Mesin Ekonomi Batam Semakin Melaju

PMDN Batam
Pembangunan gedung-gedung tinggi di kawasan Thamrin City, Nagoya, Kota Batam, September 2025. GOKEPRI/Candra Gunawan

BATAM (gokepri) – Lonjakan investasi dan ekspansi industri mengerek pertumbuhan ekonomi Batam hingga 7,49 persen pada akhir 2025. Namun konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya mengikuti laju ekspansi tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat pertumbuhan ekonomi kota industri tersebut pada triwulan IV 2025 mencapai 7,49 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 3,27 persen.

Lonjakan di penghujung tahun itu sekaligus menutup 2025 dengan pertumbuhan ekonomi Batam 6,76 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota ini mencapai Rp253,64 triliun.

HBRL

Baca Juga: Konflik Iran-Israel, Pemerintah Antisipasi Dampak Ekonomi

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad mengatakan kinerja tersebut mencerminkan kuatnya peran industri dan investasi dalam mendorong ekonomi kota itu.

“Batam tumbuh karena industri dan investasi. Ketika investasi meningkat 9,53 persen dan industri pengolahan menyumbang lebih dari 57 persen terhadap PDRB, itu menunjukkan mesin produksi Batam benar-benar bergerak,” kata Amsakar, Kamis 5 Maret 2025.

Sepanjang 2025, grafik ekonomi Batam menunjukkan tren yang menanjak hampir setiap triwulan. Pada triwulan I, ekonomi tumbuh 5,17 persen. Angka itu meningkat menjadi 6,66 persen pada triwulan II, lalu 6,89 persen pada triwulan III, sebelum akhirnya mencapai puncaknya 7,49 persen pada triwulan IV.

Menurut Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, akselerasi pada akhir tahun menjadi sinyal bahwa investasi yang masuk mulai bertransformasi menjadi aktivitas produksi nyata.

“Pertumbuhan yang melonjak di akhir tahun menunjukkan ekspansi industri di Batam mulai menghasilkan output ekonomi riil,” kata Li Claudia. Ia menilai momentum ini dapat menjadi fondasi untuk menjaga laju pertumbuhan pada 2026.

Data BP Batam menunjukkan realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp69,3 triliun. Angka tersebut mempertegas posisi Batam sebagai salah satu tujuan utama investasi industri di kawasan barat Indonesia.

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan investasi yang masuk tidak lagi sekadar pembangunan fasilitas, tetapi mulai memasuki fase ekspansi kapasitas produksi.

“Manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi Batam dengan kontribusi 57,01 persen terhadap PDRB,” ujarnya.

Selain industri pengolahan, beberapa sektor lain juga mencatat pertumbuhan tinggi. Sektor listrik dan gas tumbuh 11,90 persen, sementara real estate meningkat 14,70 persen. Kedua sektor ini biasanya menjadi indikator meningkatnya aktivitas industri dan pembangunan kawasan ekonomi baru.

Efek Domino ke Tingkat Provinsi

Dinamika ekonomi Batam turut mempengaruhi kinerja ekonomi Provinsi Kepulauan Riau secara keseluruhan. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau mencatat ekonomi provinsi itu tumbuh 6,94 persen pada 2025. Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi sejak 2017.

Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto menyebut angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir sekaligus melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran lima persen.

“Capaian ini juga menjadi yang tertinggi di Sumatera,” kata Rony.

Struktur ekonomi Kepri masih sangat bergantung pada industri pengolahan, yang menyumbang 41,57 persen terhadap total ekonomi daerah. Sektor ini sendiri memberikan kontribusi 3,14 persen terhadap pertumbuhan ekonomi 2025.

Di sisi lain, sektor pertambangan mulai menunjukkan lonjakan signifikan. Hal itu dipicu oleh mulai beroperasinya sejumlah proyek migas di Natuna dan Anambas.

Selain dua sektor tersebut, konstruksi dan perdagangan juga ikut menopang aktivitas ekonomi. Sektor konstruksi sendiri memiliki porsi 19,87 persen dalam struktur ekonomi Kepri.

Meski pertumbuhan ekonomi melesat, BI Kepri mencatat ada satu komponen yang belum sepenuhnya mengikuti laju ekspansi tersebut: konsumsi rumah tangga.

Menurut Rony, pola di Kepri agak berbeda dibandingkan tren nasional. Secara umum di Indonesia, pertumbuhan ekonomi biasanya berjalan seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Namun di Kepri, pertumbuhan lebih banyak digerakkan oleh investasi dan industri.

“Masih ada ruang untuk mendorong konsumsi agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih kuat dan inklusif,” ujarnya.

Jika konsumsi masyarakat meningkat, kata dia, dampak pertumbuhan ekonomi akan lebih terasa pada lapisan masyarakat yang lebih luas.

Baca Juga: Industri Pengolahan dan Migas Jadi Motor Ekonomi Kepri 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait