Kabut Asap Batam Batasi Jarak Pandang Pelayaran, Kapal Kurangi Kecepatan

Pelabuhan batam
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau. Pada Triwulan I 2026, terminal ini mencatat throughput 128.556 TEUs, tumbuh 22 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Foto: BP Batam

BATAM (gokepri) — Kabut asap yang menyelimuti perairan Batam menghambat pergerakan kapal di sekitar Pelabuhan Kabil dan Batu Ampar. Jarak pandang yang terbatas membuat kapal harus mengurangi kecepatan dan mengandalkan peralatan navigasi untuk menghindari risiko tabrakan.

Kapten pandu kapal PT Gemalindo Shipping Batam di Pelabuhan Kabil, Suhendra, mengatakan jarak pandang saat kabut menebal sekitar 1.000 meter atau lebih, tetapi kondisi tersebut sudah menyulitkan pemanduan secara visual. Petugas harus lebih berhati-hati ketika kapal masuk dan keluar pelabuhan, terutama saat ada kapal lain yang berlabuh.

“Jarak pandang sangat terbatas, sehingga kami mengandalkan peralatan elektronik untuk membantu pemanduan,” kata Suhendra, Kamis 15 Oktober 2026.

Baca Juga: Pelabuhan Batam Makin Ramai, Arus Barang Terus Tumbuh

Untuk mengantisipasi kecelakaan, petugas memanfaatkan Automatic Identification System (AIS) dan radar serta memperkuat komunikasi antarkapal. Kecepatan kapal juga dikurangi agar awak memiliki waktu lebih untuk mengantisipasi kondisi perairan di depan.

Hendra mengatakan, kabut asap membuat pergerakan kapal tidak bisa berlangsung secepat biasanya. Keterlambatan kedatangan maupun keberangkatan berpotensi terjadi selama jarak pandang belum membaik.

Keluhan mengenai kabut juga disampaikan sejumlah kapten kapal, termasuk awak kapal yang berlayar dari Malaysia. Namun, besaran keterlambatan dan dampaknya terhadap jadwal pelayaran belum dapat dipastikan karena bergantung pada kondisi masing-masing kapal.

“Keluhan juga datang dari sejumlah kapten kapal, termasuk kapal yang berlayar dari Malaysia. Mereka bilang, ‘Kenapa ada asap nih. Siapa yang buat? Indonesia?’” kata Suhendra.

Selain mengganggu aktivitas pelayaran, kabut asap juga dikeluhkan pekerja pelabuhan. Hendra mengatakan sebagian pekerja mengalami sesak napas dan mata perih, meski jumlah pekerja yang terdampak serta diagnosis gangguan kesehatannya belum dirinci.

“Sangat mengganggu. Banyak karyawan di sini kena ISPA,” ujar Hendra.

Ads bp batam 2026 baru

Sementara itu, aktivitas bongkar muat di lokasi operasi kapal TB Gema 5 masih berlangsung normal. Nakhoda kapal tersebut, Hidayat, memperkirakan jarak pandang di wilayah kerjanya sekitar 400 meter saat kondisi berkabut.

“Untuk kegiatan bongkar muat, tidak ada kendala, masih aman dan lancar,” kata Hidayat.

Menurut Hidayat, jarak pandang dapat menyusut hingga sekitar 250 meter ketika hujan turun bersamaan dengan kabut. Kondisi cuaca juga memengaruhi kegiatan bongkar muat tertentu, terutama pada kapal pengangkut kargo yang pekerjaannya perlu dihentikan sementara saat hujan. “Ada beberapa yang terlambat, ya mau bagaimana, namanya juga alam,” ujarnya.

Aktivitas pelabuhan Batam meningkat sepanjang Januari–Agustus 2026, ditandai pertumbuhan arus peti kemas dan bongkar muat general cargo di atas 8 persen secara tahunan. Terminal Umum Batu Ampar mencatat capaian menonjol setelah volume general cargo mencapai 1,37 juta ton atau 102 persen dari target tahunan.

Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam mencatat penerimaan Rp303,14 miliar hingga Agustus 2026. Pada periode yang sama, arus peti kemas mencapai 542.927 TEUs, bongkar muat general cargo 8.174.446 ton, dan mobilitas penumpang 6.718.075 orang.

Baca Juga: Pelabuhan Batam Kian Efisien, Industri Diuntungkan

Pertumbuhan arus peti kemas mencapai 8,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan bongkar muat general cargo naik 8 persen. Mobilitas penumpang juga meningkat 8,02 persen secara tahunan, menunjukkan kenaikan aktivitas di jalur pelayaran domestik dan internasional.

Di Terminal Umum Batu Ampar, realisasi bongkar muat general cargo mencapai 1.376.034 ton atau 102 persen dari target tahunan. Sementara itu, Terminal Umum Curah Cair Kabil mencatat volume 2.792.750 ton atau 80 persen dari target.

Asap Kian Tebal

Kabut asap masih menyelimuti Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), pada Kamis (15/10/2026) pagi. Kondisi tersebut membuat sinar matahari tertutup kabut dan awan tebal. Asap yang menyelimuti sejumlah kawasan bahkan terpantau lebih pekat dibandingkan hari sebelumnya.

Berdasarkan pantauan di kawasan Batam Center hingga Bengkong, langit tampak berkabut dengan lapisan asap yang cukup tebal. Kondisi ini terjadi ketika masyarakat mulai menjalankan aktivitas pada pagi hari. Meski jarak pandang berpotensi terganggu akibat kabut asap, arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama masih terpantau lancar dan relatif lengang.

Laporan kualitas udara yang dikutip dalam bahan pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Batam mencapai 110,7 dan masuk kategori tidak sehat. Partikulat PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan terhadap partikel tersebut berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

BMKG memprakirakan cuaca di wilayah Provinsi Kepulauan Riau pada Kamis (15/10/2026) secara umum berawan disertai udara kabur akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Forecaster on Duty BMKG Hang Nadim Batam menjelaskan bahwa meskipun kondisi udara cenderung kering dan pembentukan awan hujan berkurang, hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

“Cuaca di wilayah Provinsi Kepri hari ini secara umum diprakirakan berawan disertai udara kabur yang disebabkan oleh asap namun masih berpotensi hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang pada pagi dan siang hari ,” ujar Forecaster on Duty BMKG Hang Nadim Batam dalam laporan narasi cuaca, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Batam Masuk 10 Besar Pelabuhan dengan Pertumbuhan Terpesat di Dunia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti Fedro
Editor: Candra Gunawan

Pos terkait