BATAM (gokepri.com) — Badan Pengusahaan (BP) Batam memperkuat langkah menjadikan Batam sebagai pusat industri perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) di kawasan Asia Pasifik melalui pengembangan kawasan, percepatan perizinan, serta integrasi infrastruktur pendukung investasi.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan pengembangan ekosistem industri penerbangan menjadi salah satu prioritas yang sedang dipercepat untuk mendukung pertumbuhan investasi sekaligus memperkuat daya saing Batam di sektor dirgantara.
“Kami berterima kasih IMROS 2026 diselenggarakan di Batam karena ini menjadi momentum memperkenalkan kesiapan Batam sebagai destinasi investasi industri penerbangan dan MRO,” kata Fary saat Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam.
Menurut dia, salah satu aset utama yang tengah dikembangkan adalah kawasan di sekitar Bandara Hang Nadim yang diproyeksikan menjadi pusat pengembangan industri aerospace dan MRO.
Saat ini, kawasan ekonomi khusus (KEK) yang dimanfaatkan untuk pengembangan Batam Aero Technic (BAT) terus diperluas kapasitasnya untuk mendukung pertumbuhan industri perawatan pesawat.
Fary menyebut kawasan tersebut ditargetkan mampu menyerap sekitar 16 ribu tenaga kerja, sementara saat ini telah menampung sekitar 5.000–6.000 pekerja.
Selain itu, BP Batam juga menyiapkan tambahan lahan sekitar 100 hektare yang dapat dimanfaatkan investor untuk pengembangan fasilitas MRO maupun industri pendukung penerbangan lainnya.
“Kami ingin mengajak pelaku industri memanfaatkan master plan pengembangan kawasan bandara. Tidak hanya untuk MRO tetapi juga pengembangan industri aerospace yang lebih luas,” ujarnya.
Di sisi investasi, BP Batam mencatat pertumbuhan realisasi investasi yang meningkat signifikan.
Menurut Fary, pada periode awal 2025 nilai investasi di Batam tercatat melonjak hingga 105 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah pusat meminta Batam menjadi model percepatan investasi nasional melalui penyederhanaan regulasi dan pelayanan yang lebih cepat.
Fary mengatakan salah satu langkah yang dilakukan adalah mendelegasikan sejumlah kewenangan perizinan yang sebelumnya diproses di kementerian pusat menjadi dapat diselesaikan langsung di Batam.
“Arahan Presiden adalah memberikan kepastian regulasi dan mempercepat pelayanan sehingga investor tidak lagi menghadapi proses yang panjang,” katanya.
Beberapa bentuk kemudahan tersebut antara lain pengurusan dokumen lingkungan hidup dan sejumlah izin pemanfaatan ruang yang kini dapat diproses langsung melalui BP Batam tanpa harus ke Jakarta.
Langkah tersebut diharapkan dapat memangkas waktu investasi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional industri.
Terkait rencana perluasan kawasan industri di luar kawasan ekonomi khusus dengan skema Free Trade Zone (FTZ), BP Batam menegaskan penguatan konektivitas logistik menjadi fokus utama agar arus barang dan suku cadang industri dapat berjalan lebih cepat.
Menurut Fary, keunggulan Batam tidak hanya terletak pada kedekatan geografis dengan jalur perdagangan internasional, tetapi juga pada upaya pemerintah menghadirkan kepastian regulasi dan integrasi layanan investasi.
Dengan kombinasi kawasan industri, konektivitas pelabuhan dan bandara, serta penyederhanaan perizinan, Batam diharapkan mampu menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri MRO dan aerospace baru di kawasan Asia Pasifik
Penulis : Engesti








