Bank sampah yang sudah diterapkan di sejumlah wilayah di Batam tak hanya memberikan manfaat ekonomi tapi juga menumbuhkan kesadaran mengelola sampah. Salah satunya gerakan Bank Sampah yang dikelola warga Villa Sampurna II, Delta Villa dan Maya Villa, RW 13, Tiban Baru, Sekupang.
Batam (gokepri) – Pengelola Bank Sampah RW 13 Nilayanti sibuk menimbang sampah kering yang disetor warga Villa Sampurna sejak Rabu pagi, 11 Oktober 2023. Ibu-ibu di sana dengan semangat menyerahkan sampah yang sudah dikumpulkan di rumahnya untuk ditimbang.
Bank sampah yang dirintis sejak 13 bulan lalu itu telah berhasil mengedukasi warga sekitar untuk mulai memilah sampah dari rumah dan menyetornya ke bank sampah. Imbalannya berupa uang dalam bentuk tabungan yang dapat diambil kapan pun. “Biasanya kami buat kesepakatan dengan warga, uang tabungannya mau diambil atau dikumpulkan dulu,” ujar Nilayanti.
Baca Juga: Amsakar Ajak Masyarakat Manfaatkan Bank Sampah
Nilayanti tidak sendiri. Ia menjadi pengelola bank sampah di tempat tinggalnya itu bersama seorang sekretaris dan bendahara. Mereka menyiapkan satu buku besar untuk mencatat berapa berat sampah dan nama warga. Bukunya berisi rekap transaksi harian warga dengan rincian tanggal, nama warga, jenis sampahnya hingga berat sampah. Selain juga mereka bertugas menimbang dan mengumpulkan sampah.
Sampah tersebut disetor ke bank sampah induk setiap bulan. Biasanya, bank sampah induk yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam membuat janji lebih dulu dengan pengelola untuk menjemput sampahnya. “Hari ini tanggal 11 jadwalnya, jadi kami info ke warga. Warga antusias” sambung Nila.

Dalam sebulan, Nilayanti dan warga dapat mengumpulkan 300 hingga 400 kilogram sampah kering seperti botol, ember, plastik dan kardus dari warga. Jenis sampahnya yang bisa didaur ulang.
Bulan lalu misalnya, berat sampahnya mencapai 487 kilogram. Bulan sebelumnya lagi seberar 360 kilogram. Menurut Nila, di daerah lain, sampah-sampah ini bisa diolah menjadi berbagai kerajinan yang bernilai ekonomi. Namun, untuk warga di tempat tinggalnya butuh pelatihan agar bisa diajarkan cara membuat kerajinan dari sampah seperti yang diterapkan di daerah lain.
Menurut Nila, bank sampah ini menjadi salah satu program Pemko Batam yang dibentuk melalui ibu-ibu PKK, Kelurahan dan menjadi bukti partisipasi aktif penggerak masyarakat yang dapat mengubah pola hidup masyarakat sekitar. Di bank sampah RW 13 ini, ada tiga perumahan yakni Delta Villa, Maya Villa dan Villa Sampurna II. “Salah satu tujuannya bersih-bersih rumah kita sendiri dan bermanfaat untuk kita bersama,” tutur Nila.

Bank sampah merupakan wadah terdekat di lingkup tempat tinggal masyarakat untuk mengumpulkan sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Disebut ”bank” karena sistemnya memang menyerupai bank, yakni ada transaksi simpan pinjam. Masyarakat yang miliki sampah yang masih bermanfaat dapat mengumpulkan dan menyerahkannya pada bank sampah.
Semua sampah yang dikumpulkan akan dihargai dengan sejumlah nilai uang berdasarkan jenisnya. Semakin banyak volume sampah yang dikumpulkan, semakin banyak pula uang yang diperoleh. Uang hasil setoran sampah itu terkadang disimpan terlebih dahulu oleh pengelola atau lembaga bank sampah sebagai nilai uang yang ditabung dan dapat diambil sewaktu-waktu.

Target Mengurangi Sampah
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam meminta masyarakat memanfaatkan Program Bank Sampah guna menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Kepala DLH Kota Batam Herman Rozie mengatakan saat ini masyarakat belum begitu meminati Program Bank Sampah karena kurangnya kesadaran terhadap manfaatnya bagi kelestarian lingkungan.
“Karena target pengurangan sampah dari rumah di Batam ini sampai tahun 2025 itu 30 persen, tapi yang terealisasi sampai saat ini baru sekitar 9 persen, masih banyak kurangnya,” ujar Rozie pada Januari 2023.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu melihat dari nilai ekonomis dari bank sampah ini karena memang nilainya yang tidak besar, hanya Rp2 ribu saja per kilo. Tapi masyarakat harus melihat dari manfaat kelestarian lingkungannya.
“Kalau masyarakat ini sadar akan manfaat terhadap kelestarian lingkungan hidup, mudah-mudahan bank sampah ini akan tetap jalan. Tapi kalau berbicara nilai ekonomis, ini akan sulit. Karena ini memang tidak mahal hanya Rp2 ribu per kilo, jadi bukan jumlah kilo nya yang penting, tapi kesadaran kelestarian lingkungannya,” kata dia.
Meski demikian, Rozie menyebutkan bahwa dalam penanganan sampai hingga hari ini pihaknya tetap gencar melakukan sosialisasi Program Bank Sampah ini.
“Untuk Program Bank Sampah, sampai hari ini kami tetap lakukan sosialisasi bersama-sama dengan Wakil Gubernur Kepri di seluruh kecamatan dan kelurahan di Kota Batam,” katanya.
Pihaknya juga sudah menyediakan layanan layanan jemput sampah dan juga memudahkan untuk semua orang membuat bank sampah.
“Tidak ada dipersulit, dimudahkan dan bahkan kami jemput sampahnya. Mereka tinggal menelpon kami saja, ada layanan jemput sampah dari kami,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









