Ikhtiar Menghadapi Kemarau Panjang di Kepri

Pemprov Kepri Gelar Shalat Istisqa
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad bersama aparatur sipil negara dan warga mengikuti shalat istisqa di halaman Balai Adat Melayu, Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Sabtu (28/3/2025). Shalat tersebut digelar sebagai ikhtiar spiritual menghadapi musim kekeringan yang melanda wilayah itu sekitar sebulan terakhir.​​​​​​​​​​​​​​​​ Foto: Pemprov Kepri

El Nino ekstrem memangkas cadangan air di Batam dan Tanjungpinang. Waduk menyusut, lahan terbakar, warga mengantre air. Pemerintah setempat merespons dengan tangki, satgas dan doa.

BATAM (gokepri) – Senin pagi, 30 Maret 2026, ribuan warga Batam menggelar sajadah di Alun-Alun Engku Putri. Mereka salat istisqa—salat memohon hujan—di bawah terik matahari yang sudah berpekan-pekan tak bergantian dengan awan hujan. Wali Kota Batam Amsakar Achmad yang hadir memimpin, menyebut rumput dan tanaman mengering, lahan di Galang, Sekupang, dan sekitar Pulau Manis sudah terbakar.

Sehari sebelumnya, hal yang sama terjadi di Tanjungpinang. Wali Kota Lis Darmansyah berdiri di Lapangan Pamedan Ahmad Yani bersama jajaran forkopimda dan warga. Di Pulau Penyengat, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad ikut saf di halaman Balai Adat Melayu. Ratusan jamaah menunduk, memanjatkan doa yang sama.

HBRL

Baca Juga: Ketika El Nino “Godzilla” Datang, Seberapa Siap Lumbung Pangan Kita?

Ini bukan sekadar kemarau biasa. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa El Nino tahun ini berpotensi menjadi yang paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir—dijuluki “Godzilla” oleh sejumlah ilmuwan iklim. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator itu tahun ini diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yakni pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa yang memotong pasokan uap air ke daratan.

Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Profesor Erma Yulihastin, menjelaskan kombinasi dua fenomena itu akan memperpanjang kemarau kering di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur sepanjang April–Oktober 2026. “Kedua fenomena tersebut diprediksi akan terjadi bersamaan selama periode musim kemarau di Indonesia sejak April hingga Oktober 2026,” kata Erma dalam unggahan Instagram BRIN Indonesia.

Sementara Jawa mengering, wilayah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru diprediksi menghadapi curah hujan tinggi. Erma mengingatkan pemerintah agar menyiapkan mitigasi ganda, kekeringan di barat, banjir dan longsor di timur.

Pemko Batam gelar salat Istiqa di Alun-alun Engku Putri. (gokepri/engesti)ax

Di Batam, dampaknya sudah terukur. Tiga dari tujuh waduk utama kota ini mencatat penyusutan volume air yang signifikan. Waduk Mukakuning turun 2,4 meter dari batas normal—yang terbesar. Waduk Nongsa menyusut 1,2 meter, dan Waduk Sei Harapan turun 51 sentimeter.

Deputi Bidang Pelayanan Umum Badan Pengusahaan Batam, Ariastuty Sirait, meninjau langsung kondisi waduk-waduk itu pada Kamis (26/3/2026). BP Batam menyatakan pasokan air belum terganggu karena empat waduk lain, Duriangkang, Tembesi, Sei Ladi, dan Rempang—masih berkapasitas memadai. “Ketahanan air di masing-masing waduk masih aman hingga empat dan lima bulan ke depan,” kata Ariastuty.

Namun BP Batam tidak berdiam diri. Skema penjatahan air—atau rationing—sudah disiapkan jika kondisi kemarau berlanjut melampaui perkiraan. Ariastuty juga mengingatkan ancaman lain yang mengintai yakni kebakaran hutan dan lahan di sekitar Daerah Tangkapan Air. Cuaca panas dan angin kencang membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

Waduk batam menyusut
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, meninjau kondisi Waduk Sei Harapan yang mengalami penurunan volume air hingga 51 sentimeter dari batas normal akibat kemarau panjang, Kamis (26/3/2026). BP Batam memastikan pasokan air ke masyarakat tetap aman hingga empat hingga lima bulan ke depan. Foto: Humas BP Batam

Di Tanjungpinang, situasinya lebih mendesak. Kemarau sudah berlangsung lebih dari sebulan. BMKG Tanjungpinang memperkirakan hujan baru akan turun pada Mei 2026, masih lebih dari sebulan lagi.

Wali Kota Lis Darmansyah tidak menunggu. Pemko Tanjungpinang membentuk satgas distribusi air bersih dan menyiagakan tujuh armada tangki dengan kapasitas 27 ribu liter per perjalanan. Armada itu berasal dari BPBD Kota Tanjungpinang, Dinas Sosial, BPBD Provinsi Kepri, dan BPBPK Kepri—dan masih bisa bertambah dari kendaraan pick-up milik organisasi perangkat daerah lain. Sepanjang Maret 2026, sudah 75 ton air bersih disalurkan untuk warga terdampak.

“Distribusi dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Lis. Bagi warga yang membutuhkan, layanan satgas dapat dihubungi di nomor 0821 7325 5567.

Pemko Tanjungpinang juga tengah mempertimbangkan penetapan status siaga atau tanggap darurat kekeringan. Lis mengingatkan warga agar tidak membuka lahan secara sembarangan—ada sanksi pidana bagi pelaku pembakaran.

Di Pulau Penyengat, Sabtu (28/3/2026), Gubernur Ansar Ahmad berdiri dalam saf salat istisqa bersama ratusan warga. Ustadz Muhammad Salim menjadi imam. Ustadz Rustam Efendi menyampaikan khutbah. Saat doa dipanjatkan, gubernur menyebutnya sebagai pelengkap dari semua langkah strategis yang sudah dijalankan pemerintah.

“Kami berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat dikabulkan, sehingga hujan segera turun dan mengakhiri kondisi kekeringan yang terjadi,” kata Ansar.

Wali Kota Amsakar di Batam menyampaikan hal senada. “Mudah-mudahan dengan ikhtiar ini, ke depan kita diberkahi hujan, sehingga bisa membantu mengatasi persoalan air bersih dan menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

BRIN memperingatkan, kemarau “Godzilla” baru benar-benar akan puncak antara April dan Juli 2026. Kepulauan Riau—dengan ketergantungan tinggi pada waduk dan curah hujan—berada tepat di jalur dampaknya. Tangki air, satgas, dan skema rationing sudah disiapkan.

Baca Juga: Tiga Waduk Menyusut, BP Batam Pastikan Pasokan Air Aman hingga Lima Bulan

 

Penulis: Engesti Fedro
Editor: Candra Gunawan

Pos terkait