Melihat Prosesi Sembahyang Leluhur Jelang Imlek di Tanjungpinang

Salah satu warga Tionghoa sedang melaksanakan ritual sembahyang leluhur di Vihara Avalokiteswara Graha Tanjungpinang, Jumar (9/2/2024). Foto: Gokepri.com/Engesti

Tanjungpinang (gokepri) – Warga etnis Tionghoa Kota Tanjungpinang melakukan sembahyang leluhur di Vihara Avalokiteswara Graha, salah satu kompleks vihara terbesar di Tanjungpinang, Provinsi Kepri.

Sembahyang ini dilakukan untuk mendoakan para leluhur yang lebih dahulu meninggalkan keluarga. Mereka biasanya datang dengan membawa makanan kesukaan para leluhurnya.

Pengelola Vihara Avalokiteswara Graha, Sujud mengatakan, ritual sembahyang leluhur merupakan ajaran dan kebiasaan masyarakat Tionghoa menjelang Imlek.

Baca Juga: Jelang Imlek, Ikan Dingkis di Tanjungpinang Langka

“Biasanya seminggu menjelang Imlek banyak datang datang untuk berdoa,” kata dia, Jumat 9 Februari 2024.

Ia lalu menjelaskan tata cara berdoa masyarakat Tionghoa. Biasanya pihak keluarga membawa kertas berwarna kuning mengilap serta kertas putih dengan ornamen perak di tengahnya.

Kemudian jemaat menyalakan hio (dupa) lalu ditancapkan di altar. Kertas berwarna kuning mengilap serta kertas putih dengan ornamen perak itu nantinya digunakan untuk mengelap batu tempat para leluhurnya diletakkan.

Selanjutnya masyarakat melakukan sembahyang leluhur, dan dilanjutkan dengan menyalakan lilin serta hio dan mempersembahkan makanan untuk leluhur.

“Pihak keluarganya biasanya membawa makanan kesukaan keluarganya selama masih hidup,” kata dia.

Bp batam banner link sep 2027

Ia mengatakan sampai H-1 menjelang Imlek sudah lebih dari 100 orang yang datang untuk berdoa di vihara tersebut. Pihak pengelola biasanya menyediakan meja untuk pihak keluarga berdoa dan meletakkan makanan.

“Persiapan paling meja aja sama dupa,” kata dia.

Sementara itu, salah warga Tionghoa yang sedang melakukan ritual di vihara, Hendra mengatakan sembahyang leluhur yang dilakukan merupakan kewajiban masyarakat Tionghoa menjelang Imlek.

“Sama keluarga satu mobil lah datang mendoakan,” kata dia.

Ia juga membawa, sejumlah makanan kesukaan leluhurnya. Kata dia, ritual sembahyang leluhur merupakan tradisi untuk menghormati arwah para leluhur.

“Nanti malam baru acara makan bersama,” kata dia .

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

Pos terkait