Festival Transmigrasi 2026 di Batam Pamerkan 50 Produk Olahan, Dorong Ekonomi Warga

Festival Transmigrasi 2026 di SP 1 Tanjung Banon, Rempang Eco City, Kota Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (10/10), menjadi ajang promosi sekitar 50 produk olahan pangan dan kerajinan hasil masyarakat transmigrasi dari berbagai wilayah di Sumatera. (foto: engesti/gokepri.com)

BATAM (gokepri.com) – Festival Transmigrasi 2026 di SP 1 Tanjung Banon, Rempang Eco City, Kota Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (10/10), menjadi ajang promosi sekitar 50 produk olahan pangan dan kerajinan hasil masyarakat transmigrasi dari berbagai wilayah di Sumatera.

Produk-produk yang dipamerkan Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru tersebut merupakan hasil pelatihan hilirisasi dan pendampingan masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperluas peluang pemasaran.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pengembangan kawasan transmigrasi harus diikuti aktivitas ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Acara Festival Transmigrasi seperti ini sebenarnya juga adalah pengejawantahan kalau ada aktivitas ekonominya, masyarakat juga akan berbondong-bondong datang kemari,” ujar Iftitah.

Menurut dia, pembangunan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya dengan menyediakan permukiman dan bantuan awal, tetapi juga perlu disertai peningkatan keterampilan, akses pendidikan, serta peluang usaha agar masyarakat mampu mandiri secara ekonomi.

“Intinya, masyarakat harus punya pekerjaan, masyarakat harus punya pendapatan,” katanya.

Dalam pameran tersebut, beragam produk unggulan ditampilkan, mulai dari keripik pisang, olahan ikan, makanan tradisional, kopi, minuman herbal, hingga aneka produk berbahan dasar nanas.

Kawasan Transmigrasi Telang Banyuasin, Sumatera Selatan, misalnya, menghadirkan emping jagung, jamur tiram renyah, keripik pisang Larasa, kerupuk dan stik udang, pisang sale keriting, tepung kelapa, serta minuman herbal berbahan temulawak dan jahe.

Sementara itu, Kawasan Transmigrasi Way Tuba di Lampung menampilkan produk olahan ikan berupa rengginang ikan Fish LL Sikop, abon ikan Tumpah Rasa Sikop, dan kerupuk ikan Bunara.

Dari kawasan Lagita dan UPT Batu Ampar di Bengkulu, pengunjung dapat menemukan keripik tempe Zhafira, kacang keriting, kembang goyang, keripik singkong, dan aneka makanan tradisional.

Ads bp batam 2026 baru

Adapun Kawasan Transmigrasi Rupat dan Barelang menghadirkan keripik singkong Jandes Cingam, Rupat Krimas, Bilis Crispy Barelang, Spinazle, kerupuk ikan tenggiri khas Rempang, peyek Dapur Ma Eza, serta keripik pisang aneka rasa.

Kawasan Transmigrasi Pintu Rime di Aceh turut memamerkan kopi Aceh Gayo. BPPMT Pekanbaru juga memperkenalkan inovasi olahan nanas, seperti sirup Rimbasari Pinesplash, stik nanas, minuman fermentasi tepache, sari nanas Napita, dan keripik nanas.

Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir mengatakan, keikutsertaan dalam festival tersebut tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga menunjukkan potensi kawasan transmigrasi dalam menghasilkan produk olahan bernilai tambah.

Melalui hilirisasi, hasil pertanian dan perikanan yang sebelumnya dijual sebagai bahan mentah dapat diolah menjadi produk siap konsumsi yang berpotensi menjangkau pasar lebih luas.

Sejumlah produk pangan yang dipamerkan telah memiliki sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal.

“Pemenuhan standar tersebut didukung kolaborasi BPPMT Pekanbaru dengan dinas teknis di wilayah binaan, meliputi Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, dan Aceh,” kata dia.

Festival Transmigrasi 2026 juga menjadi bagian dari upaya Kementerian Transmigrasi mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.

Untuk kawasan Tanjung Banon, pengembangan dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat, pendampingan usaha, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi nasional dan internasional.

Salah satu kolaborasi tersebut melibatkan Technical University of Munich (TUM), Jerman, melalui program Summer School. Hasil kajiannya mencakup empat rekomendasi, yakni pengelolaan lahan dengan pendekatan agroforestri, penanganan persoalan lingkungan, penguatan komunitas, dan pengembangan pariwisata bahari.

Sementara itu, Ketua Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) Kawasan Transmigrasi Barelang Vishnu Juwono memaparkan hasil survei terhadap 172 kepala keluarga di Rempang Eco City pada Agustus-September 2026.

Survei tersebut menunjukkan 94 persen responden berencana tetap tinggal di kawasan itu, 87 persen merasa nyaman dan aman, 83 persen menilai pembinaan yang diberikan bermanfaat, serta 64 persen menyatakan kondisi ekonomi keluarga membaik.

Namun, survei yang dilakukan melalui wawancara langsung dari rumah ke rumah itu juga menemukan tantangan ekonomi. Sebanyak 42 persen responden tercatat tidak bekerja, sedangkan 40 persen memiliki pendapatan di bawah Rp1,5 juta.

Tim Ekspedisi Patriot UI melanjutkan pendampingan pada 2026 dengan fokus pada sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satu hasilnya berupa fasilitasi pengurusan nomor induk berusaha (NIB) bagi 20 UMKM setempat.

Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan pengembangan kawasan transmigrasi membutuhkan perencanaan matang, kajian berdasarkan kondisi lapangan, serta keterlibatan aktif masyarakat.

“Agar potensi lokal dapat dikembangkan secara produktif dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan warga,” kata dia.

Penulis: Engesti

Pos terkait