BATAM (gokepri) — Investasi di Batam terus melesat sepanjang 2025. Uang triliunan rupiah mengalir, ekonomi tumbuh stabil di atas enam persen. Namun deretan angka positif itu tak selaras dengan penurunan pengangguran. Hingga Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kepulauan Riau masih bertengger di peringkat empat tertinggi nasional, dengan Batam sebagai penyumbang terbesar.
Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat realisasi investasi hingga Triwulan III/2025 telah mencapai Rp54,7 triliun, atau sekitar 91 persen dari target tahunan Rp60 triliun. Nilai ini tumbuh 25,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut memperkuat posisi Batam sebagai salah satu magnet investasi utama di Indonesia, di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi Batam pun relatif stabil. Pada Triwulan II/2025, ekonomi Batam tumbuh 6,66 persen, nyaris tak berubah dari tahun sebelumnya. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepulauan Riau mencapai 66,72 persen, menjadikan Batam tulang punggung ekonomi provinsi kepulauan itu.
Namun angka-angka makro tersebut belum sepenuhnya tercermin di pasar tenaga kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau menunjukkan TPT pada 2025 berada di kisaran 6,45 hingga 6,89 persen. Batam mencatat tingkat pengangguran tertinggi di provinsi ini, sekaligus menempatkan Kepri dalam jajaran daerah dengan pengangguran tertinggi di Indonesia.
Di Batam sendiri, BPS mencatat TPT pada Agustus 2024 mencapai 7,68 persen. Jumlah warga yang belum bekerja tercatat 50.431 orang. Dari angka itu, lebih dari separuhnya merupakan lulusan SMA, disusul lulusan SMK. Pola ini konsisten dalam beberapa tahun terakhir: pengangguran terbesar justru datang dari kelompok pendidikan menengah.
Fenomena tersebut memperlihatkan jurang antara laju investasi dan kemampuan pasar kerja menyerap tenaga kerja lokal. Sebagian besar investasi yang masuk ke Batam bergerak di sektor padat modal. Sektor-sektor ini membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus, sertifikasi, dan penguasaan teknologi, tetapi relatif minim menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Masuknya investasi pusat data atau data center memperjelas gambaran ini. Nilai investasinya besar dan berkontribusi signifikan terhadap PDRB serta citra Batam sebagai simpul infrastruktur digital regional. Namun setelah fase konstruksi selesai, operasional data center umumnya hanya memerlukan tim kecil dengan keahlian tinggi. Dampaknya terhadap penurunan pengangguran, terutama bagi lulusan SMA dan SMK, relatif terbatas.
Di sisi lain, Batam tetap menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah. Setiap kabar masuknya investasi baru hampir selalu diikuti arus migrasi tenaga kerja. Pertumbuhan angkatan kerja yang cepat ini kerap tidak seimbang dengan ketersediaan lapangan kerja yang sesuai, sehingga pengangguran sulit turun meskipun ekonomi tumbuh.
Masalah lain datang dari sisi perizinan. Pelaku usaha masih menghadapi proses perizinan yang melibatkan lebih dari satu otoritas, baik di daerah maupun pusat. Meski upaya penyederhanaan terus dilakukan, kepastian waktu dan konsistensi regulasi masih menjadi keluhan. Dalam praktiknya, keterlambatan perizinan dapat menunda operasional usaha dan berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja.
Ketua Apindo Batam Rafki Rasyid mengingatkan agar pemerintah tidak hanya melihat besarnya nilai investasi. “Perlu dilihat apakah pertumbuhan ini ditopang industri padat karya atau padat modal. Kalau padat modal yang dominan, dampaknya ke lapangan kerja tentu terbatas,” ujarnya.
Rafki mengapresiasi daya saing Batam, terutama kedekatannya dengan Singapura dan status kawasan perdagangan bebas. Namun ia mengakui, persoalan perizinan masih menjadi pekerjaan rumah. “Pelimpahan kewenangan ke BP Batam sudah berjalan, tapi perlu waktu agar sistem benar-benar optimal. Mudah-mudahan awal 2026 prosesnya bisa lebih cepat,” katanya.
Para pengamat menilai tantangan Batam ke depan bukan lagi sekadar menarik investasi, melainkan memastikan dampaknya lebih inklusif. Penguatan pendidikan vokasi, peningkatan keterampilan lulusan pendidikan menengah, diversifikasi sektor ekonomi yang lebih padat karya modern, serta perizinan yang lebih ringkas dinilai krusial.
Dengan realisasi investasi yang nyaris menyentuh target dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Batam memiliki fondasi yang kuat. Namun tanpa kebijakan ketenagakerjaan dan pengembangan sumber daya manusia yang sejalan dengan arah investasi, kota industri ini berisiko terus terjebak dalam paradoks lama: ekonomi tumbuh cepat, tetapi pengangguran turun pelan.
Baca Juga: Bagaimana Industri Hulu Migas Menggerakkan Ekonomi Kepri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









