Menjelajahi Warisan Sejarah yang Menjadi Daya Tarik Pulau Penyengat

Gedung Tabib di Pulau Penyengat. Foto: gokepri/Engesti Fedro

Pulau Penyengat tak hanya cantik, tapi juga menawarkan wisata sejarah Melayu yang terkenal dengan budaya dan masa perjuangan melawan kolonial. Seperti Benteng Bukit Kursi hingga balai adat desa Indra Perkasa.

Penulis: Engesti Fedro

Membahas Pulau Penyengat, tak lepas dari cerita menarik di balik keistimewaannya. Pulau dengan luas sekitar 2 km persegi ini menyimpan peninggalan sejarah dan menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain cerita melegenda tentang makam Raja Ali Haji, pelopor bahasa Indonesia, masih banyak lagi sejarah yang tersimpan di pulau ini.

Menelusuri Jejak Sejarah di Gedung Tabib

Gedung Tabib, Herenhuis van Radja Akhmad Thabieb. Begitulah nama bangunan ini. Gedung Tabib, bangunan yang menyisakan susunan batu merah rapuh, menyimpan cerita tentang seorang tokoh besar di masa lampau. Tokoh tersebut adalah Raja Ahmad Thabib, seorang dokter dari Pulau Penyengat.

Pada masanya, sebelum masehi, ia dikenal sebagai tabib yang pandai meracik obat. Bahkan, pada saat itu usianya belum genap 20 tahun tetapi namanya sudah sampai ke mana-mana hingga ke Johor. Obat racikannya yang paling melegenda adalah obat herbal Syarbat Zanjabil yang dikemas dalam botol dari ragam rempah-rempah dan dapat mengobati sakit jantung, kuning, dan lain-lain.

Gedung Tabib dulunya merupakan rumah Ahmad Thabib yang juga dikenal sebagai ulama dan sastrawan. Bangunan yang sudah tidak beratap ini tetap menarik perhatian dan menjadi tempat favorit di Pulau Penyengat, baik untuk mencari tahu sejarahnya maupun mengabadikan potret bersama.

Baca Juga:

Menjelajahi Rahasia Gedung Mesiu

warisan sejarah pulau penyengat
Papan informasi Gedung Mesiu. Foto: gokepri/Engesti Fedro

Gedung Mesiu, tempat rahasia menyembunyikan obat meriam dan senapan, merupakan bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran tidak terlalu besar. Gedung ini terbuat dari beton yang lebih tebal daripada bangunan kolonial pada umumnya. Bangunan yang kini dikategorikan sebagai Cagar Budaya Nasional ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-18 pada masa pemerintahan Raja Ali Haji saat pembenahan benteng-benteng di Pulau Penyengat untuk melanjutkan perang.

Diketahui Gedung Mesiu dulunya ada 4, tetapi sekarang tinggal 1 sebagai peninggalan sejarah yang juga menjadi destinasi wisata favorit bagi para pengunjung Pulau Penyengat. Gedung ini berada di sebelah Selatan Masjid Raya Penyengat dengan pintu masuk utama berbentuk melengkung di bagian atas dan daun pintu terbuat dari kayu. Pintu utama tersebut juga menjadi salah satu latar belakang favorit untuk diabadikan dalam kamera.

Menyelami Nuansa Melayu di Balai Adat Desa Indera Perkasa

warisan sejarah pulau penyengat
Balai Adat Desa Indra Perkasa. Foto: gokepri/Engesti Fedro

Gedung yang ikonik dengan dinding pintu masuknya terdapat karya sastra berupa puisi lama yang dikenal dengan sebutan Gurindam 12 ini adalah pusat nuansa Melayu yang kental akan budaya dan sejarah.

Balai Adat yang berbentuk rumah panggung merupakan destinasi favorit bagi warga setempat maupun para pengunjung dari luar Pulau Penyengat. Di dalam bangunan tersebut terdapat panggung pelaminan khas Melayu dengan kombinasi tiga warna merah, kuning, hijau yang menarik perhatian.

Selain itu juga terdapat Rumah Baca Pulau Penyengat yang bisa menambah wawasan mengenai budaya dan adat Melayu. Di sana kita juga bisa menjajal Pakaian Adat Melayu Pulau Penyengat dengan biaya sewa kurang lebih Rp25.000.

warisan sejarah pulau penyengat
Foto: gokepri/Engesti Fedro

Sementara itu, di bawah rumah panggung tersebut terdapat sumur air tawa yang berusia berabad-abad lamanya. Airnya hingga sekarang masih mengalir, jernih, dan sangat bersih. Bahkan, bisa langsung diminum tanpa perlu dipanaskan.

warisan sejarah pulau penyengat
Sumur Air Tawa. Foto: gokepri/Engesti Fedro

Pelindung di Benteng Bukit Kursi

warisan sejarah pulau penyengat
Meriam di Benteng Bukit Kursi. Foto: gokepri/Engesti Fedro

Terletak di atas bukit dengan ketinggian 40 meter, Benteng Bukit Kursi menawarkan panorama Pulau Penyengat menakjubkan. Benteng Bukit Kursi dibangun pada masa Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah. Pembangunan benteng ini berkaitan dengan fungsi Pulau Penyengat pada masa Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Pada masa Raja Haji Fisabilillah (1777-1784) terjadi perang antara Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dengan Belanda. Raja Haji Fisabilillah kemudian membangun kubu–kubu pertahanan di wilayah Kepulauan Riau.

Saat itu, Pulau Penyengat dijadikan sebagai basis pertahanan utama, sehingga dibangunlah kubu pertahanan di tiga bukit, salah satunya Benteng Bukit Kursi. Dari lokasi Benteng Bukit Kursi, pergerakan musuh dari arah laut dapat dengan mudah diawasi. Posisi benteng yang berada di perbukitan juga memudahkan untuk memberikan tembakan langsung kepada musuh.

Benteng Bukit Kursi memiliki bentuk segi empat yang kokoh, terbuat dari batu bauksit dan kayu. Di masa lampau, benteng ini dilengkapi dengan delapan meriam yang terpasang di sudut-sudutnya. Kini, meskipun meriam yang tersisa tidak sebanyak dulu, Benteng Bukit Kursi tetap menjadi ikon sejarah dan budaya yang patut dikunjungi.

Bagi para pengunjung, mendaki Bukit Kursi untuk mencapai benteng ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Di sepanjang jalan, pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam yang indah dan deretan bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Melayu-Riau.

Pulau Penyengat: Destinasi Religi dan Daya Tarik Wisata

warisan sejarah pulau penyengat
Foto: gokepri/Engesti Fedro

Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, mengatakan Pulau Penyengat adalah pulau bertuah dan bersejarah di Kepulauan Riau. Pulau ini menjadi destinasi religi terbaik yang dimiliki oleh Kepulauan Riau.

“Banyak perubahan yang sudah kami lakukan agar wisatawan yang berkunjung ke Pulau ini bisa nyaman,” kata dia, belum lama ini.

Selain itu, Pulau Penyengat juga menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Guntur Sakti, menargetkan 100 ribu kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kota Tanjungpinang di tahun 2024 ini.

Target ini sesuai dengan penegasan kepala dinas kebudayaan dan pariwisata kota Tanjungpinang Muhammad Nazri diberbagai media beberapa waktu lalu.

Guntur menegaskan target tersebut untuk mendukung total target kunjungan 3 juta wisman ke Kepri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno di tahun 2024.

Untuk mewujudkan hal itu, Dispar Kepri mengharapkan adanya dukungan dari para pemangku kepentingan kepariwisataan di Kota Tanjungpinang, untuk memberikan jaminan kelancaran dan kenyamanan aksebilitas bagi para wisatawan saat datang berkunjung ke Kota Tanjungpinang. “Kita butuh kontribusi dari semua pihak agar aksebilitas wisatawan itu bisa lancar,” kata dia.

Dengan berbagai keistimewaan yang dimiliki, Pulau Penyengat menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Keindahan alam, peninggalan sejarah, dan budaya Melayu yang kental menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

***

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BAGIKAN