Menanam Cabai Sistem Terasering di Lereng Bukit Bungo Tanjuang

Desniar petani asal kubangan bersama anaknya Desmi tengah memetik cabai rawit di ladang dengan sistem terasering.

Tanah Datar (gokepri.com) – Sebagian daerah di Sumatera Barat (Sumbar) dikenal sebagai penghasil sayur mayur dan tanaman hortikultura.

Salah satu daerah penghasil sayuran di Sumbar adalah Nagari Bungo Tanjuang, Kabupaten Tanah Datar.

Nagari Bungo Tanjuang terdiri dari daerah perbukitan dengan topografi tanah yang miring.

HBRL

Sistem pertanian dengan tanah miring di perbukitan disebut terasering.

Bukan hanya soal tingkat kemiringan tanah, namun hama babi juga masih kerap mengganggu petani di sana dalam mengelola tanah pertanian mereka.

Lalu bagaimana petani di daerah setempat memanfaatkan lahan pertanian dengan kondisi tanah yang memiliki tingkat kemiringan tinggi dan mencegah dari kerusakan hama babi?

Desniar, petani asal Kubangan, Jorong Ampia Rayo, Nagari Bungo Tanjuang, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar mengatakan, ada beberapa cara agar bertani dengan sistem terasering bisa aman dan memiliki hasil pertanian yang meningkat.

Pertama, tanah yang masih ditumbuhi tanaman rambat terlebih dahulu dibersihkan dengan membabatnya hingga bersih.

Kemudian, tanah yang sudah bersih tersebut dibuat petakan dengan lebar sekitar satu hingga dua meter.

“Ketika petakan tanah sudah tersebut, maka kita memilih jenis tanaman apa yang akan ditanam,” ujar Desniar, Sabtu, 21 Mei 2022.

Seperti yang dilakukan Desniar dengan menanam cabai rawit. Setelah lahan terbuka lebar, dirinya kemudian membuat petakan dan menyiapkan lubang untuk diisi bibit cabai rawit.

Agar tanamannya cepat tumbuh dengan subur, Desniar rutin memberikan pupuk, baik pupuk buatan maupun pupuk kandang.

Karena lahan pertanian milik Desniar berada di hutan yang masuk dalam kawasan Bukit Barisan yang masih banyak dijumpai babi sebagai hama bagi petani, maka dirinya memagari tanamannya dengan jaring nilon.

“Pagar yang terbuat dari jaring nilon ini fungsinya untuk mencegah agar babi tidak masuk ke dalam ladang,” tuturnya.

Sekali panen, dia berhasil memanen sekitar 20 kilogram.

Untuk memasarkan hasil pertaniannya pun tidak begitu sulit, cabai rawit yang dipanen sekali seminggu bisa langsung dipasarkan ke Balai Akaik (pasar sekali sepekan) Pitalah di Nagari Bungo Tanjuang.

Pedagang mampu menghargai cabai rawit milik Desniar sebesar Rp23 ribu per kilogram.

“Alhamdulillah, hari ini panen cabe sebanyak 10 kilogram. Besok langsung dibawa ke Balai Akaik,” pungkasnya.

Penulis: Ilfitra

Pos terkait