Keselamatan Kerja Jadi Sorotan di Tengah Ekspansi Investasi Asia Tenggara

Pameran Occupational Safety + Health (OS+H) Asia 2026 di Marina Bay Sands, Singapura, mulai dipadati pengunjung dari berbagai negara pada hari pertama penyelenggaraan, Rabu (9/9/2026). (foto: engesti/gokepri.com)

BATAM (gokepri.com) – Pameran Occupational Safety + Health (OS+H) Asia 2026 di Marina Bay Sands, Singapura, mulai dipadati pengunjung dari berbagai negara pada hari pertama penyelenggaraan, Rabu (9/9).

Pameran yang digelar Messe Düsseldorf Asia (MDA) tersebut berlangsung pada 9-11 September 2026 dengan menghadirkan lebih dari 150 stan yang menampilkan beragam produk dan teknologi keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Sejak pagi, pengunjung berdatangan ke Hall C, Sand Expo and Convention Centre, untuk melihat perkembangan teknologi K3, mulai dari sistem keselamatan berbasis kecerdasan buatan (AI), robotika, drone untuk inspeksi, pelatihan berbasis virtual reality (VR), hingga alat pelindung diri (PPE) pintar.

Teknologi eksoskeleton juga menjadi salah satu perhatian dalam pameran edisi ke-15 tersebut melalui Exo PARK yang dipersiapkan bersama Fraunhofer IPA dan AplusA Asia.

OS+H Asia pertama kali digelar di Singapura pada 1998 dan hingga kini menjadi salah satu pameran K3 yang digelar secara berkala setiap dua tahun. Pada penyelenggaraan tahun ini, pameran tersebut diperkirakan menarik lebih dari 10 ribu pengunjung dari berbagai negara.

Selain menampilkan teknologi, OS+H Asia 2026 juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan melalui forum Workplace Safety Across Borders yang mempertemukan perwakilan Singapura, Indonesia, Malaysia, Thailand dan Korea Selatan.

Forum tersebut membahas perkembangan K3 di tengah semakin terhubungnya aktivitas bisnis dan investasi lintas negara di Asia Tenggara.

Managing Director Messe Düsseldorf Asia (MDA) Lars Wismer mengatakan, meningkatnya konektivitas bisnis melalui rantai pasokan, investasi lintas negara dan operasional perusahaan di berbagai negara membuat aspek keselamatan kerja tidak bisa dipandang secara terpisah.

Menurut dia, perusahaan perlu memahami perbedaan regulasi, karakter tenaga kerja dan prioritas industri di setiap negara tempat mereka beroperasi. Lars juga menyinggung hubungan ekonomi Singapura dengan Batam, Bintan dan Karimun yang telah berlangsung cukup lama.

“Ketika bisnis melintasi batas negara, aspek keselamatan harus ikut melintasinya pula,” ujar Lars.

Ia mengatakan OS+H Asia tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan produk dan teknologi K3, tetapi juga wadah bagi regulator, industri, pemberi kerja dan profesional keselamatan untuk berbagi pengalaman.

“Pameran ini harus menjadi wadah bagi regulator, industri, pemberi kerja, dan para profesional keselamatan untuk bertukar pengalaman dan belajar satu sama lain,” katanya.

Lars berharap, forum tersebut dapat memberikan wawasan praktis bagi organisasi yang telah beroperasi maupun perusahaan yang tengah mempersiapkan ekspansi ke berbagai pasar di Asia Tenggara.
“Saya berharap sesi ini memantik percakapan dan hubungan yang terus berlanjut jauh melampaui sesi-sesi hari ini,” ujarnya.

Forum kemudian dilanjutkan dengan pemaparan perspektif K3 dari lima negara.

Perwakilan Singapura Jaime Lim, Director Major Hazards Department and OSH Specialist Department, Occupational Safety and Health Division, Ministry of Manpower, membawakan topik Singapore’s Workplace Safety & Health: A Vision Zero Mindset.

Staf Ahli Gubernur Kepri Bidang Ekonomi dan Pembangunan Andri Rizal, yang mewakili Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, menyampaikan materi OSH Framework for Foreign Companies Operating in the Riau Islands Free Trade Zones.

Dari Thailand, Dr Nuntachai Punyasurarit, Executive Director Thailand Institute of Occupational Safety and Health (T-OSH), membawakan topik Thailand’s Vision to Promote Safety Culture for Healthy Worker Society within Year 2036.

Sementara dari Korea Selatan, Dong-Young Shin, Head ESG Management & Performance Office, Korea Occupational Safety and Health Agency (KOSHA), memaparkan materi From Regulatory Reform to AI-Driven Prevention: Korea’s Evolving Occupational Safety and Health System.

Adapun Malaysia diwakili Dr Muhamad Ariff Muhamad Noordin, Technical Expert III NIOSH Malaysia, dengan materi OSH Best Practices Across Malaysia’s Industrial Hubs.

Forum lintas negara tersebut menjadi bagian dari rangkaian OS+H Asia 2026 untuk memperkuat pertukaran pengalaman dan praktik keselamatan kerja, khususnya bagi industri yang semakin terhubung melalui investasi dan aktivitas ekonomi lintas batas.

Penulis: Engesti

 

Pos terkait