Batam tumbuh pesat sebagai kota industri dan pariwisata tapi punya problem ketahanan pangan yang belum mendapatkan solusi jangka panjang. Kebutuhan tinggi tapi stok kerap hilang, harga pun suka bergejolak.
Ditulis oleh: Engesti
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam Gustian Riau selalu mendapat komplain terkait ketersedian bahan pangan dan harga. Komplain itu datang dari sejumlah kalangan distributor, ibu rumah tangga bahkan wartawan.
Tak jarang pula, sejumlah komoditi di Batam mengalami perubahan yang begitu cepat. Terbaru harga telur, minyak goreng dan cabai yang mengalami kenaikan sampai membuat ibu rumah tangga menjerit. Bukan hanya komoditas itu saja komoditas yang lain juga demikian.
“Kita bukan daerah penghasil. Lahan kita yang di Barelang sana mana cukup untuk kebutuhan Batam. Makanya kita selalu gandeng distributor maupun daerah lain,” kata dia saat dihubungi baru-baru ini.
Bukan daerah penghasil pangan, menurut Gustian wajar jika ada perubahan harga secara cepat. Walapun dirinya selalu memastikan harga dan ketersedian komoditi pokok selalu aman.
“Stok kita selalu aman, kalau harga biasanya ada permainan oleh distributor, kami tetap pantau,” kata dia.
Dengan letak geografis Batam yang tidak memilki potesi yang memadai dalam pertanian membuat Batam perlu bersinergi dengan daerah lain.
Untuk itu, Pemerintah Kota Batam perlu menggandeng daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan di Batam.
Terbaru, Pemerintah Kota Batam, melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau MOU dengan pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara provinsi Sumatera Utara dalam bidang pangan.
Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan mengatakan sejumlah komodias pangan akan dipenuhi dari daerah setempat di antaranya nanas Sipahutar, kentang, jeruk siamadu, kubis, tomat, pisang barangan, padi gogo, padi sawah, kacang tanah, jagung, cabai rawit, cabai merah.
“Jadi wilayah kita penghasil ada beras, tomat, cabai, sayur kacang, padi, jadi produksi pertanian kita terus naik,” kata Nikson dalam pertemuan dengan BP Batam kemarin.
Menurut Nikson dengan adanya MOU ini dapat mensejahterakan petani lokal di Tapanuli Utara serta membantu Pemko Batam dalam memenuhi pasokan pangan masyarakat setempat.
“Kami ingin produksi naik, harga bagus petani sejahtera. Kebetulan Batam ini membutuhkan produksi pertanian yang besar, sektor pangan,” kata dia.
Nantinya pasokan pangan itu akan dikirim langsung lewat Bandara Internasional Hang Nadim Batam agar lebih murah.
“Pak wali akan mencoba menganalisis biaya, bagaimana nanti 2 kali seminggu kargo masuk bandara Silangit di Tapanuli Utara bandara internasional,” kata Nikson.
Sementara itu, Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan kerjasama ini diharapkan ditindaklanjuti melalui dinas terkait, agar pasokan komuditas pangan di daerah setempat bisa terpenuhi.
Batam bukan penghasil pertanian, sehingga untuk memenuhi kebutuan pangan pokok haru mengambil dari daerah lain.
“MoO ini langsung kami tindaklanjuti. Kami hanya ingin kebutuhan pangan terpenuhi masuk semua dan tidak mahal,” kata dia.
Menurunya, selama ini beberapa kebutuhan pangan di kota Batam mengalami kekurangan. Seperti cabai, telur, beras dan lainnya.
“Terkait teknisnya nanti bagaimana akan bahas lagi dengan pak Mardanis (Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian),” kata Rudi.
***
- Baca Juga: Investasi Hotel Terus Berdatangan ke Batam








