JAKARTA (gokepri) – Peluang investasi properti Indonesia mulai meluas ke luar Jakarta seiring tumbuhnya kawasan industri dan infrastruktur digital. Investor kini perlu lebih cermat memilih lokasi dan jenis aset.
Jakarta masih menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, tetapi peluang properti mulai terbuka di koridor ekonomi lain. Pembangunan infrastruktur, diversifikasi industri, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan infrastruktur digital mengubah cara investor menentukan lokasi serta jenis aset yang dibidik.
Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan pertumbuhan properti tidak lagi hanya bergantung pada permintaan pasar. Perubahan aktivitas ekonomi dan munculnya sektor-sektor baru turut menentukan kawasan yang berpotensi menarik investasi.
“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia dalam keterangan tertulis, Selasa 20 Oktober 2026.
Baca Juga: REI Optimistis Pasar Properti Batam Tetap Bergairah
Dalam laporan Planning for a Multipolar World: Real Estate Strategies Across Southeast Asia in 2026 and Beyond, JLL mengidentifikasi tiga bidang yang berpotensi membuka peluang investasi properti. Ketiganya adalah diversifikasi manufaktur, pengembangan pusat data dan infrastruktur digital, serta optimalisasi dan perubahan fungsi bangunan.
Pada sektor industri dan logistik, perusahaan yang mendiversifikasi rantai pasok membutuhkan lokasi yang terhubung dengan koridor ekonomi. Perubahan ini berpotensi mendorong pengembangan kawasan industri, menarik investasi institusional, serta membuka ruang bagi relokasi dan ekspansi perusahaan.
Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian, terutama Batang, Kendal, dan Semarang. Dukungan infrastruktur dan peningkatan aktivitas manufaktur dapat memperkuat daya tarik kawasan-kawasan tersebut bagi pengembangan properti industri dan logistik.
Peluang lain muncul dari kebutuhan infrastruktur digital. Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), investasi komputasi awan (cloud computing), dan kebutuhan penyimpanan data di dalam negeri mendorong permintaan terhadap pusat data.
Perkembangan tersebut membuka peluang investasi pada aset alternatif, terutama di lokasi strategis yang mampu mendukung operasional pusat data. Namun, daya tarik kawasan ini juga bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk pasokan listrik dan konektivitas jaringan.
Sementara itu, perubahan kebutuhan pasar menekan pemilik gedung perkantoran dan ritel lama untuk meninjau kembali strategi pengelolaan aset. Di Jakarta, pemilik bangunan dapat meningkatkan kualitas gedung atau mempertimbangkan perubahan fungsi agar tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Pembangunan infrastruktur turut mengubah prospek properti di berbagai wilayah. JLL menyoroti pengembangan fase kedua MRT Jakarta, rencana perpanjangan jaringan kereta cepat, serta pengembangan Pelabuhan Patimban sebagai proyek yang berpotensi memperkuat konektivitas antarkawasan dan mendukung pertumbuhan industri di luar pusat ekonomi utama.
Country CEO & Southeast Asia JLL Michael Glancy mengatakan pemusatan aktivitas bisnis dan peralihan menuju properti berkualitas tinggi masih mewarnai pasar. Namun, kebijakan desentralisasi melalui pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan juga membuka peluang pertumbuhan di kawasan lain.
Perubahan tersebut memengaruhi kebutuhan ruang kerja, lokasi bisnis, dan pengembangan kawasan ekonomi di Asia Tenggara. Investor perlu membaca perubahan itu agar keputusan pembelian, pengembangan, atau pengelolaan aset sesuai dengan arah pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi pengguna properti, JLL menilai pemilihan lokasi perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar harga tanah atau bangunan. Konektivitas dengan koridor ekonomi, kebutuhan operasional, kualitas ruang kerja, serta penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) juga menjadi pertimbangan.
Head of Research & Advisory for Southeast Asia JLL Dr. Yang Liang Chua mengatakan Indonesia masih menjadi tujuan investasi properti, tetapi pasar semakin selektif dalam menentukan lokasi dan jenis aset. Selektivitas ini membuat pemahaman terhadap prospek setiap kawasan semakin penting bagi investor.
“Ke depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh eksposur terhadap kawasan secara luas, tetapi juga oleh kemampuan investor menempatkan modal secara tepat pada koridor, sektor, dan strategi aset yang memiliki prospek terbaik,” ujar Yang. ANTARA
Baca Juga: Batam, Kota dengan Kenaikan Harga Rumah Tertinggi di Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






