BATAM (gokepri.com) – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepri membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Batch I Tahun 2026, Senin, 18 Mei 2026.
Kepala Disnakertrans Kepri Diki Wijaya mengatakan, pelatihan tersebut diikuti sebanyak 60 peserta yang dibekali keterampilan sesuai kebutuhan dunia industri dan pasar kerja di Kepulauan Riau.
“Di awal 2026 ini kami menghadirkan 60 peserta pelatihan berbasis kompetensi, mulai dari menjahit, barista, las welding 3G FCAW hingga pelatihan komputer. Ini kami segerakan melalui BLK agar masyarakat memiliki keterampilan yang siap pakai,” kata Diki.
Ia menjelaskan, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, pihaknya terus berupaya meyakinkan DPRD agar program peningkatan kompetensi tenaga kerja tetap menjadi prioritas demi kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan BLK memiliki dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2025, tingkat serapan lulusan pelatihan BLK mencapai 90 persen masuk ke dunia kerja.
“Harapan kami pada 2026 ini tingkat serapan tenaga kerja bisa meningkat hingga 95 persen,” ujarnya.
Diki mengungkapkan, angka pengangguran di Kepri saat ini masih cukup tinggi, yakni mencapai 6,8 persen atau sekitar 75 ribu orang dari total 1,2 juta angkatan kerja.
Padahal, lanjut dia, Kepri merupakan daerah tujuan investasi dengan tiga kawasan free trade zone (FTZ), 31 kawasan industri berat, kawasan strategis nasional, hingga industri manufaktur yang membutuhkan banyak tenaga kerja terampil.
“Permasalahan hari ini adalah kebutuhan industri belum sepenuhnya bisa dijawab pemerintah. Industri membutuhkan tenaga kerja yang punya kompetensi dan siap kerja,” katanya.
Ia mencontohkan, industri galangan kapal membutuhkan tenaga las dengan kemampuan khusus seperti welding 6G. Karena itu, pihaknya terus melakukan peningkatan kualitas pelatihan dari level 3G menuju 6G agar sesuai kebutuhan industri.
Selain untuk memenuhi kebutuhan industri, pelatihan juga diarahkan untuk mendukung masyarakat yang ingin berwirausaha secara mandiri.
“Banyak juga masyarakat yang ingin usaha sendiri. Contohnya pelatihan las, banyak alumni yang akhirnya membuka usaha sendiri sebagai tukang las,” ujarnya.
Di sektor pariwisata dan food and beverage (F&B), kata dia, kebutuhan tenaga barista juga terus meningkat seiring berkembangnya industri restoran dan kafe di Kepri.
Sementara itu, Wakil Ketua III DPRD Kepri Tengku Afrizal Dahlan mengaku bangga dengan peningkatan fasilitas pelatihan yang kini sudah dapat dimanfaatkan di daerah sendiri.
“Kami sangat bangga karena sebelumnya pelatihan dilakukan di luar daerah, sekarang sudah ada fasilitas yang bisa dimanfaatkan. Upaya pengembangan sumber daya manusia akan terus kami tingkatkan agar masyarakat bisa terbantu dan diterima di dunia kerja,” katanya.
Adapun rincian peserta pelatihan terdiri dari pelatihan dan sertifikasi menjahit sebanyak 16 orang, pelatihan sertifikasi barista 12 orang, pelatihan sertifikasi las 3G SMAW 16 orang, serta pelatihan komputer sebanyak 16 orang dengan total keseluruhan 60 peserta.
Penulis: Engesti









