Keppel Siapkan Listrik Surya di Kepri untuk Pusat Data Singapura

PLTS Pulau Sembur berkapasitas 1 MWp untuk memasok listrik dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Batam.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur di Batam, Kepulauan Riau. Foto: Pertamina NRE

BATAM (gokepri) – Kebutuhan listrik pusat data Singapura membuka peluang bagi energi surya dari Kepulauan Riau untuk menyeberangi laut melalui kabel bawah laut. Keppel menyiapkan proyek pembangkit surya berkapasitas 2 gigawatt yang terhubung dengan pembangkit listriknya di Jurong Island, Singapura.

Rencana tersebut menghubungkan proyek tenaga surya di Kepulauan Riau dengan Keppel Merlimau Cogen (KMC), pembangkit listrik yang berada di dekat kawasan pusat data baru di Jurong Island. Direktur Pelaksana Bidang Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Divisi Infrastruktur Keppel, Janice Bong, menyampaikan rencana itu dalam tur media fasilitas perusahaan, Jumat (18/9/2026) seperti dikutip dari Business Times.

Proyek tenaga surya tersebut dikembangkan Keppel bersama salah satu dana investasinya, dengan integrasi sistem penyimpanan energi menggunakan baterai berskala utilitas. Pengembangan juga mencakup kabel transmisi bawah laut yang menghubungkan pembangkit di Indonesia dengan jaringan listrik di Singapura.

Baca Juga: Usulan Green Premium Jadi Dasar Harga Ekspor Listrik ke Singapura

Kabel tersebut dirancang untuk menyalurkan listrik dari pembangkit surya di Kepulauan Riau menuju Jurong Island. Keppel menyebut kapasitas proyek tenaga surya yang akan terhubung mencapai 2 GW.

Keppel sebelumnya telah memperoleh lisensi bersyarat dari Energy Market Authority (EMA) Singapura untuk mengimpor 300 megawatt (MW) listrik rendah karbon dari Indonesia. Namun, rencana pengembangan dan koneksi pembangkit masih memerlukan persetujuan regulasi serta kajian teknis lebih lanjut.

Pusat data menjadi salah satu calon pengguna listrik dari proyek tersebut. Kedekatan pembangkit KMC dengan kawasan pusat data di Jurong Island membuka peluang pemanfaatan infrastruktur kelistrikan yang sudah tersedia.

“Kami dapat memanfaatkan infrastruktur listrik yang sudah ada di Jurong Island untuk menghadirkan nilai tambah bagi pelanggan,” kata Bong.

Singapura baru-baru ini memberikan alokasi kapasitas pusat data baru sebesar 200 MW kepada empat operator, termasuk Keppel. Perusahaan tersebut berencana menginvestasikan lebih dari 1 miliar dolar Singapura untuk membangun pusat data yang dirancang mendukung kebutuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Jurong Island.

Menurut Bong, koneksi antara KMC dan proyek listrik surya Indonesia dapat membantu Keppel memanfaatkan infrastruktur kelistrikan yang sudah ada. Rencana tersebut memungkinkan pengembangan pasokan energi bagi calon pelanggan pusat data, dengan tetap menunggu persetujuan pengembangan dan regulasi.

Ads bp batam 2026 baru

Keppel juga mengeksplorasi biomethane sebagai bahan bakar terbarukan yang dapat digunakan pada pembangkit listrik berbahan bakar gas alam. Biomethane berasal dari biogas yang dihasilkan melalui penguraian bahan organik, termasuk limbah pertanian.

Salah satu sumber yang dikaji ialah limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) dari Malaysia dan Indonesia. Kedua negara memiliki industri kelapa sawit yang besar sehingga berpotensi menjadi sumber bahan baku biomethane untuk kebutuhan Singapura.

Pemerintah Singapura melalui Economic Development Board memperkenalkan program biomethane sandbox pada tahun lalu. Program tersebut bertujuan mengembangkan rantai pasok biomethane dan mendorong penggunaannya oleh pelaku industri, termasuk Keppel yang menyatakan telah berpartisipasi dalam program tersebut.

Biomethane menjadi salah satu pilihan sumber energi untuk pusat data baru di Jurong Island. Singapura menetapkan persyaratan bahwa pusat data tersebut harus memperoleh sedikitnya 50 persen kebutuhan listrik dari jalur energi hijau yang memenuhi ketentuan.

Selain biomethane, Keppel mengkaji peluang pembangunan unit pembangkit gas yang siap menggunakan hidrogen. Perusahaan tersebut juga telah mengoperasikan Keppel Sakra Cogen, pembangkit listrik siklus gabungan pertama di Singapura yang kompatibel dengan hidrogen.

Pembangkit Sakra berkapasitas 600 MW mulai beroperasi pada Mei dan dapat mencampur hingga 30 persen hidrogen dengan gas alam pada tahap awal. Namun, fasilitas tersebut belum mulai menggunakan hidrogen karena biaya bahan bakar masih tinggi dan rantai pasok globalnya belum berkembang secara luas.

Bong mengatakan pemanfaatan hidrogen akan bergantung pada skala ekonomi yang dapat menekan biaya produksinya.

Hidrogen hijau, yang diproduksi menggunakan energi terbarukan, masih menghadapi tantangan biaya dan ketersediaan pasokan.

Rencana Jaringan Listrik ASEAN

Pengembangan proyek energi rendah karbon Keppel sejalan dengan upaya Singapura mendiversifikasi sumber energi dan mengurangi emisi. Pemerintah Singapura menargetkan impor sekitar 6 GW listrik rendah karbon pada 2035.

Keppel menjadi salah satu dari enam perusahaan yang memperoleh lisensi bersyarat dari EMA untuk mengimpor total 3 GW listrik bersih dari Indonesia. Proyek tersebut masih menghadapi tantangan regulasi, termasuk ketentuan Indonesia yang mewajibkan eksportir listrik bersih memperbarui izin setiap lima tahun.

Persyaratan pembaruan izin tersebut menjadi salah satu perhatian bagi investor dan calon pembeli listrik. Ketidakpastian masa berlaku izin dapat memengaruhi perencanaan investasi dan kepastian pasokan listrik lintas negara.

EMA juga memberikan persetujuan bersyarat kepada tujuh perusahaan lain untuk mengembangkan rencana impor listrik bersih berkapasitas total 6,25 GW. Salah satunya ialah rencana Keppel mengimpor 1 GW listrik dari Kamboja.

Proyek-proyek tersebut berpotensi mendukung pengembangan ASEAN Power Grid (APG), gagasan untuk menghubungkan sistem kelistrikan negara-negara Asia Tenggara. Keppel juga terlibat dalam proyek penyaluran listrik hijau dari Laos ke Singapura melalui Thailand dan Malaysia.

Bong menyebut penguatan jaringan listrik kawasan dapat membantu meningkatkan ketahanan energi menghadapi gangguan dari luar kawasan. Pengembangan jaringan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan sumber listrik dan memperkuat sistem energi regional. BUSINESS TIMES

Baca Juga: Ekspor Listrik ke Singapura Tunggu Kesepakatan Harga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait