Konflik Timur Tengah Memanas, Penerbangan Umrah dari Batam Tetap Jalan

Bandara Hang Nadim
Pjs. Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam, Annang Setia Budhi. GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

BATAM (gokepri) — Penerbangan umrah dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam tetap beroperasi normal meski ketegangan di sejumlah wilayah Timur Tengah meningkat. Pengelola bandara memastikan hingga kini tidak ada gangguan pada jadwal keberangkatan.

Penjabat Sementara Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam (BIB) Annang Setia Budhi mengatakan pihaknya telah mengonfirmasi kondisi tersebut kepada unit operasional dan maskapai.

“Setelah kami konfirmasi ke unit terkait, saat ini penerbangan (umrah) tersebut masih aman,” ujar Annang di Batam, Minggu 1 Maret 2026.

HBRL

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, 201 Tewas dalam Serangan ke Iran

Ia menjelaskan, manajemen bandara terus memantau perkembangan situasi global, terutama yang berkaitan dengan jalur penerbangan menuju Timur Tengah. Koordinasi intensif dilakukan bersama maskapai dan otoritas penerbangan.

Menurut Annang, keselamatan dan keamanan penumpang menjadi prioritas utama. Jika situasi global berdampak langsung pada jalur penerbangan, bandara akan segera mengumumkan informasi resmi kepada masyarakat dan calon jamaah.

Sejumlah wilayah Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir dilaporkan mengalami peningkatan ketegangan menyusul eskalasi konflik.

Pada Sabtu pagi (28/2) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil.

Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikonfirmasi gugur akibat serangan rudal AS-Israel terhadap tempat kerjanya. Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Khamenei.

Sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, Sabtu (28/2). Serangan yang menjangkau 24 dari 31 provinsi itu memicu balasan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Palang Merah Iran (IRCS) menyebut jumlah korban masih bisa bertambah. “Sejauh ini, 747 orang luka-luka dan 201 orang meninggal,” kata organisasi tersebut seperti dikutip kantor berita Mehr.

Eskalasi ini segera menarik perhatian komunitas internasional. Di Markas Besar PBB, New York, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres memperingatkan kawasan berada di ambang konflik lebih luas.

“Saya menyerukan deeskalasi segera. Alternatifnya adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan,” ujar Guterres dalam rapat Dewan Keamanan PBB.

Ia mendesak semua pihak kembali ke jalur diplomasi, terutama terkait program nuklir Iran, dan menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional serta perlindungan warga sipil dan fasilitas nuklir.

Serangan dan balasan ini terjadi di tengah proses perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran yang dimediasi Oman. Tiga putaran pembicaraan sebelumnya berlangsung di Muscat dan Jenewa dengan fokus pada pembatasan pengayaan uranium Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi.

Baca Juga: Iran Tetapkan 40 Hari Berkabung Usai Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait