BATAM (gokepri) – Puncak Bazar Ramadhan di Nagoya Citywalk menjadi simbol bangkitnya denyut ekonomi kawasan lama Batam. Upaya ini merupakan langkah menata ulang wajah kota.
Acara yang berlangsung Minggu (1/3) petang tersebut menggabungkan jalan santai dengan suasana ngabuburit. Bagi Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, agenda ini bukan sekadar seremonial. Ia ingin menyemarakkan kembali Nagoya yang belakangan mulai sunyi dari aktivitas ekonomi.
“Kami ingin bisnis di sini bangkit,” ungkap Amsakar. Melalui konsep New Nagoya, kawasan ini akan tampil lebih indah dan nyaman bagi warga maupun pengusaha.

Baca Juga: Menghidupkan Lagi Nagoya, Dari Jalur Pejalan Kaki hingga UMKM
Nagoya memang memegang posisi strategis sebagai pusat perdagangan Batam. Namun, kehadiran pusat perbelanjaan modern membuat kawasan legendaris ini perlahan kehilangan daya pikatnya. Untuk itu, BP Batam menginisiasi proyek New Nagoya yang mengusung konsep walkable city.
Visi besarnya adalah membangun jalur pedestrian sepanjang 4,7 kilometer. Jalur ini akan menghubungkan Pelabuhan Harbour Bay langsung ke jantung Nagoya, termasuk Nagoya City Walk dan Grand Batam Mall. Harapannya, turis mancanegara tak hanya sekadar melintas, tapi juga berjalan kaki menikmati kota dan berbelanja.
Wakil Menteri Koperasi dan UMKM, Helvi Yuvi Moraza, memberikan dukungan penuh. Saat meninjau Jodoh Boulevard, ia menegaskan bahwa penataan fisik harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi warga lokal. “UMKM harus tumbuh menjadi bagian dari ekosistem kawasan ini,” tegas Helvi.
Anggota Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menyebut proyek ini merupakan perwujudan pariwisata perkotaan yang lebih ramah manusia. Fokus utama saat ini adalah menghidupkan kawasan melalui berbagai kegiatan selama momentum Imlek dan Idulfitri.
“Jika kawasannya hidup, ekonomi akan mengalir dengan sendirinya. Setelah itu, pembenahan infrastruktur fisik seperti drainase dan trotoar menyusul secara bertahap,” jelas Mouris.
Meski ambisius, BP Batam menyadari tantangan di lapangan, terutama kenyamanan pejalan kaki yang masih minim. Oleh sebab itu, skema kolaborasi gotong royong antara pemerintah, pengusaha, dan perbankan menjadi kunci utama pendanaan proyek ini.
Salah satu inovasi yang tengah dibahas adalah pembentukan “Kampung BRI” untuk menata para pedagang kaki lima. Langkah ini bertujuan memperbaiki kualitas kios serta sistem pembayaran agar lebih modern tanpa menggusur mereka.
Penataan ini juga menyasar wilayah Tanjung Pantun. Mouris menekankan bahwa tujuannya adalah merapikan, bukan menertibkan secara paksa. BP Batam berharap Nagoya kembali menjadi etalase utama Batam yang ramah bagi setiap orang.
Baca Juga: Wajah Baru Nagoya, BP Batam Tata Pedestrian dari Harbour Bay hingga Pakuwon
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









