SURABAYA (gokepri) — PT Pelindo Terminal Petikemas membantah kabar antrean kapal hingga enam hari di sejumlah terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Perseroan menyebut pelayanan bongkar muat berjalan sesuai perencanaan.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan layanan di TPK Lamong, TPS Surabaya, TPK Nilam, dan TPK Berlian tetap terkendali. Menurut dia, tidak ada keterlambatan signifikan yang berdampak pada jadwal sandar kapal.
“Kami pastikan tidak ada kapal yang menunggu layanan sampai enam hari di terminal peti kemas Tanjung Perak,” ujar Widyaswendra dalam siaran pers, Senin 2 Februari 2026.
Baca Juga: Arus Peti Kemas Tumbuh 18 Persen, Pelabuhan Batam Berlari Kencang
Ia menjelaskan, setiap kapal memiliki jadwal sandar yang telah diatur melalui sistem berthing window. Pelayanan disesuaikan dengan kesiapan fasilitas, keselamatan operasional, serta kondisi lapangan agar arus kapal tetap lancar.
Kepadatan aktivitas, kata dia, kerap muncul pada periode tertentu, seperti menjelang hari besar keagamaan. Lonjakan muatan dan kunjungan kapal bisa memengaruhi ritme bongkar muat, meski terminal tetap menjaga pelayanan.
“Waktu tunggu bisa dipengaruhi banyak hal. Mulai dari kapal datang lebih cepat atau terlambat, peningkatan muatan, kesiapan alat, cuaca, hingga menunggu air pasang,” katanya.
Widyaswendra menyebut sebagian besar kapal tiba sesuai jadwal dan langsung mendapat layanan. Ia mengakui ada kasus keterlambatan, namun waktu tunggu masih berkisar 15 hingga 30 jam.
Untuk meningkatkan kinerja, Pelindo Terminal Petikemas menyiapkan tambahan peralatan. Pada 2026, TPS Surabaya dijadwalkan menerima empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG). Sementara TPK Berlian akan mendapat dua unit QCC pada pertengahan tahun.
“Kami terus berbenah di seluruh wilayah kerja, dari Belawan sampai Merauke,” ujar Widyaswendra.
Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Stenven Handry Lesawengan, membenarkan adanya laporan keterlambatan bongkar muat di TPK Berlian akibat kesiapan alat. Namun, ia menegaskan tidak pernah terjadi antrean kapal hingga berhari-hari.
“Pengelola terminal terbuka dan kooperatif. Kami punya kesepakatan agar bongkar muat tetap berjalan saat ada kendala,” kata Stenven.
Sementara itu, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mendorong peremajaan alat bongkar muat. Ia menilai sebagian peralatan sudah tak sebanding dengan ukuran kapal dan arus peti kemas yang terus meningkat.
“Kami menyambut rencana alat baru di TPS Surabaya. Harapannya, langkah serupa menyentuh terminal lain, terutama TPK Berlian,” ujarnya.
Baca Juga: Pelindo Incar Konsesi Pengelolaan Labuh Jangkar di Pulau Nipah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









