Kepala BP Batam: Nongsa-Changi Cable Perkuat Batam sebagai Gerbang Digital Indonesia

Peresmian nongsa changi cable
Peresmian Nongsa-Changi Cable di Nongsa Digital Park, Batam, Senin (20/7). Kabel bawah laut yang menghubungkan Batam dan Singapura itu memperkuat konektivitas digital sekaligus mendukung pengembangan pusat data, layanan komputasi awan, dan industri kecerdasan buatan di kawasan. Foto: BP Batam

BATAM (gokepri) — Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad menilai pendaratan sistem kabel komunikasi bawah laut (SKKL) Nongsa Changi Cable (NCC) menjadi momentum penting bagi Batam untuk memperkuat perannya sebagai gerbang ekonomi digital Indonesia.

Infrastruktur yang menghubungkan Batam dengan Singapura itu diyakini akan meningkatkan daya saing kawasan dalam menarik investasi berbasis teknologi sekaligus mempererat kerja sama digital kedua negara.

Bagi Batam, kabel bawah laut bukan sekadar infrastruktur telekomunikasi. Jalur tersebut menjadi tulang punggung lalu lintas data internasional yang menentukan kecepatan, kapasitas, dan keandalan layanan digital. Semakin kuat konektivitas, semakin besar pula peluang Batam berkembang sebagai pusat data, komputasi awan, kecerdasan artifisial (AI), dan industri digital lainnya.

Baca Juga: Mengapa Kabel Laut Nongsa-Changi Penting bagi Batam dan Singapura

Pernyataan itu disampaikan Amsakar seusai menyambut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong di Pelabuhan NPM, Nongsa, Senin (20/7). Keduanya menghadiri peresmian proyek NCC yang menghubungkan Nongsa Digital Park di Batam dengan Changi, Singapura.

“Hari ini memiliki makna yang sangat strategis, bukan hanya sebagai peresmian pendaratan sistem kabel bawah laut yang menghubungkan Indonesia dan Singapura, tetapi juga sebagai simbol semakin eratnya kolaborasi kedua negara dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Amsakar.

Menurut Amsakar, proyek tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Batam sebagai kawasan investasi. Di tengah persaingan antarnegara menarik investasi digital, keberadaan infrastruktur konektivitas menjadi salah satu pertimbangan utama investor.

Sistem NCC memiliki kapasitas 24 pasang serat optik yang akan memperkuat konektivitas digital Indonesia-Singapura. Infrastruktur ini juga meningkatkan kapasitas pertukaran data internasional serta menghadirkan jaringan telekomunikasi yang lebih cepat, stabil, dan aman.

Amsakar menilai kehadiran NCC semakin mengokohkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa sebagai pusat ekonomi digital nasional. Kawasan itu telah berkembang menjadi lokasi berbagai perusahaan teknologi, pusat data, layanan komputasi awan, pengembangan kecerdasan artifisial, pendidikan digital, hingga industri kreatif berbasis teknologi.

Menurut dia, pengembangan sektor digital tidak dapat dipisahkan dari kesiapan infrastruktur dasar. Karena itu, BP Batam terus mempercepat pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, penyediaan air baku, serta sistem kelistrikan di kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus agar tumbuh selaras dengan investasi digital.

“Komitmen BP Batam adalah memastikan pembangunan infrastruktur fisik dan digital berjalan selaras, sehingga Batam semakin siap menjadi kawasan investasi yang kompetitif, pusat logistik modern, pusat manufaktur berteknologi tinggi, sekaligus digital gateway Indonesia yang menghubungkan ekonomi nasional dengan kawasan Asia Tenggara dan dunia,” kata Amsakar.

NCC merupakan proyek bersama perusahaan infrastruktur digital asal Singapura BW Digital dan Telekomunikasi Indonesia International (Telin), anak perusahaan PT Telkom Indonesia. Pembangunan sistem tersebut memakan waktu sekitar dua tahun dan dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada September 2026.

Kabel bawah laut itu dilengkapi 24 pasangan serat optik yang dirancang menghadirkan konektivitas berkapasitas tinggi dengan latensi rendah. Infrastruktur tersebut mampu menambah kapasitas transmisi data hingga lebih dari 1,6 petabit per detik dengan waktu tunda kurang dari dua milidetik antara Batam dan Singapura.

Kapasitas tersebut disiapkan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan layanan komputasi awan, pusat data berskala besar (hyperscale), pengembangan kecerdasan buatan, serta interkoneksi pusat data di kawasan. Kebutuhan itu diperkirakan terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di Asia Tenggara.

Proyek tersebut juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia, Singapura, dan negara-negara ASEAN. Menurut dia, manfaat itu akan semakin besar apabila ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) berhasil disepakati tahun ini.

Baca Juga: 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait