Batam (gokepri.com) – Harga emas berjangka naik tipis pada akhir perdagangan Kamis (8/10/2020), atau Jumat WIB, saat ketidakpastian seputar pemilihan presiden AS dan spekulasi bahwa stimulus baru akan mendorong inflasi mengimbangi tekanan pada emas dari dolar yang lebih tinggi dan meningkatnya selera terhadap aset-aset berisiko.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, menguat USD4,3 atau 0,23 persen menjadi ditutup pada USD1.895,10 per ounce, menghentikan kerugian selama dua hari berturut-turut.
Emas berjangka terpangkas USD18 atau 0,94 persen menjadi USD1.890,80 pada Rabu (7/10/2020), setelah jatuh USD11,3 atau 0,59 persen menjadi USD1.908,80 pada Selasa (6/10/2020), dan terangkat USD12,5 atau 0,66 persen menjadi USD1.920,10 pada Senin (5/10/2020).
Harga emas hari ini, Jumat (9/10/2020) diperkirakan masih mendapat dorongan dari pelemahan mata uang dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas berjangka Comex untuk kontrak Desember 2020 terpantau menguat 0,42 persen atau 7,9 poin ke level USD1.903 per troy ounce pada pukul 07.53 WIB.
Sementara itu, harga emas di pasar spot juga menguat 0,43 persen atau 8,16 poin ke level USD1.901,98 per troy ounce.
Sementara itu ada “peningkatan selera risiko yang cukup kuat,” dengan dolar yang lebih tinggi juga membebani, ekspektasi inflasi menjaga emas tetap didukung, kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.
“Kami tidak mengatakan bahwa akan ada masalah inflasi segera, tetapi kekhawatirannya adalah jika kebijakan berlanjut dan diulangi setelah pemilihan, maka kami kemungkinan akan melihat dolar yang lebih rendah dan nilai tukar riil yang kemungkinan akan bergerak lebih rendah.”
Emas juga mendapat dukungan setelah sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (8/10/2020) menunjukkan bahwa klaim pengangguran awal AS turun hanya 9.000 menjadi 840.000 pada pekan yang berakhir 3 Oktober, lebih tinggi dari yang diperkirakan 820.000.
Baca Juga:
- Harga Minyak Terkerek Naik, Dipicu Pengurangan Pasokan di Teluk AS, Saudi dan Norwegia
- Harga Emas Hari Ini, Turun USD18 Setelah Trump Setop Pembahasan Stimulus
Sementara itu saham-saham dunia menuju ke level tertinggi satu bulan karena harapan untuk lebih banyak stimulus mengimbangi meningkatnya jumlah kasus virus corona dan lockdown di Eropa, yang pada gilirannya membatasi kenaikan harga emas.
Dolar yang lebih tinggi juga menahan emas.
Tapi, emas masih melonjak 24 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh stimulus pemerintah dan bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia untuk menghidupkan kembali ekonomi karena dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan perlindungan yang aman selama ketidakpastian ekonomi dan politik.
“Ini (emas) akan bergerak lebih tinggi, akan menjadi tidak stabil. Itu akan menjadi kenyataan untuk bulan depan menjelang pemilihan, itu akan menjadi benar untuk dua bulan setelah pemilihan,” kata Jeffrey Christian, mitra pengelola CPM Group.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun dua sen atau 0,08 persen menjadi ditutup pada 23,876 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 2,8 dolar AS atau 0,32 persen menjadi ditutup pada 864 dolar AS per ounce.
Baca Juga:
Dilansir dari Marketwatch, pengutan harga emas didukung oleh optimisme atas prospek baru untuk semacam stimulus fiskal AS.
Harga mempertahankan penguatan setelah data menunjukkan pada klaim pengangguran AS berada di atas perkiraan analis. Klaim pengangguran turun menjadi 840.000 pekan lalu dari 849.000 sepekan sebelumnya, naik seminggu sebelumnya. Ekonom memperkirakan klaim pengangguran turun ke 820.000.
Sebelumnya harga emas merosot ketika Presiden Donald Trump memutuskan akan menghentikan negosiasi soal stimulus fiskal dengan Kongres. Namun, logam telah mendapat dukungan ketika Ketua DPR Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin melakukan pembicaraan stimulus.
“Tren penurunan emas sejak Agustus masih utuh, meskipun ada pemulihan sejak akhir September. Penguatan menembus level tertnggi dalam sepekan membuat segalanya lebih menarik dan dapat menandakan pergeseran momentum,” kata analis pasar senior Oanda, Craig Erlam.(can)
Editor: Candra Gunawan
Sumber: Reuters, Antara









