Karimun (gokepri.com) – Pagi masih berkabut. Rina (16), siswi SMAN 6 Kundur pamit kepada orang tuanya. Dia turun dari rumah menuju sekolah.
Sepintas, penampilan Rina sama dengan anak sekolah pada umumnya. Berbaju putih dan rok abu-abu. Dia juga menyandang tas. Namun, ketika pandangan dialihkan ke bawah, ternyata remaja itu tak memakai sepatu.
Rina bukannya tak punya sepatu. Gadis sawo matang itu sebenarnya pakai sepatu ke sekolah. Hanya saja, sepatunya itu disimpannya dalam tas. Sepatu itu baru akan dikenakan setelah sampai di sekolah.
Dengan langkah riang, Rina berjalan sambil ‘nyeker’ menyusuri jalan tanah yang lembab.
Di jalan, Rina tidak sendiri. Ternyata, hampir semua teman-temannya juga sekolah tanpa sepatu. Sama seperti Rina, teman-temannya juga menyimpan sepatunya dalam tas.
Mereka nampak bersenda gurau menyusuri jalanan tanah merah. Para siswa itu terkadang harus melompati genangan air di jalanan yang becek itu.
“Kami bawa sepatu, kok Om. Tapi sepatu kami simpan dalam tas. Ada juga anak cowok yang sepatunya dibawa pakai kantong kresek. Begitu sampai di sekolah, sepatu kami keluarkan baru kami pakai. Percuma juga bawa sepatu dari rumah, karena begitu sampai di sekolah akan penuh lumpur,” tutur Rina, tersenyum simpul.
Apa yang dialami Rina terjadi pada 5 tahun lalu tepatnya November 2018, saat jalanan di kampungnya itu belum tersentuh aspal.
Namun sekarang, pemerintah daerah mulai menganggarkan pengaspalan jalan di Pulau Belat.
Kecamatan Belat menerima kucuran dana Rp20 miliar dari Instruksi Presiden (Inpres) untuk pembangunan infrastruktur jalan.
Selain Belat, Kecamatan Kundur Utara menerima anggaran Rp29 miliar dan Kundur Barat Rp50 miliar.
“Pada tahun anggaran 2023 ini pemerintah pusat mengucurkan dana Inpres sebesar Rp 100 miliar ke Kabupaten Karimun,” ujar Aunur Rafiq, Rabu, 6 September 2023.
Dikatakan, pembangunan ruas jalan yang dibangun merupakan jalan utama tersebut menjadi urat nadi bagi masyarakat Kundur yang harus dirawat.
“Selama ini ada yang beranggapan pembangunan hanya dilaksanakan di Pulau Karimun saja, padahal nyatanya kan dilakukan pemerataan hingga ke pulau-pulau,” pungkasnya.
Penulis: Ilfitra








