordinasi dengan Dirjen Imigrasi guna memperluas fasilitas bebas visa kunjungan singkat. Kepri juga menjalin komunikasi dengan Malaysia untuk memperlancar akses keluar-masuk wilayah perbatasan.

Program besar lain yang tengah digarap adalah Visit Kepri 2027. Konsep ini mengacu pada branding Wonderful Indonesia, dengan menargetkan Kepri sebagai destinasi utama wisata perbatasan. “Kami butuh dukungan penuh dari DPD RI dalam pengembangan infrastruktur, kenyamanan, dan keamanan,” ujar Nyanyang.

Penambahan rute dan kapasitas penerbangan diyakini membawa dampak langsung bagi ekonomi daerah. Mobilitas masyarakat akan lebih mudah, distribusi barang lebih cepat, dan sektor wisata lebih kompetitif.

Pemerintah daerah memperkirakan sektor pariwisata, kuliner, restoran, hingga perhotelan akan terdongkrak jika akses udara diperluas. “Hal ini tentu menambah pendapatan asli daerah kabupaten dan kota se-Kepri,” kata Nyanyang. ANTARA

Baca Juga: Momentum Baru Tanjungpinang, Menanti Wisatawan Lewat Bandara Internasional RHF

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait