Liverpool Tumbang 0-1 dari Galatasaray, The Reds Terancam di Liga Champions

Liverpool vs Galatasaray
Mario Lemina merayakan gol ke gawang Liverpool. FOTO: REUTERS

ISTANBUL (gokepri) – Liverpool menelan kekalahan tipis 0-1 dari Galatasaray pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions di RAMS Park, Istanbul, Selasa (11/3/2026) dini hari. Gol tunggal Mario Lemina pada babak pertama membuat peluang The Reds untuk melaju ke perempat final berada di ujung tanduk.

Kekalahan tersebut memaksa Liverpool memburu kemenangan pada leg kedua di Anfield, 18 Maret mendatang. Hasil imbang saja tidak cukup bagi tim asuhan Arne Slot untuk membalikkan keadaan setelah tampil kurang padu sepanjang laga di Istanbul.

Galatasaray langsung memanfaatkan atmosfer panas di RAMS Park untuk menekan Liverpool sejak awal pertandingan. Namun peluang pertama justru datang dari tim tamu.

Baca Juga: Liga Inggris: Tim Juru Kunci Hempaskan Liverpool

Baru tiga menit laga berjalan, Florian Wirtz yang kembali menjadi starter setelah pulih dari cedera punggung hampir membuka skor. Ia memotong umpan ceroboh kiper Ugurcan Cakir, tetapi tembakannya dari tepi kotak penalti masih melebar tipis.

Kesempatan itu menjadi penyesalan bagi Liverpool. Galatasaray justru memimpin pada menit ketujuh melalui skema bola mati—situasi yang menjadi kelemahan Liverpool sepanjang musim ini.

Berawal dari sepak pojok, Victor Osimhen melompat lebih tinggi dari Joe Gomez dan menanduk bola ke depan gawang. Mario Lemina yang lolos dari pengawalan Hugo Ekitike dan Milos Kerkez menyambutnya dengan sundulan jarak dekat yang tak mampu dihentikan kiper Giorgi Mamardashvili.

Menurut catatan Opta, Galatasaray hanya membutuhkan satu shot on target untuk mencetak gol pembuka, sementara Liverpool baru benar-benar mengancam kembali menjelang akhir babak pertama.

Pelatih Liverpool Arne Slot mengakui timnya sebenarnya memulai laga dengan baik sebelum kehilangan momentum.

“Kami memulai pertandingan dengan sangat baik dan memiliki tiga atau empat momen bagus. Kesempatan terbesar datang ketika Florian hampir menghadapi gawang kosong, tetapi tidak mampu menyelesaikannya,” ujar Slot.

Setelah tertinggal, Liverpool mencoba meningkatkan intensitas serangan. Namun permainan mereka kerap terputus di lini tengah dan kurang tajam di sepertiga akhir lapangan.

Mohamed Salah, yang mencatat penampilan ke-81 di Liga Champions bersama Liverpool—melewati rekor Jamie Carragher sebagai pemain Liverpool dengan penampilan terbanyak di kompetisi ini—tidak mampu memberi pengaruh besar. Penyerang timnas Mesir itu bahkan ditarik keluar pada menit ke-60 setelah tampil minim peluang.

Sepanjang pertandingan, Liverpool mencatatkan sekitar 57 persen possession dan melepaskan 12 tembakan, tetapi hanya tiga yang tepat sasaran. Sebaliknya, Galatasaray tampil lebih efisien dengan tujuh tembakan dan tiga shot on target.

Kiper Liverpool Giorgi Mamardashvili, yang menggantikan Alisson Becker karena cedera saat latihan, beberapa kali harus melakukan penyelamatan penting. Ia menggagalkan peluang Noa Lang melalui tembakan melengkung serta menepis sundulan Davinson Sanchez pada babak pertama.

Di sisi lain, Victor Osimhen hampir menggandakan keunggulan tuan rumah ketika lolos dari pengawalan, tetapi tembakannya melambung di atas mistar.

Liverpool sebenarnya sempat mencetak gol penyeimbang pada menit ke-70 melalui Ibrahima Konate. Bek asal Perancis itu menyambar sepak pojok Dominik Szoboszlai dan memasukkan bola ke gawang Galatasaray.

Namun setelah tinjauan VAR, gol tersebut dianulir karena bola dinilai mengenai tangan Konate sebelum melewati garis gawang.

Keputusan tersebut memicu protes dari Arne Slot yang menilai insiden sebelumnya—tarikan terhadap Virgil van Dijk di kotak penalti—seharusnya menghasilkan penalti bagi Liverpool.

“Jika gol itu benar-benar pelanggaran, saya bisa menerimanya. Tetapi sebelum itu ada tarikan pada Virgil yang menurut saya layak mendapat penalti,” kata Slot.

Menurut pelatih asal Belanda itu, tekanan atmosfer di stadion turut memengaruhi jalannya pertandingan.

“Ini tempat yang sangat sulit untuk bermain. Ketika Anda tertinggal 1-0, situasinya menjadi lebih berat,” ujarnya.

Kemenangan ini memperpanjang rekor impresif Galatasaray di kandang pada fase gugur Liga Champions. Klub Turki tersebut kini tak terkalahkan dalam 11 laga kandang knockout sejak 1973.

Atmosfer suporter tuan rumah juga menjadi faktor penting. Sebelum pertandingan dimulai, fans Galatasaray kembali membentangkan spanduk “Welcome to Hell”, slogan yang terkenal sejak menyambut Manchester United pada laga Eropa tahun 1993.

Bagi Liverpool, kekalahan ini memperpanjang catatan buruk mereka di Istanbul musim ini. Sebelumnya, The Reds juga kalah 0-1 dari Galatasaray pada fase grup September lalu.

Musim Liverpool sendiri tengah berjalan tidak stabil. Di Liga Inggris, mereka masih tertahan di peringkat keenam klasemen sementara, jauh dari konsistensi yang mengantarkan mereka menjadi juara musim lalu.

Meski kalah, Liverpool masih memiliki peluang membalikkan keadaan pada leg kedua di Anfield. Dalam sejarah Liga Champions, Liverpool beberapa kali mampu melakukan comeback dramatis di kandang sendiri.

Namun mereka harus memperbaiki koordinasi lini belakang dan efektivitas serangan jika ingin menghindari salah satu kegagalan terbesar musim ini.

Sementara itu, Galatasaray hanya membutuhkan hasil imbang di Anfield untuk memastikan tiket ke perempat final Liga Champions—pencapaian yang terakhir mereka raih lebih dari satu dekade lalu. AFP

Statistik Pertandingan (Opta)
• Skor: Galatasaray 1-0 Liverpool
• Penguasaan bola: Galatasaray 43% – 57% Liverpool
• Tembakan: 7 – 12
• Shot on target: 3 – 3
• Sepak pojok: 4 – 6

Baca Juga: Tundukan Liverpool 2-1, Man City Tempel Arsenal di Klasemen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait