Batam (gokepri.com) – Walikota Batam Muhammad Rudi meresmikan museum Raja Ali Haji, Jumat (18/12/2020).
“Ini hari baik, kita softlaunch museum kita bertepatan dengan Hari Jadi Kota Batam ke-191. Semoga bisa memberi sebesar-besar manfaat bagi kita dan mampu utuh mendiskripsikan khasanah, budaya, heritage dan kesejarahan Batam,” ujarnya.
Sembari mewanti-wanti Kadisbudpar Batam Ardi Winata agar terus meng-upgrade konten museum, Rudi sempat menuturkan ihwal asal-muasal mengapa gedung bekas astaka MTQ akhirnya disulap jadi museum. “Ini tak luput dari peran Pak Gubernur Kepri HM Sani. Sebelum diserahkan ke kita, saat itu mencuatlah ide agar bangunan yang kita tapaki ini dijadikan museum. Alhamdulilah sekarang bisa kita wujudkan,” katanya.
Syahdan, memenuhi runtunan acara, Rudi melepas selubung kain sketsa wajah Nong Isa, sebagai penanda Museum Raja Ali Haji resmi membuka pintu ke publik. Selepasnya, didampingi Wakil Wali Kota Amsakar Achmad dan para tetamu, ia merandai ruang demi ruang dan sempat menaja group photo di ruang “Khasanah Melayu” yang berada di lantai bawah museum.
Usai disambangi sang wali kota, Kadisbudpar Ardi Winata tersenyum sumringah. Setelah berjibaku praktis hampir satu tahun terakhir, katanya, museum akhirnya officially launched.
“Ini baru 70 persen. Perjalanan masih panjang. Tapi kita sudah torehkan sejarah, Museum Batam sah jadi bagian dari 475 museum yang dimiliki Indonesia,” ucapnya bangga.
Untuk diketahui, memiliki museum adalah sebuah penantian panjang bagi warga Batam. Sejak masif dibangun tahun 1971, kota pulau ini zonder museum. Tiga museum tematik, telah lebih dulu eksis namun tidak satu pun yang tertancap di mainland. Museum Cik Puan Bulang, ada di Bulang Lintang, Museum Gasing di Belakangpadang dan Museum Eks Kamp Vietnam bercokol di Pulau Galang. Dua yng tersebut awal, bahkan oleh beberapa sebab, dah bertahun-tahun tak lagi beroperasi.
Nah, kini, Raja Ali Haji sudahlah berdiri. Jom jaga. Berkontribusilah, sekecil apa pun itu… akan berarti.. (eri)








