BATAM (gokepri) – Sejumlah wilayah di Batam mengalami suhu yang lebih panas di siang hari dibandingkan biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam mencatat suhu udara mencapai 33 derajat celcius.
Salah satu penyebabnya adalah penerimaan sinar matahari. Dominasi cuaca cerah dan tingkat pertumbuhan awan yang rendah turut mempengaruhi penerimaan sinar Matahari. Kedua kondisi tersebut membuat penerimaan sinar Matahari menjadi lebih optimum. Hal tersebut membuat suhu terasa cukup terik di siang hari.
Kepala Koordinator BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, menjelaskan cuaca panas terjadi karena tutupan awan yang sedikit, sehingga sinar matahari langsung memantul ke bumi. “Karena sedikitnya tutupan awan, kondisi ini akan berlangsung sampai akhir Maret 2023. Meski begitu, potensi hujan tetap akan terjadi, namun dalam intensitas rendah,” kata Suratman pada Jumat, 24 Maret 2023.
Masyarakat di Batam diminta untuk selalu menjaga stamina dan cairan tubuh mereka. “Harus banyak minum. Konsumsi air yang cukup. Terutama masyarakat yang menjalankan aktivitas di luar ruangan,” imbau Suratman.
Cuaca yang panas ini membuat beberapa orang di Batam merasa tidak nyaman. Salah satunya adalah Maryati, seorang ibu rumah tangga yang sering beraktivitas di luar rumah. “Saya merasa kelelahan dan sangat ingin minum terus. Tapi saya takut kekurangan air di rumah,” ujarnya.
Selain itu, beberapa orang juga mengeluhkan kualitas udara yang buruk akibat asap kendaraan dan industri. Hal ini menjadi perhatian bagi BMKG Hang Nadim Batam. “Kami terus memantau kondisi udara di Batam. Jika diperlukan, kami akan mengeluarkan peringatan dini terkait kualitas udara yang buruk,” ujar Suratman.
Meski demikian, warga Batam diharapkan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ada, seperti memakai masker dan menjaga jarak sosial. BMKG Hang Nadim Batam juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah saat suhu udara sangat tinggi.
Fenomena Equinox
Dilansir dari Kompas.com, salah satu penyebab suhu panas belakangan adalah equinox pada 21 Maret 2023.
Peneliti dari Pusat Riset Antarika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang membenarkan informasi akan adanya fenomena equinox pada 21 Maret 2023. Ia menjelaskan, equinox adalah kondisi saat jumlah penyinaran Matahari di belahan Bumi utara dan selatan berimbang.
“Hal ini dikarenakan sumbu rotasi bumi tepat tegak lurus ke ekliptika, dan tidak condong ataupun menjauhi matahari,” kata Andi saat dihubungi Kompas.com (20/3/2023). Equinox, merupakan peristiwa alam tahunan yang rutin terjadi dua kali dalam setahun, biasanya sekitar bulan Maret dan September.
Equinox menyebabkan suhu udara naik. Menurut BMKG, kenaikan suhu udara itu masih normal. Berkisar antara 32 – 36 derajat. Jangan panik, Equinox bukan fenomena seperti HeatWave yang terjadi di Afrika dan Timur Tengah yang mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama.
Equinox berasal dari dua kata Latin yaitu aequus (sama) dan nox (malam). Maksudnya saat fenomena Equinox berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian Bumi relatif sama, termasuk di wilayah yang berada di subtropis di bagian utara maupun selatan. Untuk belahan Bumi utara, Equinox yang terjadi di bulan Maret menjadi patokan dimulainya musim semi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Baca Juga: Hari Tanpa Bayangan, Matahari Tepat di Atas Ubun-Ubun Provinsi Kepri
Penulis: Engesti








