Batam (gokepri.com) – Ekonomi Indonesia tumbuh negatif pada kuartal keempat 2020 bahkan di bawah perkiraan. Pada 2020 ekonomi tertatih-tatih. Untuk pertama kali sejak krisis 1998, ekonomi sepanjang tahun mengalami kontraksi.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat 5 Februari 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia menyusut 2,19 persen berdasarkan periode tahunan sepanjang Oktober-Desember 2020. Jauh lebih rendah dari perkiraan Reuters minus 2% tapi lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang menyentuh minus 3,49%.
“Semua sektor konsumsi pada 2020 masih mengalami kontraksi, kecuali belanja pemerintah. Tapi secara umum, tidak sedalam kuartal 3 atau kuartal 2, yang menandakan ada pemulihan,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam tayangan streaming Youtube, Jumat (5/2) pagi.
Ekonomi Indonesia telah mengalami resesi sepanjang 2020 karena dihadang pandemi Covid-19. Indonesia tercatat memiliki kasus positif tertinggi dan kematian terbanyak akibat Covid-19 di Asia Tenggara.
Pada 2020, ekonomi Indonesia menyusut minus 2,07 persen dibanding 2019 sekaligus untuk pertama kali sepanjang tahun ekonomi kontraksi sejak krisis 1998. Pada 2019, ekonomi Indonesia tumbuh 5%.
Pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh 5% pada 2021 dengan mengandalkan program vaksinasi yang sudah dimulai sejak Januari. Vaksinasi menjadi harapan membangkitkan keyakinan pebisnis dan pemulihan ekonomi.
“Ekonomi tahun ini mengandalkan vaksinasi sebagai pijakan pemulihan,” ujar ekonom senior DBS, Radhika Rao seperti dikutip dari Reuters.
Dia menyampaikan ekonomi Indonesia mesti ditopang dari neraca perdagangan selama net ekspor surplus, pergerakan positif harga komoditas, pengembalian capital inflow dan langkah pemerintah memberikan stimulus tahun ini.
Data BPS menunjukkan, konsumsi rumah tangga menyusut lebih dalam sepanjang tiga bulan terakhir 2020, terkontraksi 3,6% setelah penurunan 4,1% tiga bulan sebelumnya. Untuk diketahui, konsumsi menjadi pendorong utama ekonomi Indonesia dari sektor pengeluaran dengan kontribusi setengah dari PDB.
Menurut Kepala BPS Suhariyanto, pelonggaran PSBB pada akhir 2020 ikut mendorong konsumsi masyarakat terutama bisnis restoran.
Lalu investasi turun 6,2% setelah turun 6,5% pada kuartal sebelumnya. Sedang belanja pemerintah naik 1,8% tapi tetap lebih rendah dari kuartal ketiga 2020 yang mencapai 9,8%.
Kepala BPS menambahkan geliat sektor manufaktur dan ekspor mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada awal 2021.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pekan ini Kemenkeu akan mendorong dukungan fiskal untuk ekonomi 2021 dengan alokasi anggaran Rp692,5 triliun lewat program pemulihan ekonomi nasional (PEN).
(Can)
|Baca Juga:









